Olahraga

FIFA Pertimbangkan Ekspansi Piala Dunia 2030 Jadi 64 Tim, Infantino: Beri Kesempatan ke Seluruh Dunia

Ringkasan

  • FIFA mengevaluasi proposal ekspansi Piala Dunia 2030 dari 48 menjadi 64 tim.
  • Presiden Gianni Infantino berpendapat format inklusif memberi kesempatan bagi negara kecil bermimpi, namun kritik soal kualitas kompetisi dan beban pemain tetap muncul.

Presiden FIFA Gianni Infantino mengungkapkan rencana untuk mengevaluasi proposal ekspansi Piala Dunia 2030 dari 48 menjadi 64 tim, sebuah langkah yang jika terealisasi akan mengubah lanskap turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia. Pernyataan ini disampaikan Infantino kepada media Swiss, Bluewin, di tengah berlangsungnya Piala Dunia 2026 yang menjadi edisi pertama dengan format 48 tim. Menurut Infantino, pertemuan komite relevan akan membahas isu ini setelah berakhirnya turnamen di Amerika Utara, menandai awal dari proses pengambilan keputusan yang akan menentukan masa depan kompetisi global.

Ekspansi ini bukanlah konsep baru dalam strategi Infantino. Sejak menjabat pada 2016, ia telah mendorong inklusivitas sebagai pilar utama pengembangan sepak bola global. Piala Dunia 2026 yang digelar di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat menjadi uji coba pertama format 48 tim setelah format 32 tim bertahan selama 24 tahun sejak 1998. Infantino menilai format baru ini sebagai "sukses besar", mengutip data bahwa setiap tim bermain pada tingkat tinggi, tim dari setiap benua mencetak gol dan meraih minimal satu poin, serta sembilan dari sepuluh wakil Afrika lolos ke fase gugur — lonjakan drastis dibandingkan hanya lima tim Afrika di edisi sebelumnya.

Argumen utama Infantino berpusat pada filosofi "memberi kesempatan bermimpi" kepada semua negara. Ia berpendapat bahwa tanpa akses ke panggung terbesar, negara-negara kecil akan kehilangan insentif untuk meningkatkan kualitas sepak bola domestik. Perspektif ini sejalan dengan visi FIFA untuk mengglobalisasi sepak bola di luar genggaman Eropa dan Amerika Selatan yang secara historis mendominasi turnamen. Namun, kritik muncul dari berbagai kalangan yang khawatir ekspansi berlebihan akan melonggarkan kualitas kompetisi, memperpanjang jadwal yang sudah padat, serta menambah beban fisik pemain yang sudah kewalahan dengan kalender penuh.

Piala Dunia 2030 sendiri sudah memiliki format unik sebagai turnamen multi-benua pertama dalam sejarah. Tiga pertandingan pembukaan dijadwal di Uruguay, Argentina, dan Paraguay — masing-masing satu laga — sebagai hommage kepada edisi inaugural 1930 di Montevideo, sebelum turnamen berlanjut di Maroko, Portugal, dan Spanyol. Jika ekspansi 64 tim terealisasi, struktur turnamen akan mengalami perubahan signifikan: ketiga negara Amerika Selatan tersebut berpotensi masing-masing menggelar satu grup empat tim, bukan hanya satu pertandingan pembukaan. Hal ini akan menambah kompleksitas logistik dan keuangan bagi komite penyelenggara yang sudah harus mengoordinasikan enam negara tuan rumah.

Dari perspektif komersial, ekspansi berarti lebih banyak pertandingan, lebih banyak jam tayang, dan potensi pendapatan hak siar serta sponsor yang lebih besar. FIFA telah melaporkan pendapatan rekor untuk siklus 2023-2026, dan format 48 tim di 2026 diperkirakan menghasilkan 104 pertandingan — jauh melampaui 64 laga di format lama. Lonjakan ke 64 tim kemungkinan akan mendorong jumlah pertandingan melebihi 120 laga, menciptakan inventaris konten masif untuk platform streaming dan broadcaster global. Namun, hal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang titik jenuh audiens dan kualitas tayangan.

Bagi sepak bola Asia dan Afrika, ekspansi ini membuka peluang historis. Konfederasi AFC (Asia) dan CAF (Afrika) yang saat ini memiliki slot terbatas akan mendapat alokasi tambahan signifikan. Di Piala Dunia 2026, Asia memperoleh 8,5 slot dan Afrika 9,5 slot — kenaikan drastis dari edisi sebelumnya. Dengan 64 tim, angka ini bisa naik menjadi dua digit penuh, memungkinkan negara-negara seperti Indonesia, Vietnam, atau Uzbekistan yang belum pernah ke Piala Dunia untuk memiliki peluang realistis. Hal ini sejalan dengan narasi Infantino tentang "kualitas tim semakin tinggi di seluruh dunia".

Namun, tantangan teknis dan komersial tidak bisa diabaikan. Penyelenggaraan turnamen 64 tim membutuhkan infrastruktur stadion, transportasi, akomodasi, dan keamanan yang masif. Enam negara tuan rumah 2030 harus berkoordinasi erat untuk memastikan standar seragam di seluruh venue. FIFA juga harus mengatasi kekhawatiran FIFPRO (serikat pemain global) mengenai beban kerja pemain, yang sudah mengancam gugat soal kalender pertandingan yang terlalu padat. Ekspansi lebih lanjut tanpa penyesuaian kalender klub hanya akan memperparah krisis kelelahan atlet.

Keputusan final diharapkan diambil dalam 12-18 bulan ke depan setelah evaluasi menyeluruh dari sisi sportif, komersial, dan operasional. Jika disetujui, Piala Dunia 2030 akan menjadi turnamen terbesar dalam sejarah olahraga, mencerminkan ambisi FIFA untuk benar-benar menjadikan sepak bola sebagai olahraga global yang inklusif. Namun, keberhasilan jangka panjang akan bergantung pada apakah ekspansi ini benar-benar mengembangkan sepak bola di negara-negara berkembang, atau sekadar menciptakan turnamen yang lebih besar tanpa substansi kualitatif yang sebanding.

Mengapa Ini Penting

Ekspansi Piala Dunia ke 64 tim akan mengubah fundamental lanskap sepak bola global dengan membuka peluang historis bagi negara-negara Asia Tenggara seperti Indonesia untuk debut di panggung terbesar. Bagi industri olahraga dan media Indonesia, ini berpotensi menciptakan lonjakan investasi pengembangan bakat, hak siar, dan sponsor lokal. Namun, tantangan infrastruktur dan kalender pertandingan yang sudah kewalahan menuntut manajemen yang cermat agar ekspansi kuantitatif tidak mengorbankan kualitas kompetisi dan kesejahteraan atlet.

Sumber Asli
Al Jazeera
Tanggal
12 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit