Haeran Ryu mengukir namanya dalam sejarah golf wanita dengan menjadi pemain kedua saja dalam musim 2024 yang berhasil meraih dua gelar major, setelah mengalahkan Brooke Henderson dalam playoff mendadak yang penuh drama di Evian Championship, Minggu (14/7) waktu setempat. Pemain asal Korea Selatan itu tampil mengesankan sejak putaran ketiga dengan mencatat skor 60 (11-under par) — skor terendah dalam sejarah major LPGA — untuk memimpin tiga stroke sebelum hari terakhir. Meskipun performa putaran finalnya relatif datar dengan skor 71, Ryu menunjukkan ketahanan mental luar biasa saat menghadapi tekanan besar dari Henderson yang melesat dari ketertinggalan tujuh stroke.
Drama puncak terjadi di lubang ke-18 putaran final. Henderson, juara Evian 2022, memainkan golf terbaik hidupnya di hari Minggu dengan skor 64 (tujuh under par) yang diperindah tiga eagle, termasuk eagle dramatis di lubang terakhir yang memaksa playoff. Kanadawan itu memanfaatkan par-5 ke-18 dengan sempurna: drive ke fairway, approach ke green, dan menyodorkan putt eagle dari jarak sedang untuk menyamakan total 18-under par Ryu. Momen itu membuat penonton di Evian-les-Bains bersorak dan mengubah momentum sepenuhnya.
Di playoff sudden-death yang berlangsung di lubang ke-18 yang sama, nasib berbalik. Henderson mengirimkan drive-nya ke kiri rough yang tebal, memaksa dia untuk lay-up dan menyerah pada par. Ryu, yang drive-nya mendarat di fairway, memanfaatkan peluang dengan approach presisi ke green dan menyodorkan putt birdie untuk mengunci kemenangan. "Ini seperti mimpi yang tidak nyata," ujar Ryu pasca ronde, wajahnya masih sulit menyembunyikan ketidakpercayaan. "Tiga minggu lalu saya belum punya gelar major, kini saya punya dua berturut-turut."
Kemenangan ini membawanya hadiah uang sebesar $1,4 juta (sekitar Rp 22,7 miliar) dan menempatkan Ryu di sisi Nelly Korda sebagai dua satu-satunya pemain yang membagi empat gelar major musim ini. Korda, nomor satu dunia, meraih Chevron Championship dan US Women's Open di awal musim, sebelum absen di Evian karena cedera. Fakta bahwa dua pemain berbeda mendominasi keempat major menunjukkan kedalaman talenta dan ketidakpastian yang menyenangkan di golf wanita saat ini — jauh dari era dominasi satu pemain seperti era Lorena Ochoa atau Inbee Park.
Kisah Ryu semakin menakjubkan mengingat jejaknya di turnamen ini 12 bulan lalu. Di edisi 2023, dia gagal lolos cut (missed cut) — kegagalan yang kini menjadi bahan reflektasi dan motivasi. Performa buruk juga menghantui dia di PGA Frisco 2024 (di mana dia finis ke-61), namun ia bangkit dengan luar biasa di dua major terakhir. Transformasi ini bicara banyak tentang karakter dan sistem pendukung di baliknya, termasuk pelatih dan tim mental yang membantu ia mengelola tekanan panggung besar.
Di balik duel Ryu-Henderson, Aki Iwai hampir mencuri perhatian sebagai calon juara major pertama kali. Pemain Jepang itu berbagi lead dengan Ryu di lubang ke-18 putaran final, namun putt birdie-nya dari jarak dekat meleset ke kiri lubang. Iwai harus puas finis ketiga solo di 18-under, tiga stroke di atas pasangan Ryu-Henderson sebelum playoff. Tiga pemain lain — Miyu Yamashita, Mao Saigo (keduanya Jepang), dan Jin-Hee Im (Korea Selatan) — menempati posisi ke-4 bersama di 15-under, menegaskan dominasi Asia di puncak klasemen.
Anna Nordqvist (Swedia) menjadi pemain Eropa terbaik di posisi ke-7 (13-under), sedangkan duo Inggris Charley Hull dan Lottie Woad — yang sempat memimpin setelah putaran kedua — turun ke posisi bersama ke-10 di 8-under. Woad, amater berusia 20 tahun, menunjukkan potensi besar dengan tampil konsisten di tiga putaran pertama sebelum kesulitan di hari Minggu (skor 76). Penampilan dia menjanjikan masa depan cerah untuk golf Inggris dan Eropa.
Evian Championship, satu-satunya major LPGA yang digelar di benua Eropa, kembali menghadirkan drama klasik di parcours Evian Resort Golf Club yang menuntut presisi tee-to-green dan manajemen lapangan cerdas. Kemenangan Ryu tidak hanya memperkaya galeri trofi Korea Selatan — yang sudah dipenuhi nama-nama besar seperti Se Ri Pak, Inbee Park, dan Ko Jin-young — tapi juga mengirim sinyal kuat: generasi baru golfwan Asia siap mengambil alih kendali panggung global. Bagi penggemar golf Indonesia, kisah ini menjadi inspirasi bahwa ketekunan dan kemampuan bangkit dari kegagalan adalah kunci keberhasilan di tingkat tertinggi.