Stadion Utama Gelora Bung Karno yang biasanya bergemuruh dengan dukungan penuh, kini menyisakan aroma kekecewaan. Hasil imbang 0-0 saat menjamu Malaysia dalam laga FIFA ASEAN Cup 2026, Senin (28/9/2026), menjadi puncak dari akumulasi ketidakpuasan publik terhadap performa Timnas Indonesia di bawah asuhan John Herdman. Sepanjang pertandingan, Skuad Garuda kesulitan menciptakan peluang berarti, bahkan harus bertahan total setelah Thom Haye diganjar kartu merah pada menit ke-37.
Sorakan penonton yang menggema di akhir laga bukan lagi bentuk apresiasi, melainkan bentuk protes nyata. Nama Shin Tae-yong diteriakkan berulang kali oleh suporter, sebuah sinyal kuat bahwa memori kolektif publik terhadap era keemasan pelatih asal Korea Selatan tersebut masih sangat melekat. Bagi suporter, Herdman kini berada di titik nadir kepercayaan.
Padahal, awal kedatangan Herdman sempat memberikan oase segar bagi sepak bola nasional. Debut manis dengan kemenangan telak 4-0 atas Saint Kitts & Nevis sempat memicu optimisme tinggi. Namun, statistik 10 pertandingan yang telah dilakoni di bawah arahannya—dengan catatan enam kemenangan, dua imbang, dan dua kekalahan—terasa tidak cukup untuk menutupi minimnya identitas taktik yang ditampilkan di lapangan.
Kritik tajam mulai mengemuka sejak kegagalan Indonesia di ajang Piala AFF 2026. Meski bermaterikan pemain-pemain kelas wahid, tim Merah Putih justru gagal menembus semifinal. Ketidakmampuan Herdman mengoptimalkan potensi skuad menjadi sorotan utama, terutama setelah kekalahan memalukan 0-3 dari Vietnam pada Agustus lalu.
Jika ditarik ke belakang, kegelisahan suporter ini berakar dari keputusan PSSI yang mengganti Shin Tae-yong dengan Patrick Kluivert, yang berujung pada kegagalan Indonesia menembus putaran final Piala Dunia 2026. Warisan Shin Tae-yong yang mampu membawa Indonesia lolos ke babak 16 besar Piala Asia 2023 dan menaklukkan Arab Saudi, kini menjadi standar pembanding yang sulit dicapai oleh suporter saat melihat permainan tim yang dianggap jalan di tempat.
Bagi industri sepak bola Indonesia, situasi ini menjadi peringatan keras bagi PSSI dalam menentukan arah kepelatihan. Fenomena ini membuktikan bahwa suporter Indonesia kini jauh lebih kritis dan tidak mudah terbuai oleh nama besar pelatih asing. Mereka menuntut progresivitas taktik yang selaras dengan kualitas materi pemain yang semakin meningkat.
Dampak dari tren negatif ini tidak hanya mengancam posisi Herdman secara personal, tetapi juga berpotensi mengganggu stabilitas psikologis para pemain. Kepercayaan diri tim yang menurun akibat tekanan publik dapat memengaruhi performa di laga-laga krusial mendatang. Atmosfer stadion yang tidak lagi ramah akan menjadi beban mental tambahan bagi pemain.
Secara teknis, permainan yang minim skema serangan variatif membuat Indonesia mudah dibaca oleh lawan. Kekalahan telak dari Vietnam dan kebuntuan melawan Malaysia menunjukkan adanya celah besar dalam organisasi permainan yang belum mampu ditambal oleh staf pelatih. Evaluasi menyeluruh menjadi hal yang mendesak sebelum kerusakan reputasi timnas semakin dalam.
Nasib Herdman kini berada di ujung tanduk. Laga kontra Bangladesh di FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi pembuktian terakhir. PSSI dituntut untuk tidak lagi berkompromi dengan hasil medioker yang terus berulang. Keberhasilan menembus final atau menjuarai turnamen menjadi syarat mutlak untuk meredam desakan pemecatan yang kian nyaring terdengar.
Di masa depan, PSSI perlu melakukan refleksi mendalam mengenai profil pelatih yang dibutuhkan oleh karakteristik pemain Indonesia. Kebutuhan akan pelatih yang tidak hanya memiliki reputasi, tetapi juga memahami dinamika emosional sepak bola di tanah air, menjadi pekerjaan rumah yang sangat krusial. Sepak bola Indonesia tidak bisa lagi sekadar bereksperimen dengan pelatih yang gagal beradaptasi dengan ekspektasi tinggi publik.
Kehilangan dukungan suporter adalah kerugian besar bagi tim nasional. Tanpa sinergi antara pelatih, pemain, dan pendukung, sulit bagi Indonesia untuk melangkah maju di pentas internasional. Kini, bola berada di kaki PSSI: melakukan evaluasi tegas atau membiarkan fase bulan madu yang telah berakhir ini berubah menjadi perpisahan yang pahit.