FIFA ASEAN Cup 2026 yang dijadwalkan digelar di Indonesia semakin terancam pembatalan akibat keterlibatan politik sepak bola internasional. Mundurnya India dari ajang ini menjadi sinyal kuat bahwa tekanan antar-konfederasi semakin memanas. Federasi sepak bola India (AIFF) secara resmi membatalkan keikutsertaan pada Rabu (12/8), menyampaikan bahwa keputusan tersebut terkait dengan jadwal uji coba melawan Brasil yang baru tercapai awal Agustus.
Konflik ini berakar dari penolakan Presiden FIFA Gianni Infantino untuk mundur setelah tuntutan terbuka dari UEFA, AFC, dan CONCACAF. Ketiganya mengancam akan menarik diri dari seluruh kegiatan FIFA jika Infantino tak melepas posisinya. Ancaman tersebut langsung menyentuh FIFA ASEAN Cup, yang menjadi salah satu program terdekat yang diluncurkan di bawah kepemimpinannya.
Laga antara AFC dan FIFA semakin panas sejak India disebut-sebut sebagai mitra strategis AFC dalam menantang otoritas FIFA. Namun, bukan semua anggota ASEAN sepak sama pendapat. Federasi-federasi sepak bola di kawasan ini justru terpecah antara dukungan kepada AFC atau tetap setia pada FIFA.
Indonesia, Filipina, dan Timor Leste secara terbuka mendukung sikap Infantino, berbeda dengan posisi sejumlah negara lain yang lebih condong ke AFC. Perbedaan pandangan ini mencerminkan kompleksitas dinamika politik dalam struktur sepak bola global, terutama ketika FIFA mencoba memperluas pengaruhnya ke kawasan ASEAN melalui inisiatif seperti ASEAN Cup.
FIFA ASEAN Cup sendiri memiliki latar belakang politik yang tidak bisa dipisahkan dari kebijakan pertandingannya. Ajang ini digelar bukan hanya sebagai kompetisi teknis, tetapi juga sebagai simbol upaya FIFA untuk memperkuat jaringan pengaruhnya di wilayah yang tradisionalnya berada di bawah naungan AFC.
Dengan mundurnya India, peluang pengganti pun terbatas. Banyak negara telah menetapkan jadwal pertandingan persahabatan dalam periode September hingga Oktober 2026, sehingga sulit bagi federasi lain untuk menyesuaikan diri secara cepat. Ini menambah tekanan pada AFF untuk menemukan solusi alternatif agar ajang tetap berjalan.
Sementara itu, tekanan dari konfederasi lain seperti UEFA dan CONCACAF justru semakin mengikis dukungan bagi kebijakan Infantino. Mereka menilai gaya kepemimpinannya bersifat otoriter dan merusak keseimbangan demokrasi dalam sepak bola global.
Beberapa sumber dekat mengatakan bahwa tekanan ini bisa berdampak langsung pada kualitas kompetisi. Jika konflik berlanjut, banyak pemain bintang dari negara-negara besar mungkin enggan tampil karena pertimbangan politik, bukan teknis. Hal ini tentu menurunkan nilai jual ajang tersebut di mata sponsor dan penonton.
Namun, tidak semua pihak ingin konflik berlanjut. Sumber dari AFC menyatakan bahwa langkah-langkah diplomasi sedang digali untuk menemukan titik temu yang dapat diterima semua belah pihak. "Kami ingin menjaga stabilitas sepak bola dunia," kata salah seorang pejabat tinggi AFC. "Konflik politik tidak boleh mengorbankan penggemar dan atlet."
Dari sudut pandang Indonesia, situasi ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Sebagai tuan rumah, Indonesia dituntut untuk menjaga netralitas sambil tetap menjaga komitmen terhadap FIFA. Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) belum merilis pernyataan resmi terkait perkembangan ini, namun sumber internal menyeikan bahwa pemerintah sedang koordinasi dengan berbagai pihak untuk menilai dampaknya.
Sementara itu, Presiden Federasi Sepak Bola Indonesia (PSSI) belum memberikan pernyataan tertulis. Beberapa pengamat sepak bola menilai bahwa kebingungan komunikasi antara pihak berwenang dan federasi bisa memicu ketidakpastian lebih lanjut, terutama jika tekanan dari luar terus memadat.
Menilik sejarah, kompetisi regional seperti ASEAN Cup pernah mengalami guncangan akibat konflik internal. Namun, ajang ini selalu pulih karena dukungan kuat dari komunitas sepak bola lokal. Apakah kali ini pun demikian tergantung pada kemampuan semua pihak untuk menemukan jalan keluar yang konstuktif.
Jika akhirnya ajang dibatalkan, dampaknya akan terasa tidak hanya pada kalender kompetisi, tetapi juga pada ekonomi lokal. Banyak UMKM di sekitar stadion dan perekonomian kreatif terkait olahraga akan kehilangan sumber pendapatan tambahan selama beberapa bulan ke depan.
Di sisi lain, adanya ketidakpastian ini juga bisa memicu restrukturisasi dalam organisasi sepak bola global. Tekanan dari berbagai belah pihak akhirnya bisa mendorong reformasi yang lebih inklusif dan transparan, asalkan semua pihak tetap berkomitmen pada kepentingan utama: pengembangan sepak bola yang adil dan berkelanjutan.