Supersoccer Arena di Kudus, Jawa Tengah, menyaksikan debut mengesankan Garuda Pertiwi di ajang Srikandi Merdeka Cup 2026. Tim asuhan Timo Scheunemann memukul mundur Arab Saudi Putri U-16 dengan skor 7-0, performa yang langsung menempatkan mereka sebagai favorit early bird turnamen persahabatan ini. Kemenangan besar itu bukan hanya soal gol, tapi juga cerminan dominasi fisik dan taktis sejak menit pertama.
Malam sebelum laga, suasana di penginapan tim terasa berbeda. Lantunan ayat keenam Surat Al-Fatihah — "Ihdinash-shirâthal-mustaqîm" — bergema dari salah satu kamar, diiringi beberapa pemain yang baru selesai mengaji berjamaah masih mengenakan mukena. Momen itu mirip dengan ritus Timnas U-17 era Bima Sakti jelang Piala Dunia 2023, di mana salat berjamaah jadi alat pembangun kekompakan wajib dengan sanksi denda bagi pelanggar.
Namun Timo Scheunemann, pelatih keturunan Jerman yang memimpin tim sejak awal 2024, menolak mengikat kebiasaan spiritual itu ke dalam aturan tim. Usai pertandingan, di konferensi pers dia menegaskan bahwa ibadah adalah hak individu. "Itu sesuatu yang menurut saya berbasis pada individu. Dalam arti, [mengaji] itu bagus pasti," ujarnya. Sikap terbuka ini mencerminkan falsafah coaching yang ia bawa: otonomi pemain di luar lapangan, disiplin total di dalamnya.
Perbedaan pendekatan Timo dan Bima Sakti jadi sorotan. Bima, pelatih kelahiran Balikpapan 23 Januari 1977, pernah menerapkan jam tidur wajib dan hukuman bagi yang melewatkan salat berjamaah. Metode itu berhasil membawa Garuda Muda ke panggung dunia, tapi Timo memilih jalur lain. Ia lebih mengutamakan "sikap, cara berpikir, dan bagaimana mereka bisa memberi 100 persen di lapangan. Mereka tidak boleh cepat puas dan harus mau bergaul dengan siapa saja," kata Timo tegas.
Kemenangan 7-0 bukan angka mainan. Indonesia menguasai bola 68 persen, mencetak 22 tembakan ke gawang lawan, dan tidak sekali pun terancam serius. Striker utama, Aulia Arifah, mencetak hat-trick dalam 35 menit pertama. Kedua gol lainnya berasal dari umpan silang presisi putri tengah Sayyida Zahra, sementara dua gol sisanya dicetak lewat bola mati — set-piece yang jadi latihan rutin Timo sejak masa pra-musim di Yogyakarta.
Angka dominasi itu membuktikan sistem 4-3-3 berubah jadi 3-4-3 saat menyerang sudah termakan pemain. Timo mengakui proses adaptasi taktis butuh waktu. "Tiga bulan lalu mereka bingung posisi. Sekarang gerakan off-the-ball sudah otomatis," ucapnya. Kebiasaan latihan intensif pagi-sore di pusat pelatnas Ragunan sejak Juni lalu membuahkan hasil fisik: pemain Indonesia lari lebih banyak 1,2 kilometer rata-rata dibanding lawan.
Di sisi lawan, Arab Saudi Putri U-16 tampak kewalahan menghadapi tekanan tinggi (high press) Indonesia. Pelatih mereka, Khalid Al-Mutairi, mengakui kesenjangan fisik dan pengalaman bermain internasional. "Kami baru membentuk tim enam bulan lalu. Ini turnamen pertama kami keluar negeri," kata Khalid. Kesenjangan itu terlihat jelas di babak kedua: Indonesia tetap menekan meskipun sudah unggul 5-0, mencetak dua gol lagi di menit 78 dan 89.
Turnamen Srikandi Merdeka Cup sendiri diadakan oleh PSSI bekerja sama dengan Kemenpora sebagai bagian persiapan Asian Cup U-17 Putri 2027. Format grup empat tim — Indonesia, Arab Saudi, Malaysia, dan Filipina — memastikan minimal tiga laga uji coba sebelum kualifikasi resmi. Timo memanfaatkan momen ini untuk rotasi pemain: 14 dari 23 pemain mendapatkan menit bermain di laga pembukaan.
Rotasi itu juga uji coba mentalitas. Timo memperkenalkan konsep "leadership group" — lima pemain senior diberi tanggung jawab mengatur suasana locker room dan memastikan junior tidak tersesat. Aulia Arifah, kapten tim, mengaku merasa percaya diri. "Coach Timo bilang, kalau kamu mau jadi pemimpin, jangan suruh orang lain apa yang kamu sendiri tidak lakukan," ceritanya.
Kebijakan terbuka soal ibadah justru dinilai memperkuat kohesi, bukan melemahkannya. Beberapa pemain non-muslim — ada tiga orang di skuad — ikut hadir mendengarkan mengaji malam tadi tanpa merasa tertekan. Satu pemain, Clara Wijaya (Kristen), bahkan membawakan doa bersama versi tim sebelum berangkat ke stadion. "Kami saling menghargai. Itu yang Coach Timo tanamkan: beda keyakinan, satu tim," ujar Clara.
Laga kedua melawan Malaysia pada Minggu (16/8) jadi tes nyata konsistensi. Malaysia kalah 0-4 dari Filipina di laga pembukaan, tapi dikenal fisik tangguh. Timo sudah menyiapkan variasi taktis: mungkin 4-4-2 diamond untuk mengunci tengah lapangan. "Kita tidak mau main reactive. Kita mau tempo," tegasnya. Fokus pada mentalitas — bukan ritual — yang jadi kompas navigasi Garuda Pertiwi menuju panggung Asia.