Duel dua raksasa sepak bola Indonesia itu digelar di hadapan penonton penuh di Gianyar, Bali. Kedua tim tampil dengan susunan terbaik masing-masing, menghadirkan pertemuan taktis yang ketat sejak menit pertama. Persebaya lebih dulu mencetak gol melalui Ramadhan Sananta pada menit ke-20, memanfaatkan umpan terobosan Rachmat Irianto dari sayap kanan. Striker timnas itu lolos dari pengawasan lini belakang Persib dan menembakkan bola ke gawang Teja Paku Alam dengan tenang.
Keunggulan Bajul Ijo hanya bertahan tiga menit. Patricio Matricardi menyamakan kedudukan pada menit ke-23 setelah menerima bola longgar di dalam kotak penalti. Kelengahan pertahanan Persebaya dimanfaatkan penuh oleh bek asal Argentina itu yang menembak keras ke gawang Ernando Ari. Skor 1-1 bertahan hingga istirahat, meski kedua sisi sempat menciptakan peluang berbahaya.
Babak kedua berlangsung lebih bergairah dengan intensitas duel yang meningkat. Persib mendominasi posse di menit-menit akhir dan mendorong Persebaya ke posisi bertahan. Peluang emas hadir pada menit ke-78 ketika Balsa Sekulic melepaskan tembakan dari jarak dekat, namun Ernando Ari berhasil menepis dengan refleks cepat. Di sisi lain, konter Perebaya melalui Malik Risaldi dan Francisco Rivera juga sempat mengancam gawang Teja Paku Alam.
Pertandingan ini menandai kali keempat kedua tim bertemu di final Piala Presiden sejak turnamen dibentuk kembali pada 2015. Persib pernah juara pada 2015 dan 2019, sementara Persebaya menguasai edisi 2017 dan 2019. Sejarah head-to-head di final menunjukkan keseimbangan, dan laga malam ini memperkuat narasi rivalitas yang tak pernah pudar. Kedua pelatih, Bojan Hodak dan Paul Munster, memasang skema 4-2-3-1 yang saling menutupi ruang, menciptakan pertarungan di zona tengah yang sangat fisik.
Kehadiran tiga pemain asing Persib — Matricardi, Gabriel Mutombo, dan Gakuto Notsuda — memberikan stabilitas di lini belakang dan transisi. Sementara Persebaya mengandalkan kekuatan fisik Yuran Fernandes dan kreativitas Risto Mitrevski di midfield. Performa Ramadhan Sananta yang mencetak gol ke-3nya di turnamen ini menegaskan posisinya sebagai penyerang andalan Bajul Ijo musim ini. Di sisi lawan, Matricardi tidak hanya bertahan tapi juga berperan ofensif, menjadi ancaman konstan pada bola mati.
Dari sudut pandang teknis, laga ini menunjukkan kesiapan kedua tim menjelang Liga 1 2026-2027 yang akan dimulai Agustus mendatang. Persib tampil lebih terstruktur dalam membangun serangan dari belakang, ciri khas filosofi Bojan Hodak. Persebaya hingegen lebih bergantung pada transisi cepat dan individualitas pemain sayap. Kedua pendekatan memiliki kelebihan dan kelemahan yang akan diuji di liga panjang.
Faktor kelelahan mulai terlihat jelas di menit-menit akhir babak kedua. Beberapa pemain kedu tim meminta perawatan medis akibat kram. Ini menjadi pertimbangan krusial bagi pelatih saat memasuki babak ekstra waktu 2x15 menit. Substitusi akan menjadi kunci — apakah Hodak akan memasukan pemain segar seperti David da Silva atau Beckham Putra, sementara Munster memiliki opsi Paulo Victor dan Ricky Kambuaya di bangku cadangan.
Piala Presiden tahun ini berperan sebagai barometer kesiapan tim-tim besar sebelum musim kompetisi resmi. Format turnamen yang singkat — hanya empat tim berpartisipasi — memaksa finalis bermain dengan intensitas tinggi sejak laga pembuka. Persib dan Persebaya sama-sama lolos ke final setelah mengalahkan Arema FC dan Borneo FC di semifinal. Jalur mereka ke final menunjukkan konsistensi, namun final ini adalah ujian karakter yang berbeda.
Bagi penggemar, laga ini melampaui sekadar trofi pra-musim. Kebanggaan klub dan supremasi regional antara Jawa Barat dan Jawa Timur selalu melekat pada pertemuan Persib vs Persebaya. Stadion Kapten I Wayan Dipta penuh sesak dengan suporter kedua tim yang saling menggebrak tribun. Atmosfer ini mirip final Liga 1, bukan turnamen persahabatan. Tekanan mental pada pemain muda seperti Kakang Rudianto dan Arief Catur menjadi ujian tambahan.
Hasil ekstra waktu nanti akan menentukan pemegang trofi, namun apa pun hasilnya, kedua tim sudah menunjukkan kualitas juara. Manajemen klub, sponsor, dan stakeholder liga pasti mengamati performa individual dan kolektif dengan teliti. Data tracking GPS, heatmap, dan statistik lanjutan dari laga ini akan menjadi bahan evaluasi untuk persiapan Liga 1. Turnamen ini juga menguji sistem VAR yang diterapkan penuh, dengan beberapa keputusan kritis diverifikasi oleh tim video assistant referee.
Masa depan kedua klub akan bergantung pada bagaimana mereka mengelola momentum pasca-final ini. Kemenangan akan memberikan kepercayaan diri maksimal, kekalahan justru bisa jadi pelajaran berharga sebelum liga berlangsung panjang. Yang pasti, rivalitas klasik ini terus memproduksi drama berkualitas tinggi yang menguntungkan industri sepak bola Indonesia secara keseluruhan — dari rating siaran, penjualan merchandise, hingga minat sponsor baru.