Duel dua raksasa sepak bola Indonesia itu berlangsung sengit sejak menit awal. Kedua tim saling mengunci lini tengah, menciptakan tempo permainan yang kental fisik namun minim peluang berarti di sepuluh menit pertama. Penonton yang memadati tribun Gianyar disuguhkan pertarungan taktis antara skema 4-2-3-1 Persib di bawah pelatih Bojan Hodak dan formasi 4-4-2 Persebaya yang dibimbing Paul Munster.
Kebuntuan pecah pada menit ke-20 melalui aksi cepat sayap kanan Persebaya. Rachmat Irianto mengirimkan umpan terobosan yang tajam ke area bagian depan, disambung Rian Firmansyah yang lari dari posisi bek sayap. Bola tiba di kaki Ramadhan Sananta yang lolos dari pengawasan Gabriel Mutombo dan Patricio Matricardi, lalu striker timnas Indonesia itu menembak keras ke gawang Teja Paku Alam tanpa ampun.
Keunggulan Bajul Ijo hanya bertahan tiga menit. Pada menit ke-23, kelalaian pertahanan Persebaya member celah bagi Patricio Matricardi. Bek Argentina itu menerima bola longgar di tengah kotak penalti, mengontrol dengan tenang, lalu melepaskan tembakan melengkung ke sudut kiri gawang Ernando Ari. Gol perdana Matricardi di final ini membangkitkan semangat skuad Maung Bandung.
Sejak keseimbangan skor tercapai, alur pertandingan beralih ke pertarungan posisi di lini tengah. Guaycochea dan Gakuto Notsuda berusaha mengatur tempo bagi Persib, sementara Risto Mitrevski dan Rachmat Irianto menjawab dengan interupsi fisik dan distribusi cepat ke sayap. Francisco Rivera dan Miguel Pereira sering kali turun membantu pertahanan, membuat Persebaya sulit melancarkan konter berbahaya.
Peluang emas kedua Persib hadir pada menit ke-29 lewat Balsa Sekulic. Montenegro striker itu menerima umpan silang dari Luka Menalo di dalam kotak penalti, namun tembakannya diblok Ernando Ari dengan refleks prima. Tendangan sudut yang nekat pun tidak membuahkan hasil setelah kepala Mutombo meleset ke atas gawang.
Di sisi lawan, Persebaya mencoba mengeksploitasi kecepatan Malik Risaldi di sayap kiri. Bek muda Persib, Kakang Rudianto, mengalami kesulitan menahan lariannya di paruh pertama, memaksa Ikhwan Tanamal sering kali menutup celah di sisi kiri. Namun, finalisasi Risaldi dan Francisco Rivera masih ketinggian, membiarkan Teja Paku Alam relatif tenang di bawah mistar.
Statistik posse menunjukkan Persib sedikit unggul 52% dibanding 48% Persebaya hingga istirahat. Namun, akurasi tendangan ke gawang masih setara: masing-masing tim mencatat tiga tembakan ke sasaran dari total enam upaya. Angka ini mencerminkan ketatnya pertahanan kedua tim dan kesulitan menciptakan peluang jernih di area lawan.
Kedua pelatih terlihat sibuk berdiskusi dengan asisten di bangku cadangan menjelang istirahat. Hodak teramati memberikan arahan pada Adam Alis dan Uilliam Barros untuk lebih sering memotong ke tengah, menciptakan kelebihan numerik di zona final third. Munster tampak menegur Malik Risaldi dan Miguel Pereira, kemungkinan besar soal disiplin taktis dan pemanfaatan ruang di sisi kanan pertahanan Persib.
Sejarah pertemuan kedua tim di final Piala Presiden menambah narasi dramatis pada laga ini. Persib pernah mengalahkan Persebaya di final edisi 2019 lewat adu penalti, sementara Bajul Ijo membalas dendam di final 2022 dengan kemenangan 2-1. Kini, di edisi 2026, mereka bertemu lagi di babak puncak dengan skor imbang yang membuat babak kedua jadi penentu mutlak.
Kondisi fisik akan jadi faktor krusial di 45 menit tersisa. Suhu Gianyar yang relatif sejuk tapi lembab membuat pemain keringat deras. Kedua tim telah melakukan rotasi dini: Persib memasukan Beckham Putra menggantikan Adam Alis yang terlihat kelelahan, sementara Persebaya mengirimkan Paulo Henrique ganti Miguel Pereira untuk menambah variasi serangan.
Babak kedua menjanjikan drama tersendiri. Persib mengandalkan pengalaman Matricardi dan kreativitas Guaycochea untuk membobol benteng Ernando Ari. Persebaya berharap kecepatan Sananta dan Risaldi mengeksploitasi ruang di belakang lini pertahanan Maung Bandung yang cenderung naik tinggi. Siapa yang mampu memanfaatkan kesempatan emas, dia yang akan mengangkat trofi Presiden 2026.