Sepakbola

FIFA Raih Rp269 Triliun dari Piala Dunia 2026, Keuntungan Melonjak Dua Kali Lipat

Ringkasan

  • FIFA mencatat pendapatan rekor 15 miliar dolar AS dari Piala Dunia 2026 di Amerika Utara, melebihi target awal dan menggandakan keuntungan edisi Qatar 2022.

FIFA menutup Piala Dunia 2026 dengan catatan keuangan yang menakjubkan. Badan induk sepakbola dunia diproyeksikan meraup pendapatan sebesar 15 miliar dolar AS, atau setara Rp269 triliun, sepanjang turnamen yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Angka itu melampaui target internal 11 miliar dolar AS dan hampir dua kali lipat keuntungan Piala Dunia 2022 di Qatar yang hanya menyentuh 7,5 miliar dolar AS.

Kenaikan drastis itu didorong oleh perluasan format turnamen. Sepuluh belas tim tambahan — total 48 negara berlaga dibanding 32 di edisi sebelumnya — berarti lebih banyak pertandingan, lebih banyak jam tayang, dan tentu saja lebih banyak inventaris komersial yang bisa dijual. Setiap grup tambahan membuka peluang sponsor baru, hak siar regional, dan paket hospitalitas premium yang menjadi andalan pendapatan FIFA.

Tiket masuk stadion juga memainkan peran besar. Harga tiket resmi memang naik, tapi pasar sekunder justru menjadi mesin uang yang tak terbendung. FIFA mengambil potongan 15 persen dari pembeli dan 15 persen lagi dari penjual di platform resale resmi. Untuk final di New York New Jersey Stadium misalnya, tiket kategori paling murah di pasar sekunder melonjak hingga puluhan ribu dolar. Volume transaksi yang masif mengubah pasar sekunder menjadi kontributor pendapatan yang tak bisa diabaikan.

Ekspansi format 48 tim bukan keputusan murni sportif. Sejak Gianni Infantino menjabat presiden FIFA 2016, komersialisasi turnamen jadi prioritas utama. Lebih banyak tim berarti lebih banyak negara berpartisipasi, yang berarti lebih banyak pemangku kepentingan politik dan komersial yang merasa terwakili. Konfederasi Asia dan Afrika jadi pendukung keras format ini karena slot mereka bertambah signifikan — AFC dari 4,5 jadi 8,5 slot, CAF dari 5 jadi 9,5 slot.

Bagi asosiasi sepakbola nasional, kue yang lebih besar berarti potongan yang lebih tebal. Program FIFA Forward yang mendanai infrastruktur dan pengembangan grassroots di negara-negara berkembang akan mendapat suntikan dana segar. PSSI misalnya, yang selama ini menerima bantuan tahunan sekitar 1-2 juta dolar AS, bisa melihat kenaikan alokasi. Tapi detail mekanisme distribusi belum difinalisasi — dan sejarah menunjukkan dana ini sering terjebak birokrasi atau dialokasikan ke proyek yang tidak tepat sasaran.

Di sisi lain, keuntungan rekor ini memperkuat posisi Amerika Serikat sebagai kandidat utama tuan rumah Piala Dunia 2038. Donald Trump telah terbuka menyatakan keinginan AS jadi host tunggal, mengesampingkan Kanada dan Meksiko. "Anda harus memilih Amerika Serikat lagi," ujarnya usai final. FIFA memang menyukai stabilitas politik dan infrastruktur siap pakai — dua hal yang dimiliki AS berlebihan. Stadion NFL yang tersebar di 50 negara bagian siap dipakai tanpa perlu bangun baru, menghemat miliaran dolar biaya persiapan.

Masalahnya, keberhasilan finansial 2026 justru membuka pintu spekulasi ekspansi lebih lanjut. FIFA tengah mempertimbangkan menambah jumlah peserta Piala Dunia 2030 dari 48 menjadi 64 tim. Alasan resmi: inklusivitas. Alasan nyata: lebih banyak pertandingan berarti lebih banyak inventaris iklan, lebih banyak tiket, lebih banyak data penonton untuk dijual ke sponsor. Jika 48 tim sudah memakan 39 hari kalender, 64 tim akan mendorong turnamen ke area 45-50 hari — beban fisik pemain dan kalender klub semakin tertekan.

FIFPro, serikat pemain profesional global, sudah lama memperingatkan kelelahan. Pemain top level seperti Rodri, Vinicius Jr, atau Jude Bellingham sudah main 60-70 pertandingan per musim. Tambahan Piala Dunia yang lebih panjang tanpa jeda off-season yang memadai adalah resep cedera. FIFA punya dana, tapi pemain punya tubuh yang punya batas. Konflik kepentingan ini akan memanas di tahun-tahun mendatang.

Untuk Indonesia, berita ini punya relevansi ganda. Pertama, sebagai anggota AFC, PSSI berpotensi menerima dana pengembangan yang lebih besar. Kedua, format 48 tim membuka peluang realistis Timnas Garuda lolos ke pesta besar — slot Asia 8,5 berarti peluang naik drastis dibanding era 4,5 slot. Tapi peluang itu hanya bermakna jika pengembangan pemain, liga domestik, dan infrastruktur ikut naik level. Dana FIFA Forward tidak akan otomatis mengubah nasib sepakbola Indonesia tanpa manajemen yang profesional dan transparan.

Kembali ke skala global, rekor 15 miliar dolar AS menegaskan bahwa Piala Dunia sudah berubah dari turnamen olahraga murni menjadi properti media dan hiburan skala planet. FIFA menjual tidak hanya sepakbola, tapi perhatian miliaran orang. Data penonton, perilaku belanja, preferensi konten — semuanya jadi aset yang dimonetisasi. Sponsor seperti Adidas, Coca-Cola, Visa, dan Qatar Airways bayar miliaran dolar bukan untuk logo di papan sisi, tapi untuk akses ke data dan engagement.

Masa depan sepakbola internasional akan ditentukan oleh keseimbangan rapuh antara geledah komersial dan kelestarian sportif. FIFA punya uang, confederations punya suara, klub punya pemain, dan pemain punya tubuh. Siapa yang menentukan aturan main 10 tahun ke depan? Bukan Infantino sendirian, tapi hasil tawar-menawar kekuatan di meja negosiasi yang akan semakin keras. Piala Dunia 2026 membuktikan: format yang lebih besar menghasilkan uang yang lebih banyak. Pertanyaannya, sampai kapan model ini masih berkelanjutan sebelum pecah di titik retaknya?

Mengapa Ini Penting

Rekor pendapatan FIFA Rp269 triliun bukan sekadar angka — ini menandakan pergeseran fundamental di mana sepakbola internasional dikendalikan logika ekstraksi nilai maksimal, bukan kelestarian sportif. Bagi Indonesia, peluang lolos ke Piala Dunia 2030/2034 jadi nyata dengan slot Asia 8,5, tapi dana FIFA Forward yang melonjak hanya bermakna jika PSSI mampu mengelolanya transparan untuk infrastruktur dan pengembangan pemain, bukan tertelan birokrasi. Ekspansi ke 64 tim yang direncanakan akan memperparah krisis kalender dan kelelahan pemain, memaksa negara-negara seperti Indonesia yang punya liga domestik lemah untuk memilih: ikut terjun ke komersialisasi tanpa persiapan, atau bangun fondasi dulu sebelum berambisi besar.

Sumber Asli
Detik Sepak Bola
Tanggal
21 Juli 2026
Waktu Baca
6 menit