ZURICH – Presiden FIFA Gianni Infantino mengonfirmasi bahwa badan pengurus sepak bola dunia akan mempertimbangkan proposal ekspansi peserta Piala Dunia 2030 menjadi 64 tim, melangkah lebih jauh dari format 48 tim yang akan diterapkan pertama kali pada edisi 2026 di Amerika Utara. Pernyataan ini disampaikan Infantino melalui wawancara dengan media Swiss, Bluewin, dan dikutip Sky Sports pada akhir pekan lalu, menandakan ambisi eksekutif FIFA untuk terus memperluas peta partisipasi turnamen paling bergengsi dunia.
Infantino menegaskan bahwa evaluasi resmi terhadap wacana ini akan dimulai segera setelah Piala Dunia 2026 berakhir. "Saat menyelenggarakan turnamen, penting untuk mempertimbangkan tidak hanya Eropa dan Amerika Selatan, tetapi seluruh dunia," ujarnya. Argumen utamanya berlandaskan pada prinsip inklusivitas: setiap negara, terlepas dari peringkat atau sejarah sepak bola, berhak mendapat kesempatan mewujudkan mimpi tampil di panggung terbesar. Retorika ini konsisten dengan narasi Infantino sejak menjabat 2016, di mana ia mendorong demokratisasi akses turnamen global.
Format 48 tim untuk Piala Dunia 2026 sendiri sudah merupakan lompatan signifikan dari 32 tim yang bertahan sejak 1998. Sistem baru memperkenalkan 16 grup masing-masing tiga tim, dengan dua teratas lolos ke babak 32 besar, disertai mekanisme lolos untuk peringkat ketiga terbaik. Infantino mengklaim format ini telah terbukti sukses bahkan sebelum digulirkan, merujuk pada data turnamen usia muda dan futsal terakhir di mana tim dari semua benua mencetak gol, meraih poin, dan menunjukkan daya saing tinggi. Ia menyoroti fakta bahwa sembilan dari sepuluh representatif Afrika lolos ke fase gugur pada kompetisi relevan sebagai bukti efektivitas perluasan kuota.
Namun, proposal 64 tim segera memicu perdebatan tajam di kalangan stakeholders. Para kritikus, termasuk manajer klub elit dan konfederasi regional seperti UEFA, khawatir akan kelebihan jadwal (fixture congestion) yang sudah mengancam kesehatan pemain. Ekspansi ke 64 tim berarti minimal 128 pertandingan – dua kali lipat edisi 2022 – memerlukan durasi turnamen hingga enam minggu dan beban fisik ekstrem. Dari sisi komersial, meskipun potensi pendapatan hak siar dan sponsor melonjak, risiko penipisan kualitas pertandingan dan kelelahan penonton juga menjadi perhitungan serius.
Bagi sepak bola Asia dan Indonesia secara spesifik, kebijakan ini membuka peluang historis. Alokasi slot tambahan kemungkinan besar akan menguntungkan konfederasi AFC, yang saat ini hanya memiliki 4,5 slot untuk 2026. Jika proporsi dipertahankan, Asia bisa memperoleh 8 hingga 9 tiket langsung, mendekatkan mimpi Timnas Garuda ke panggung dunia. PSSI dan Liga 1 harus mempersiapkan ekosistem pengembangan pemain, infrastruktur, dan kompetisi domestik yang lebih ketat untuk memanfaatkan jendela kesempatan ini.
Secara politik, langkah Infantino juga dibaca sebagai upaya mengamankan basis suara untuk masa jabatannya atau mewariskan warisan ekspansi. Dengan 211 asosiasi anggota FIFA, mayoritas berasal dari negara-negara berkembang yang belum pernah atau jarang lolos Piala Dunia. Memberikan harapan realistis bagi mayoritas ini memperkuat legitimasi kepemimpinan di tengah tekanan reformasi tata kelola dan skandal korupsi masa lalu.
FIFA belum menetapkan format teknis pasti untuk 64 tim – apakah akan kembali ke sistem grup empat tim dengan 16 grup, atau menciptakan format hibrid baru. Keputusan final diharapkan jatuh pada Kongres FIFA 2025 atau 2026 setelah studi kelayakan komprehensif mencakup aspek medis, logistik, komersial, dan sportif. Sepak bola dunia menunggu apakah "Piala Dunia yang Benar-Benar Global" akan menjadi realitas atau ambisi berlebihan yang mengorbankan esensi kompetisi.
Di tengah pro dan kontra, satu hal jelas: roda perubahan struktur turnamen terbesar dunia terus berputar. Indonesia, sebagai pasar sepak bola terbesar Asia Tenggara dengan populasi 270 juta, harus bersiap bukan hanya sebagai penonton, tapi sebagai kontender potensial. Era baru Piala Dunia menuntut profesionalisasi menyeluruh – dari akademi muda, sistem liga, hingga manajemen federasi – agar peluang emas 2030 tidak terlewat begitu saja.