Olahraga

Final Piala Dunia 2026: De La Fuente dan Scaloni, Guru Melawan Murid

Ringkasan

  • Final Piala Dunia 2026 (19/6) mempertemukan Spanyol-Argentina: De la Fuente vs Scaloni, guru vs murid.

Final Piala Dunia 2026 mempertemukan Spanyol dan Argentina pada Minggu (19/6) dalam duel pelatih Luis de la Fuente dan Lionel Scaloni. Pertemuan ini menyajikan dimensi unik karena Scaloni pernah menjadi peserta kursus kepelatihan yang dibimbing langsung oleh De la Fuente di Spanyol.

De la Fuente saat ini berusia 65 tahun dan menukangi tim nasional Spanyol. Lawannya di final, Scaloni, berusia 48 tahun dan merupakan arsitek tim Argentina. Selisih usia dan pengalaman mereka mencerminkan transisi generasi dalam dunia kepelatihan internasional.

Hubungan guru-murid itu bermula pada November 2017. Scaloni mengambil lisensi UEFA Pro di La Ciudad del Futbol, Las Rozas, Madrid. Saat itu De la Fuente bertugas sebagai instruktur federasi sepak bola kerajaan Spanyol atau RFEF.

Scaloni menghabiskan sebagian besar karier sebagai pemain di Spanyol. Ia membela Deportivo La Coruna, Racing Santander, dan Real Mallorca. Istri Scaloni, Elisa Montero, juga orang Spanyol. Hal itu membuatnya akrab dengan sistem sepak bola di negara tersebut.

Pada kursus yang sama, peserta lain dari Argentina antara lain Javier Saviola dan Fernando Redondo. De la Fuente kala itu merupakan pelatih Spanyol U-19 sekaligus pengajar di RFEF. Ikatan antara dia dan Scaloni terjalin, meski keduanya tidak bersifat dekat secara personal.

Bagi pecinta sepak bola Indonesia, final ini menunjukkan betapa pentingnya jalur pendidikan kepelatihan formal. Di tanah air, banyak pelatih masih bergantung pada pengalaman main而不是 sertifikasi terstruktur. Lisensi AFC Pro belum merata di level klub elite sekalipun.

Kualitas guru-murid seperti De la Fuente dan Scaloni jarang terlihat di regional Asia Tenggara. PSSI sudah mewajibkan lisensi bagi pelatih liga, namun mentoring berkelanjutan masih minim. Final Piala Dunia ini bisa jadi contoh nyata bagaimana mentor menghasilkan juara dunia.

Dampaknya bagi penonton Indonesia adalah edukasi bahwa pelatih top lahir dari proses belajar panjang. Tayangan final nanti bukan sekadar taktik, tapi juga sejarah hubungan dua pelatih lintas benua. Ini menambah nilai narasi olahraga global yang dikonsumsi fans lokal.

Scaloni mengenang masa kursusnya menjelang semifinal lalu. "Dia adalah profesor saya, Luis de la Fuente, di kursus kepelatihan," ucapnya dilansir CBS Sports. "Dia banyak membantu kami. Dia orang yang hebat. Saya mendoakan yang terbaik untuknya."

De la Fuente membalas dengan pujian. "Saya beruntung bisa melatih Lionel Scaloni di antara bintang yang ingin jadi pelatih. Kami punya hubungan luar biasa. Dia juara dunia, meski awalnya dipertanyakan karena minim pengalaman," kata pelatih Spanyol itu.

Laga final nanti akan menjadi ujian bagi filosofi De la Fuente yang mengandalkan penguasaan bola. Scaloni membawa Argentina dengan pragmatisme yang memenangkan Piala Dunia 2022. Perbedaan gaya ini berakar pada proses belajar mereka dulu.

Ke depan, hubungan guru-murid di sepak bola profesional diprediksi makin umum seiring regulasi lisensi ketat di Eropa. Indonesia perlu mencontoh lewat program pelatih nasional yang berjenjang. Final 2026 akan meninggalkan catatan tentang pentingnya sang guru di balik sang juara.

Mengapa Ini Penting

Final ini mengedukasi suporter Indonesia bahwa jenjang lisensi dan mentoring formal menentukan kualitas pelatih papan atas. PSSI dan klub lokal dapat mencontoh sistem RFEF yang mempertemukan calon pelatih dengan instruktur berpengalaman. Narasi guru-murid juga menambah daya tarik komersial siaran bagi pemegang hak di Indonesia. Ke depan, pembinaan pelatih berkelanjutan wajib jadi prioritas jika ingin bersaing di level Asia.

Sumber Asli
CNN Indonesia Olahraga
Tanggal
16 Juli 2026
Waktu Baca
3 menit