Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) resmi mengumumkan penunjukan Roberto Mancini sebagai pelatih timnas Italia untuk kedua kalinya. Bersamaan dengan itu, Claudio Ranieri, pelatih kawakan, diangkat menjadi direktur teknik. Keputusan ini diumumkan langsung oleh Ketua Umum FIGC Giovanni Malago pada Selasa (28/7) waktu Roma setelah melalui rapat dengan Dewan Federal.
Malago mengungkapkan bahwa Mancini adalah figur tepat untuk memimpin Gli Azzurri di tengah masa sulit. Italia baru saja gagal lolos ke Piala Dunia 2026, kegagalan kedua berturut-turut setelah absen di edisi 2022. Situasi ini menjadi tamparan keras bagi sepak bola Italia yang pernah berjaya di era 2000-an awal.
Mancini sendiri bukanlah pilihan pertama FIGC. Sebelumnya, federasi sempat mendekati Pep Guardiola yang dilaporkan menolak tawaran. Andrea Pirlo juga masuk dalam daftar namun tidak mendapatkan persetujuan dari dewan. Dengan demikian, Mancini menjadi opsi ketiga yang dinilai memiliki rekam jejak mentereng meskipun pernah menorehkan noda dengan gagal membawa Italia ke Piala Dunia 2022.
Karier Mancini bersama Italia sebelumnya sebenarnya gemilang. Ia sukses membawa tim meraih gelar juara Piala Eropa 2020 (yang digelar tahun 2021) dan finis ketiga di UEFA Nations League 2020/2021. Namun kegagalan lolos ke Piala Dunia setelah juara Eropa menjadi luka yang masih membekas. Kini, ia kembali dengan misi membangun ulang skuat yang lebih kompetitif.
Ranieri hadir sebagai pelengkap puzzle yang disebut Malago. Pelatih yang identik dengan keajaiban Leicester City tersebut akan mengemban peran sebagai direktur teknik. Pria berusia 72 tahun itu diharapkan mampu memperbaiki sistem pembinaan usia muda dan filosofi permainan Italia yang mulai tertinggal dibanding negara-negara Eropa lain.
“Saya percaya bahwa orang yang tepat untuk menjadi Pelatih Kepala tim nasional adalah Roberto Mancini, karena berbagai alasan,” kata Malago dalam pernyataan resmi FIGC. “Untuk melengkapi kepingan puzzle, saya merasa tepat untuk mencari seseorang yang dapat diajak berbagi pilihan Kepala Pelatih. Orang itu adalah Claudio Ranieri.”
Kombinasi Mancini dan Ranieri ini mirip dengan struktur manajemen di klub-klub top Eropa. Mancini akan fokus pada tim senior dan hasil-hasil jangka pendek, sementara Ranieri menyusun cetak biru jangka panjang bagi sepak bola Italia. Ini menjadi strategi yang jarang dilakukan federasi Italia sebelumnya.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, pergantian pelatih Italia kerap menjadi tontonan menarik. Banyak yang masih mengingat bagaimana Italia tampil solid di Euro 2020 dan kemudian gagal di kualifikasi Piala Dunia. Kisruh federasi Italia juga bisa menjadi pembelajaran bagi PSSI, terutama soal pentingnya peran direktur teknik yang sering terabaikan. Di Indonesia, posisi direktur teknik belum diisi figur sekaliber Ranieri yang memiliki pengalaman internasional luas.
Dampak langsung dari keputusan ini bisa memengaruhi para pemain keturunan Italia yang bermain di Indonesia atau pemain naturalisasi yang berpotensi membela timnas Indonesia. Namun, yang lebih konkret adalah kepercayaan publik Italia diharapkan kembali pulih jelang kualifikasi Piala Eropa 2028. Mancini dan Ranieri harus menangani tekanan tinggi publik Italia yang menginginkan kesuksesan instan.
Proyeksi ke depan, Mancini akan mulai menyusun tim dengan target kembali berprestasi di Piala Eropa 2028. Ranieri akan merancang kurikulum pembinaan pemain muda agar Italia kembali memiliki generasi emas. Keduanya menghadapi tantangan besar: regenerasi yang stagnan dan minimnya bakat kelas dunia di Italia saat ini. FIGC sendiri sepertinya memberikan kepercayaan penuh kepada duo veteran ini.
Langkah FIGC ini patut diapresiasi. Dengan menempatkan dua figur berpengalaman sekaligus, federasi mengirim sinyal bahwa era mediokritas harus segera berakhir. Kini, semua mata tertuju pada Mancini dan Ranieri. Akankah mereka mampu mengembalikan Italia ke papan atas sepak bola dunia? Jawabannya akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan.