Sir Garfield 'Garry' Sobers meninggal dunia pada usia 89 tahun dan meninggalkan warisan sebagai all-rounder terbaik dalam sejarah kriket dunia. Pemain asal Barbados yang pernah membela Nottinghamshire itu dikenal mampu melakukan hampir semua peran di atas lapangan, dari memukul, melempar, hingga menangkap bola dengan presisi tinggi.
Sobers terpilih sebagai salah satu dari lima kriket terbaik abad ke-20 berkat karier Test yang berlangsung selama dua dekade. Ia juga mendapat gelar ksatria tak lama setelah pensiun. Di Inggris, nama Sobers diabadikan dalam buku rekor saat menjadi manusia pertama yang memukul enam enam (six sixes) dalam satu over pada pertandingan profesional bersama Nottinghamshire.
Lahir di Bridgetown pada 28 Juli 1936, Sobers kehilangan ayahnya yang bekerja sebagai pelaut dagang ketika ia baru berusia lima tahun akibat Perang Dunia II. Ibunya, Thelma, harus membesarkan enam anak sendirian. Sobers lahir dengan jari ekstra di masing-masing tangan, namun jari tersebut diangkat saat masa kanak-kanak.
Bakat olahraganya mulai mencuat sejak sekolah. Ia masuk kriket klub lokal di usia remaja dan melakukan debut first-class pada umur 16 tahun di Kensington Oval, markas Barbados yang kelak memajang patungnya. Dalam laga perdana itu, Sobers langsung mengambil tujuh wicket dari dua innings untuk tim yang diisi delapan pemain Test.
Empat belas bulan kemudian, Sobers melakukan debut Test sebagai pemain berusia 17 tahun saat Inggris datang ke Jamaika. Ia menggantikan spin bowler utama Windies yang jatuh sakit, lalu mencetak empat wicket di laga perdananya. Posisinya terus naik hingga menjadi batter nomor enam saat Australia bertandang pada 1955.
Puncak awal kariernya terjadi pada 1958 di Sabina Park, Jamaika. Sobers yang masih 21 tahun mencatat 365 not out dan memecahkan rekor skor Test milik Len Hutton yang bertahan sejak 1938. Angka tersebut baru pecah pada 1994. Setelahnya, ia menyumbang lima century tambahan dalam lima Test beruntun.
Di Indonesia, kriket masih tergolong olahraga minoritas meski sudah dimainkan sejak era kolonial. Prestasi Sobers menunjukkan bahwa pola latihan multi-dimensi jauh sebelum istilah itu populer dapat menghasilkan atlet level dunia. Untuk konteks lokal, hal ini relevan dengan upaya Pengurus Pusat Cricket Indonesia membangun pembinaan atlet muda yang tak hanya mahir satu skill.
Dampak Sobers melampaui Karibia. Ia menjadi kapten Windies pada 1965 menggantikan Frank Worrell, dan langsung memimpin kemenangan 3-1 atas Inggris pada 1966 dengan kontribusi 722 run serta 20 wicket. Saat Afrika Selatan diboikot olahraga akibat apartheid, Sobers dipercaya memimpin tim Rest of the World melawan Inggris dan Australia.
Donald Bradman, legenda kriket Australia, memuji century ganda Sobers untuk Rest of the World sebagai performa luar biasa. Bradman bukan sekadar figur biasa, sehingga pengakuan itu menegaskan posisi Sobers di atas rata-rata pemain sezamannya. Sobers juga sempat dikritik karena tampil di Rhodesia pada 1970, namun ia menyampaikan permintaan maaf terbuka.
Ke depan, sosok Sobers akan tetap menjadi standar baku bagi all-rounder modern. Generasi pemain seperti Ben Stokes atau Shakib Al Hasan kerap disandingkan dengannya, namun jarang yang menyamai fleksibilitas melempar tiga gaya berbeda. Bagi penggemar di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, figur ini penting sebagai edukasi sejarah olahraga yang jarang tersentuh media arus utama.
Catatan tragis juga mewarnai karier Sobers ketika kecelakaan mobil di Staffordshire menewaskan rekan setimnya, Collie Smith, pada 1959. Sobers dinyatakan bersalah atas mengemudi ceroboh. Peristiwa itu tak menghapus statusnya sebagai ikon, tetapi menjadi pengingat bahwa bahkan atlet terhebat pun rentan terhadap nasib di luar lapangan.