Timnas Putri Indonesia menutup fase grup Piala AFF Wanita 2026 dengan status runner-up Grup B setelah ditahan imbang 1-1 oleh Kamboja di Stadion UiTM, Shah Alam, Malaysia, Kamis (16/7). Hasil tersebut membuat Estella Loupatty dan kawan-kawan mengoleksi empat poin, angka yang sama dengan Kamboja di puncak klasemen.
Kegagalan meraih kemenangan di laga pamungkas membuat Indonesia harus puas di peringkat kedua. Kamboja unggul produktivitas gol sehingga berhak atas posisi teratas. Skuad asuhan Satoru Mochizuki mencatat satu kemenangan dan satu hasil seri, dengan tiga gol dicetak dan satu kebobolan sepanjang penyisihan grup.
Laga melawan Kamboja sejatinya menjadi penentu nasib Indonesia di Grup B. Kemenangan akan membawa Garuda Pertiwi langsung ke puncak dan menghindari tim kuat dari Grup A di semifinal. Namun ketangguhan pertahanan Kamboja serta minimnya konversi peluang di depan gawang membuat Indonesia kehilangan tiket otomatis juara grup.
Turnamen AFF Women's Cup 2026 merupakan ajang kasta kedua di bawah ASEAN Women's Championship. Indonesia datang sebagai juara edisi 2024, namun gagal bersaing di kasta lebih tinggi tahun lalu karena tersisih di babak penyisihan. Penampilan di Malaysia kali ini menjadi ujian konsistensi untuk membuktikan bahwa prestasi sebelumnya bukan sekadar kebetulan.
Komposisi Grup B menunjukkan persaingan yang cukup ketat. Timor Leste menjadi tim yang belum mengambil poin dan berada di dasar klasemen. Sementara itu, Kamboja membukukan empat gol dan dua kebobolan dari satu kemenangan dan satu imbang, cukup untuk mengamankan posisi pertama.
Di Grup A, Singapura keluar sebagai pemuncak dengan empat poin usai menang 3-1 atas tuan rumah Malaysia. Laos menguntit di peringkat kedua dengan dua hasil seri, sedangkan Malaysia gigit jari di posisi buncit setelah gagal menang dalam dua pertandingan beruntun. Hasil ini memastikan Indonesia akan berhadapan dengan Singapura di babak semifinal.
Bagi pecinta sepak bola wanita Tanah Air, langkah ke semifinal membuka peluang mengulang pencapaian edisi sebelumnya. Indonesia pernah menembus partai puncak dan menjadi juara di AFF Women's Cup 2024. Namun, promosi ke turnamen lebih bergengsi langsung menyajikan murungnya performa, sehingga evaluasi menyeluruh atas pola pembinaan mutlak diperlukan.
Dampak lebih jauh dari turnamen ini berkaitan dengan tiket ASEAN Women's Championship 2027. Juara, runner-up, dan peringkat ketiga AFF Women's Cup 2026 berhak melaju ke sana. Sistem ini identik dengan edisi 2024 ketika Indonesia juara dan lolos, namun kemudian tumbang di fase grup saat naik kasta. Kegagalan serupa tidak boleh terulang jika sepak bola putri ingin disegani di Asia Tenggara.
Satoru Mochizuki menekankan pentingnya adaptasi taktik menjelang semifinal. Estella Loupatty diperkirakan kembali memimpin lini serang menghadapi Singapura yang punya organisasi pertahanan rapi. Pertemuan nanti menjadi ujian nyata apakah Indonesia sudah layak kembali ke kasta tertinggi atau masih butuh penyempurnaan.
Singapura membawa modal satu kemenangan dan satu imbang di Grup A. Mereka menunjukkan efektivitas serangan melalui tiga gol ke gawang Malaysia. Indonesia wajib mewaspadai transisi cepat lawan sembari memaksimalkan produktivitas yang kali ini terlihat kurang tajam dibanding Kamboja.
Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa semifinal melawan Singapura bukan sekadar perebutan tiket final. Hasilnya akan menentukan wibawa Garuda Pertiwi di mata federasi regional dan nasional. Jika lolos, Indonesia berpeluang besar mengamankan slot ASEAN Women's Championship 2027 sekaligus memperbaiki rekor buruk saat terakhir naik level.
Tren perkembangan sepak bola wanita di Asia Tenggara mengalami akselerasi pesat. Negara seperti Kamboja dan Laos mulai mengejar ketertinggalan melalui program usia dini. Indonesia harus bergerak cepat dengan infrastruktur dan kompetisi domestik yang stabil agar tidak digeser oleh tetangga yang sebelumnya dianggap di bawah level.