Polisi Korea Selatan menggeledah rumah mantan pelatih timnas Korea Selatan Hong Myung Bo dan kantor Federasi Sepak Bola Korea Selatan (KFA) pada Kamis (6/8) untuk menyelidiki proses penunjukan pelatih yang berujung pada kegagalan di Piala Dunia 2026. Penggeledahan ini menjadi babak baru dalam kasus yang telah menyeret Hong dan mantan Ketua KFA Chung Mong Gyu ke hadapan parlemen.
Penggeledahan dilakukan di rumah Hong di Cheonan pada Rabu (5/8), lalu berlanjut ke kantor KFA di Seoul dan Football Hall di Jongno, Seoul pada hari Kamis. Kantor KFA sempat menempati Jongno sebelum pindah ke Cheonan. Polisi menyita sejumlah dokumen yang berkaitan dengan proses seleksi pelatih.
Laporan Chosun menyebutkan polisi menargetkan operasi di KFA untuk menginvestigasi bagaimana Hong Myung Bo ditunjuk sebagai pelatih pada 7 Juli 2024. Penunjukan tersebut sejak awal menuai kritik. Banyak pihak menilai prosesnya tidak transparan dan dipenuhi konflik kepentingan.
Ini merupakan pertama kalinya polisi menginvestigasi KFA terkait pemilihan pelatih. "Polisi menginvestigasi proses penunjukan mantan pelatih tim nasional Korea Selatan, Hong Myung Bo dan menargetkan operasi di KFA," tulis Chosun. Laporan itu juga menegaskan, "Ini jadi pertama kali polisi melakukan investigasi terhadap KFA terkait pemilihan pelatih."
Gagalnya Korea Selatan di Piala Dunia 2026 menjadi pemicu utama. Setelah menang atas Republik Ceko, Taegeuk Warriors kalah dari Meksiko dan Afrika Selatan. Dengan hanya menempati peringkat ketiga Grup A, Korea tersingkir karena kalah dalam perbandingan peringkat ketiga terbaik dari grup lain.
Sebelum penggeledahan, Hong Myung Bo dan Chung Mong Gyu telah dimintai keterangan oleh parlemen. Keduanya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka kepada publik. Namun, permintaan maaf itu tidak menghentikan proses hukum. Polisi terus mendalami proses pemilihan pelatih yang dianggap janggal.
Kasus ini menjadi preseden bagi federasi sepak bola di Asia. Di Indonesia, proses seleksi pelatih timnas juga sering menimbulkan kontroversi, tetapi belum pernah sampai pada penggeledahan oleh aparat hukum. Kritik terhadap PSSI sering muncul ketika hasil tim tidak sesuai harapan.
Bagi Indonesia, pengalaman ini adalah pelajaran penting tentang tata kelola sepak bola. Transparansi dalam memilih pelatih bukan hanya soal kepatuhan, tetapi juga menjaga kepercayaan pemain, sponsor, dan publik. Federasi yang bersih akan lebih mudah mendapat dukungan jangka panjang.
Di sisi lain, tekanan terhadap federasi Korea sangat besar. Kegagalan di Piala Dunia 2026 memicu kemarahan publik yang kemudian berujung pada penyelidikan hukum. Ini menunjukkan bahwa hasil buruk di lapangan bisa berdampak langsung pada manajemen dan kredibilitas federasi.
Jika penyelidikan berlanjut, Hong Myung Bo bisa menghadapi sanksi atau pemecatan. KFA juga berpotensi dipaksa oleh FIFA atau AFC untuk memperbaiki sistem seleksi pelatih. Ini bisa menjadi tolok ukur bagi federasi lain dalam mengelola keputusan strategis.
Ke depan, kasus ini harus menjadi perhatian bagi Indonesia yang sedang membangun sepak bola. Proses seleksi pelatih harus melibatkan kriteria yang independen dan transparan, serta bebas dari intervensi. Sepak bola Indonesia yang sedang berbenah akan lebih dipercaya jika tata kelolanya bersih.
Pada akhirnya, kasus Hong Myung Bo bukan sekadar tentang kegagalan prestasi. Ini tentang bagaimana sebuah federasi mengelola keputusan dan tanggung jawab. Bagi Indonesia, ini adalah pelajaran bahwa integritas adalah fondasi untuk membangun masa depan sepak bola yang lebih baik.