Sepakbola

FIGC Serius Rekrut Guardiola, Maldini dan Leonardo Terbang ke Spanyol

Ringkasan

  • Federasi Sepakbola Italia (FIGC) mengirim Paolo Maldini dan Leonardo menemui Pep Guardiola di Spanyol untuk menawarkan jabatan pelatih timnas Italia menggantikan Gennaro Gattuso.

Federasi Sepakbola Italia (FIGC) tidak main-main dalam upaya memperbaiki nasib timnas Garuda Biru. Presiden baru John Malago mengirim dua legenda AC Milan, Paolo Maldini dan Leonardo, terbang ke Spanyol untuk menyambangi Pep Guardiola yang sedang menikmati liburan musim panas. Pertemuan itu menandakan keberanian FIGC mendekati nama terbesar di bangku pelatih dunia modern.

Menurut laporan Football Italia, Maldini dalam kapasitas Direktur Teknik dan Leonardo sebagai penasihat teknis merayu Guardiola agar mau memimpin Italia mulai tahun ini. Pelatih Manchester City itu sendiri sempat menolak karena ingin istirahat minimal setahun, namun kabar terbaru menyebut sang manajer asal Katalonia justru tertarik dengan proyek ini. Bola kini ada di tangan Guardiola.

Krisis Italia memang sudah memasuki tahap kritis. Gagal lolos ke Piala Dunia 2026 akan menjadi kegagalan ketiga beruntun — catatan hitam yang tak pernah terbayangkan bagi negara empat kali juara dunia itu. Kegagalan di play-off Piala Dunia 2022 melawan Macedonia Utara menjadi titik terendah, memaksa federasi merombak struktur kepengurusan hingga ke tingkat akar.

Gabriele Gravina yang memimpin FIGC selama lima tahun digantikan Malago, mantan presiden Komite Olimpiade Italia. Langkah pertamanya justru bukan mencari pelatih, tapi menata tim manajemen: Maldini dibawa pulang ke San Siro sebagai Direktur Teknik, sementara Leonardo dikembalikan sebagai penasihat strategis. Keduanya punya jaringan dan kredibilitas yang dihormati di seluruh Eropa.

Pemilihan Guardiola bukan sekadar ambisi berlebihan. Sang pelahir tiki-taka modern memiliki sejarah pribadi dengan sepakbola Italia. Dia sempat membela Brescia di awal 2000-an di bawah bimbingan Carlo Mazzone, pelatih legendaris yang meninggal dunia 2023. Hubungan emosional dengan Mazzone dan kenangan bermain di Serie A menciptakan ikatan yang sulit direplikasi pelatih lain.

Dari sisi taktis, Guardiola menawarkan identitas bermain yang Italia butuhkan. Era Roberto Mancini memang membawa gelar Euro 2020, tapi gaya bermainnya cenderung pragmatis. Luciano Spalletti yang menggantiknya gagal mentranslasikan filosofi Napoli ke level internasional. Guardiola bisa mengembalikan Italia ke puncak dengan sistem berbasis kontrol bola dan tekanan tinggi — gaya yang cocok dengan generasi muda seperti Nicolo Barella, Sandro Tonali, dan Riccardo Calafiori.

Tantangan utama bukan di lapangan, tapi kalender. FIGC menuntut hasil instan: Nations League musim ini, kualifikasi Euro 2028, dan target utama Piala Dunia 2030. Guardiola tidak pernah melatih timnas, dan transisi dari manajemen harian klub ke kamp singkat timnas butuh adaptasi radikal. Dia harus belajar memaksimalkan waktu latihan terbatas dan mengelola ego pemain dari klub-klub rival.

Kontrak yang ditawarkan FIGC dikabarkan mencakup mandat pengembangan pemain muda — tugas yang Guardiola lakukan dengan cemerlang di La Masia dan Manchester City Academy. Italia punya bakat melimpah di tingkat U-21 dan U-19, tapi jalur ke tim senior sering tersendat. Guardiola bisa jadi jembatan yang hilang selama ini.

"Kami tidak mau menunggu lama," ujar sumber dekat FIGC ke Football Italia. "Kami punya jadwal padat dan butuh kepastian secepatnya." Tekanan waktu ini realistis: undian kualifikasi Piala Dunia 2030 akan digelar 2025, dan Italia harus siap sebelum itu. Setiap hari kelewatan berarti keuntungan bagi lawan grup seperti Norwegia, Israel, atau Estonia.

Bagi Guardiola, keputusan ini akan mendefinisikan warisan kariernya. Dia sudah menjuarai segalanya di level klub: Liga Champions, Liga Spanyol, Liga Jerman, Liga Inggris. Gelar Piala Dunia dengan timnas — apapun negaranya — akan melengkapi trofi yang belum pernah diraih manajer manapun dalam sejarah. Italia menawarkan kesempatan unik: negara sepakbola besar yang butuh penyelamat, dengan infrastruktur akademi yang siap dibangun ulang.

Jika Guardiola menolak, FIGC harus cepat beralih ke rencana B. Nama seperti Antonio Conte, Maurizio Sarri, atau bahkan Roberto De Zerbi sudah beredar. Tapi tidak ada yang punya kombinasi prestise, filosofi, dan koneksi emosional seperti Guardiola. Pekan depan akan menentukan apakah sepakbola Italia memasuki era baru, atau terjebak dalam siklus ketidakpastian yang sama.

Mengapa Ini Penting

Perekrutan Guardiola oleh Italia akan mengubah lanskap manajemen timnas Eropa — pertama kalinya pelatih elit klub level City memimpin negara besar. Bagi penggemar Indonesia, ini menegaskan bahwa proyek timnas butuh visi jangka panjang, bukan solusi instan seperti yang sering terjadi di Liga 1. Jika Guardiola sukses, model 'Direktur Teknik legenda + pelahir filosofi modern' bisa jadi referensi PSSI saat merancang regenerasi timnas Garuda.

Sumber Asli
Detik Sepak Bola
Tanggal
20 Juli 2026
Waktu Baca
4 menit