FIFA menyelesaikan siklus komersial Piala Dunia 2026 dengan pemasukan fantastis sebesar US$15 miliar, setara Rp268,6 triliun pada kurs terkini. Angka tersebut melonjak tajam dari proyeksi awal yang dikeluarkan setahun lalu, yakni US$8,9 miliar atau sekitar Rp159,3 triliun. Presiden Gianni Infantino mengonfirmasi pencapaian ini pada akhir pekan lalu, menandai salah satu periode paling menguntungkan dalam sejarah induk sepak bola dunia.
Lonjakan pendapatan didorong langsung oleh perubahan format turnamen. Piala Dunia 2026 akan diikuti 48 negara, naik dari 32 peserta edisi sebelumnya, yang berakibat pada penambahan jumlah laga dari 64 menjadi 104 pertandingan. Setiap pertandingan tambahan berarti inventaris iklan baru, hak siar tambahan, dan lebih banyak tiket yang bisa dijual ke pasar global.
Kritik soal potensial penurunan kualitas pertandingan akibat ekspansi justru tidak meredam minat penonton. Data dari Football Benchmark menunjukkan tingkat hunian tiket di setiap laga mencapai 99 persen. Permintaan tetap deras meskipun harga rata-rata melonjak dua kali lipat dibandingkan Piala Dunia Qatar 2022. Tiket yang edisi lalu dibanderol US$220 kini dijual hingga US$575, sementara skema harga dinamis mendorong tiket fase grup tertentu menembus angka US$1.000 per lembar.
Strategi penetapan harga dinamis menjadi kunci pengoptimalan pendapatan. FIFA menerapkan model di mana harga tiket berfluktuasi berdasarkan lawan, lokasi, dan tahap turnamen. Pendekatan ini memungkinkan organisator menangkap surplus konsumen dari pasar yang bersedia membayar premium untuk laga-laga berbintang, sekaligus mengisi tribune untuk pertandingan tim-tim peringkat lebih rendah.
Analis bisnis olahraga Antonio Di Cianni menilai ekspansi format menciptakan siklus vertikal bagi FIFA. "Lebih banyak pertandingan dan tim berpartisipasi berarti lebih banyak inventaris untuk diiklankan dan lebih banyak audiens global yang dijangkau," ujar direktur konsentrasi bisnis olahraga di Sekolah Bisnis Gabelli Fordham. Model ini mengubah Piala Dunia dari sekadar turnamen olahraga menjadi platform media skala masif dengan monetisasi multi-lapis.
Keberhasilan finansial ini memicu spekulasi soal ekspansi lebih lanjut. Isu penambahan kuota menjadi 64 negara untuk edisi mendatang mulai beredar kuat di koridor FIFA. Meskipun format Piala Dunia 2030 belum resmi ditetapkan, tekanan komersial untuk memaksimalkan aset turnamen terbesar dunia semakin nyata. Setiap negara tambahan berpotensi membuka pasar baru, sponsor baru, dan basis penonton baru.
Bagi industri olahraga Indonesia, fenomena ini menawarkan pelajaran strategis. Meskipun Timnas belum pernah lolos ke fase final Piala Dunia, pertumbuhan nilai komersial turnamen ini memengaruhi seluruh ekosistem — dari harga hak siar televisi lokal hingga nilai sponsorship liga domestik. Jika FIFA melanjutkan ekspansi, peluang Indonesia berpartisipasi secara teoritis membuka, namun kualifikasi tetap bergantung pada penguatan sistem pengembangan pemain dan kompetisi nasional.
Di sisi lain, melonjaknya harga tiket menimbulkan pertanyaan serius soal inklusivitas. Pada Piala Dunia 2022, harga tiket kategori termurah untuk warga negara tuan rumah Qatar dijual US$11. Untuk 2026, FIFA belum mengumumkan kebijakan harga subsidi untuk warga negara peserta. Jika tren komersialisasi berlanjut tanpa mekanisme perlindungan penonton grassroots, Piala Dunia berisiko menjadi eksklusif bagi kalangan kaya — menggeser esensi sepak bola sebagai olah rakyat.
Profesor hukum dan etika bisnis olahraga di Universitas Fordham memperkirakan FIFA akan menerapkan pendekatan harga serupa untuk edisi berikutnya. "Turnamen berlangsung di pasar yang berbeda, namun logika komersial tetap sama," katanya. Artinya, penonton Asia Tenggara termasuk Indonesia harus siap menghadapi biaya menonton yang semakin mahal, baik di stadion maupun melalui langganan platform streaming yang pasti akan naik harga hak siarnya.
Secara struktural, rekor pendapatan ini memperkuat posisi FIFA dalam negosiasi hak siar global untuk siklus 2027-2030. Penyiar dan platform digital akan bersaing ketat untuk mengamankan konten yang terbukti menarik audiens masif berbayar tinggi. Bagi Indonesia, ini berarti persaingan hak siar Piala Dunia akan semakin mahal, memaksa broadcaster lokal berkolaborasi atau mencari model pendanaan baru agar tetap bisa menayangkan laga-laga utama.
Jangka panjang, keberhasilan model 48 tim dan 104 laga akan menjadi tolok ukur untuk turnamen besar lain. Konfederasi seperti AFC dan UEFA mungkin meniru format ekspansi untuk kompetisi regional mereka. Untuk sepak bola Indonesia, ini menandakan perlunya reformasi kalender dan format Liga 1 agar sinkron dengan dinamika global — atau berisiko tertinggal dalam rantai nilai komersial olahraga modern.