Menjelang perayaan Deepavali yang jatuh pada 8 November, pasar emas di India menunjukkan dinamika yang tidak biasa. Meski emas tetap menjadi simbol kemakmuran yang sakral dalam tradisi India, lonjakan harga yang signifikan membuat masyarakat kini lebih selektif. Banyak pembeli yang terpaksa mengurangi berat gramasi perhiasan yang mereka beli atau memilih untuk menukarkan emas lama guna mendapatkan potongan harga untuk koleksi baru.
Manish Shinde, salah satu warga Mumbai, menjadi representasi dari tren pasar saat ini. Ia memilih membeli koin emas senilai 700 dolar AS sebagai hadiah untuk menantu perempuannya. Pilihan ini diambil karena fleksibilitas koin emas yang nantinya bisa dilebur kembali untuk dijadikan perhiasan sesuai keinginan. Bagi banyak warga India, membeli emas saat Deepavali bukan sekadar konsumsi, melainkan investasi jangka panjang yang melekat erat dengan identitas budaya.
Secara global, harga emas memang telah sedikit melandai dari rekor tertingginya di angka 5.600 dolar AS per ons pada Januari lalu. Namun, posisi harga yang masih bertahan di kisaran 4.000 dolar AS per ons tetap menjadi beban berat bagi daya beli domestik. Situasi ini diperparah oleh depresiasi nilai tukar rupee terhadap dolar AS yang membuat komoditas impor menjadi lebih mahal bagi konsumen lokal di India.
Pemerintah India sendiri telah mengambil langkah drastis sejak Mei lalu dengan menaikkan bea masuk emas dari 6 persen menjadi 15 persen. Kebijakan ini bertujuan untuk menekan defisit neraca perdagangan dan mengurangi arus keluar devisa yang terus tergerus. Data dari World Gold Council mencatat bahwa pasca kenaikan pajak tersebut, harga fisik emas di India langsung terkerek naik sekitar 4 hingga 6 persen.
Selain faktor kebijakan, ketegangan geopolitik yang melibatkan konflik Amerika Serikat dan Iran turut memicu kenaikan harga minyak mentah global. Sebagai importir minyak besar, India menghadapi tekanan ganda pada tagihan impornya, yang pada akhirnya membatasi ruang fiskal dan daya beli masyarakat kelas menengah. Perdana Menteri Narendra Modi bahkan berulang kali menyerukan agar warganya menunda pembelian emas demi stabilitas devisa negara.
Dampak dari situasi ekonomi ini cukup telak bagi industri perhiasan. World Gold Council memproyeksikan permintaan emas India akan menyentuh level terendah dalam enam tahun terakhir sepanjang 2026. Data kuartal Juli-September menunjukkan penurunan permintaan perhiasan sebesar 20 persen secara berat, menjadi di bawah 100 ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Menariknya, meskipun volume pembelian turun, nilai transaksi justru melonjak. Masyarakat India tercatat menghabiskan 1,49 triliun rupee atau setara 16 miliar dolar AS untuk emas pada periode tersebut, naik 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan bahwa emas tetap menjadi aset yang sangat diminati, terlepas dari kenaikan harga yang tajam.
Bagi pembaca di Indonesia, fenomena di India ini memberikan pelajaran penting mengenai perilaku pasar terhadap instrumen investasi fisik. Indonesia, yang juga memiliki budaya kuat dalam menyimpan emas sebagai tabungan keluarga, seringkali menghadapi kondisi serupa saat harga emas global melonjak. Saat harga naik, masyarakat cenderung beralih ke logam mulia berbentuk batangan atau koin yang memiliki biaya cetak lebih rendah dibandingkan perhiasan rumit.
Aditya Modak, COO dari peritel perhiasan PN Gadgil & Sons, mengamati bahwa pasar tidak lantas berhenti membeli, namun mereka beradaptasi dengan cara yang lebih rasional. Perubahan perilaku ini mencerminkan ketahanan daya beli masyarakat terhadap aset 'safe haven' di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih membayangi pasar negara berkembang.
Optimisme tetap muncul dari sisi industri. Sachin Jain, CEO regional World Gold Council untuk India, menilai bahwa momen Deepavali tahun ini akan menjadi titik balik yang krusial. Menurutnya, level harga saat ini justru dipandang sebagai peluang masuk yang menarik bagi investor yang sebelumnya melewatkan reli harga di awal tahun.
Ke depan, sektor perhiasan di India diperkirakan akan sangat bergantung pada musim pernikahan dan festival akhir tahun. Meskipun harga tinggi akan terus membatasi jumlah gramasi yang dibeli, kegemaran masyarakat India terhadap emas sebagai penyimpan nilai tidak akan mudah luntur. Tren pertukaran emas lama menjadi perhiasan baru diprediksi akan menjadi motor penggerak utama industri retail perhiasan di negara tersebut.
Secara keseluruhan, pasar emas India sedang berada dalam fase konsolidasi. Transformasi dari pembelian perhiasan berat ke arah produk yang lebih ringan atau koin investasi adalah bentuk nyata dari adaptasi konsumen. Bagi pelaku industri, tantangan utama ke depan adalah bagaimana tetap mempertahankan margin keuntungan di tengah fluktuasi harga global dan kebijakan pemerintah yang semakin protektif terhadap cadangan devisa.