FIFA akan melanggar regulasi sepak bola internasional jika menjalankan rencana menggelar pertunjukan hiburan berdurasi 30 menit pada jeda babak pertama final Piala Dunia 2026. Rencana tersebut diungkap oleh panitia pelaksana turnamen melalui laporan The Times, yang meniru format konser jeda Super Bowl di Amerika Serikat.
Aturan IFAB, otoritas pembuat hukum sepak bola, membatasi istirahat antarbabak pertama maksimal 15 menit. Ketentuan itu juga hanya mengizinkan tambahan satu menit untuk jeda minum ketika pertandingan masuk babak tambahan. Dengan perkiraan durasi konser mencapai 30 menit, selisih waktu menjadi persoalan hukum bagi penyelenggara.
Ide menghadirkan pertunjukan besar di tengah laga bukan hal asing di benua Amerika. Super Bowl telah lama menjadikan jeda babak pertama sebagai panggung hiburan kelas dunia yang ditonton jutaan orang di luar penggemar olahraga. Panitia Piala Dunia 2026, yang sebagian besar pertandingan final kemungkinan digelar di Amerika Serikat, ingin memadukan euforia sepak bola dengan industri musik global.
Langkah ini didorong oleh motivi komersial dan upaya perluasan audiens. FIFA menyadari bahwa pertandingan final merupakan momen paling menguntungkan untuk menarik perhatian penonton non-tradisional sekaligus menggenjot pendapatan hak siar serta sponsor. Kehadiran bintang pop di atas lapangan menjadi strategi menjangkau demografi muda yang lebih menyukai konten digital daripada pertandingan 90 menit.
Nama-nama yang sudah masuk daftar penampil antara lain Justin Bieber, Shakira, Madonna, dan grup K-pop BTS. Vokalis Coldplay, Chris Martin, ditunjuk sebagai kurator acara tersebut. Sebelum peluit akhir babak pertama, seremoni penutupan juga akan menampilkan Laura Pausini, Nicole Scherzinger, Robbie Williams, serta kreator konten IShowSpeed. Aktor Hollywood Tom Cruise dan penyanyi Jennifer Hudson, yang akan membawakan lagu kebangsaan AS, melengkapi daftar kolaborasi hiburan dan olahraga.
Pelanggaran terhadap batas waktu jeda bukan sekadar masalah administratif. Bagi pemain, istirahat yang terlalu panjang dapat mengganggu ritme tubuh dan fokus mental setelah kembali dari ruang ganti. Pelatih profesional umumnya menyiapkan program pemanasan singkat jika jeda melewati batas normal, yang berpotensi menambah risiko cedera bila tidak dikelola dengan baik.
Di Indonesia, federasi PSSI mengadopsi peraturan IFAB sebagai rujukan resmi kompetisi domestik. Artinya, Liga 1 atau ajang lain di tanah air tidak dapat meniru format konser jeda berdurasi panjang tanpa mendapat sanksi dari badan disciplin. Namun, dari sisi penyiaran, stasiun televisi dan platform streaming lokal justru melihat peluang memperpanjang slot iklan serta menyiapkan konten interaktif selama jeda panjang tersebut.
Sebagai portal teknologi, kami melihat dampak langsung pada infrastruktur penyiaran digital. Jutaan penggemar di Indonesia diperkirakan mengakses final melalui layanan streaming seluler. Konser jeda yang berlangsung 30 menit akan memicu lonjakan trafik data saat penonton beralih ke media sosial atau fitur augmented reality yang disediakan aplikasi. Produsen ponsel dan operator telekomunikasi lokal perlu menyiapkan bandwidth agar pengalaman menonton tidak terputus.
IFAB secara eksplisit menegaskan bahwa waktu istirahat antarbabak pertama tidak boleh lebih dari 15 menit, dengan toleransi satu menit untuk minum pada babak tambahan. Peraturan tersebut dirancang untuk menjaga kontinuitas pertandingan dan mencegah manipulasi waktu oleh tim peserta. Pelanggaran terang-terangan akan memunculkan preseden buruk bagi integritas kompetisi tingkat atas.
Laporan The Times menyebutkan bahwa panitia memproyeksikan durasi konser mencapai 30 menit demi mengakomodasi banyaknya bintang tamu. Angka tersebut berlipat ganda dari batas resmi dan belum termasuk waktu seremoni pembukaan serta penutupan yang sudah direncanakan terpisah. Ketidaksesuaian ini membuat FIFA berada di posisi rawan sengketa regulasi.
Menghadapi dilema tersebut, FIFA berpotensi mengajukan dispensasi khusus kepada IFAB sebelum turnamen dimulai. Opsi lain adalah mengeksekusi konser sebagai bagian dari acara ekstra di luar waktu resmi pertandingan, misalnya dengan menunda kembali babak kedua secara informal. Namun, setiap langkah yang ambigu akan diawasi ketat asosiasi sepak bola nasional dan internasional.
Ke depan, benturan antara hiburan massa dan regulasi olahraga tradisional akan semakin sering terjadi seiring globalisasi event. Indonesia sebagai pasar konsumsi digital terbesar di Asia Tenggara dapat mengambil pelajaran tentang bagaimana mengemas pertunjukan selang waktu tanpa melanggar hukum permainan. Inovasi teknologi penyiaran dan kreativitas industri kreatif lokal menjadi kunci jika suatu hari Liga 1 ingin menghadirkan konsep serupa secara legal.