Olahraga

Guardiola Dekati Azzurri, Tuntutan Gaji Rp340 Miliar Jadi Hambatan

Ringkasan

  • Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) berusaha merekrut Pep Guardiola melatih timnas Azzurri, namun kesenjangan gaji hingga dua kali lipat tawaran membuat negosiasi terancam gagal.

Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) menghadapi kemungkinan besar kegagalan dalam merekrut Pep Guardiola sebagai pelatih timnas Azzurri. Hambatan utamanya bukan soal visi sepak bola, melainkan angka di atas kontrak yang terlalu jauh di antara ekspektasi pelatih dan kemampuan keuangan federasi.

Menurut laporan Gazzetta dello Sport yang dikutip RMC Sport, Guardiola menuntut gaji tahunan sebesar 20 juta euro — dua kali lipat dari 10 juta euro yang disiapkan FIGC. Dalam rupiah, kesenjangan itu mencapai sekitar Rp340 miliar per tahun, asumsi kurs 1 euro setara Rp17.000. Angka itu belum termasuk bonus prestasi dan biaya staf pendamping yang biasanya dibawa Guardiola ke klub baru.

Pencarian pelatih baru Italia memang sudah berlangsung lama sejak Roberto Mancini mundur pada Agustus 2023. Luciano Spalletti yang menggantikannya hanya mengantarkan tim ke 16 besar Euro 2024 sebelum keluar. FIGC kemudian mendekati Carlo Ancelotti, namun mantan pelatih Real Madrid justru memilih tantangan baru di Brasil. Nama Guardiola kemudian muncul sebagai kandidat utama, memperkuat narasi bahwa Italia ingin pelatih berkelas dunia untuk membangun ulang identitas bermain mereka.

Bagi Guardiola, proyek Italia menawarkan hal yang langka: kendali penuh atas filosofi sepak bola sebuah negara. Berbeda di klub di mana ia hanya bertanggung jawab pada satu tim, peran di federasi memungkinkan ia menanamkan gaya bermain posisional ke seluruh lapisan usia — dari U-15 hingga tim senior. Itu proyek jangka panjang yang cocok dengan visi arsitek tiki-taka modern.

Namun komitmen jangka panjang itulah yang jadi beban mental. Guardiola telah berjanji pada keluarga untuk menghentikan rutinitas tekanan tinggi setelah sepuluh tahun di Manchester City. Musim 2023-2024 menutup era dominasi City dengan treble historis, dan pelatih kelahiran Santpedor itu merasa waktunya untuk mundur sejenak. Jika keluarga menolak pindah ke Roma atau Coverciano, Guardiola sudah menegaskan tidak akan memaksa diri.

Di sisi FIGC, presiden Giovanni Malago mencoba bersikap fleksibel. Dalam wawancara Sky Sport Italia, Malago mengakui kesiapan berkompromi soal gaji, namun realistis bahwa kesenjangan 10 juta euro terlalu lebar untuk ditutupi anggaran federasi. Italia bukan klub kaya seperti Manchester City atau PSG yang didanai negara-negara Teluk. FIGC bergantung pada pendapatan komersial, hak siar, dan sponsor — yang semuanya tertekan pasca kegagalan lolos Piala Dunia 2022.

Kendati demikian, keberhasilan Guardiola di City — enam gelar Premier League, dua Champions League, dan dominasi taktis yang mengubah lanskap sepak bola Inggris — membuatnya investasi yang layak diperhitungkan. Jika Italia berhasil merekrutnya, mereka tidak hanya mendapatkan pelatih, tapi metodologi lengkap: periodisasi latihan, rekrutmen pemain berbasis data, hingga budaya menang yang dibangun dari akademi.

Namun realitas keuangan Italia sulit dielakkan. Gaji 20 juta euro akan membuat Guardiola pelatih timnas termahal sejarah, melampaui Didier Deschamps (3,6 juta euro) atau Julian Nagelsmann (4,5 juta euro). Bahkan Roberto Mancini saat memimpin Arab Saudi hanya diperkirakan menerima 25 juta euro — dengan dana negara yang tak terbatas. FIGC tidak punya fleksibilitas itu.

Sementara itu, alternatif lain mulai muncul. Nama seperti Antonio Conte, Maurizio Sarri, hingga Gian Piero Gasperini kembali dibahas di media Italia. Conte memiliki jejak juara di Juventus, Inter, dan Chelsea, meski gajinya juga mahal. Sarri dan Gasperini lebih terjangkau dan paham liga domestik, tapi tidak punya aura global sebanding Guardiola.

Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kasus ini mengingatkan pada dinamika rekrutmen pelatih timnas Garuda. PSSI pernah menghadapi dilema serupa: mengincar nama besar bergengsi versus realitas anggaran dan komitmen jangka panjang. Pelatih seperti Shin Tae-yong dibawa dengan kontrak besar, tapi keberhasilan tidak selalu linier dengan nominal gaji. Faktor kesesuaian budaya, kendali atas pengembangan muda, dan stabilitas manajemen justru lebih menentukan.

Jika Guardiola menolak, Italia akan kembali ke titik nol — mencari pelatih yang sanggup menerima gaji wajar, paham sepak bola Italia, dan bersedia membangun dari bawah. Waktu tidak menunggu. Kualifikasi Piala Dunia 2026 dimulai Maret 2025, dan Azzurri butuh kepastian secepatnya. FIGC harus memutuskan: menunggu keputusan Guardiola yang berisiko gagal, atau bergerak cepat ke kandidat kedua sebelum musim panas berakhir.

Apapun keputusannya, episode ini menunjukkan pergeseran kekuasaan dalam sepak bola modern: pelatih elit kini menuntut kontrol total dan kompensasi setara bintang utama. Federasi-negara yang tidak punya dana tak terbatas harus bijak memilih — antara membayar mahal untuk nama besar, atau berinvestas pada sistem yang bertahan lebih lama dari satu orang pelatih.

Mengapa Ini Penting

Kasus Guardiola-Italia mempertunjukkan kesenjangan ekspektasi gaji pelatih elit versus realitas keuangan federasi-negara — pelajaran krusial bagi PSSI yang sering tergoda nama besar tanpa kalkulasi jangka panjang. Jika Italia gagal merekrut Guardiola, mereka terpaksa membangun sistem dengan pelatih 'kalah nama' tapi lebih berkomitmen, pola yang justru berhasil di Jepang dan Korea Selatan. Bagi Indonesia, ini pengingat bahwa stabilitas manajemen dan keselarasan visi lebih menentukan daripada sekadar gaji fantasi.

Sumber Asli
CNN Indonesia Olahraga
Tanggal
24 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit