Asosiasi Sepak Bola Malaysia (FAM) kini tengah membidik pelatih timnas Jepang, Hajime Moriyasu, untuk menahkodai Harimau Malaya. Langkah strategis ini diambil sebagai bagian dari rencana jangka panjang Malaysia demi menembus putaran final Piala Dunia 2030, sebuah target ambisius yang menuntut standar kepelatihan kelas dunia.
Kabar ketertarikan FAM terhadap Moriyasu pertama kali menyeruak melalui laporan media asing, termasuk portal Sakanowa asal Jepang dan media Vietnam, Tien Phong. Nama Moriyasu mencuat sebagai kandidat utama di tengah upaya Malaysia melakukan perombakan besar-besaran dalam struktur kepelatihan mereka.
Saat ini, kursi kepelatihan timnas Malaysia masih diisi oleh Tan Cheng Hoe yang bertindak sebagai pelatih sementara. Situasi ini memberikan ruang bagi FAM untuk melakukan evaluasi menyeluruh sebelum menentukan sosok permanen yang dianggap mampu mengangkat performa Arif Aiman dan rekan-rekannya di level internasional.
Hajime Moriyasu sendiri telah menjadi sosok sentral di balik kebangkitan sepak bola Jepang sejak tahun 2018. Pengalamannya membawa Samurai Biru tampil konsisten di panggung dunia menjadi daya tarik utama bagi federasi sepak bola di kawasan Asia Tenggara, termasuk Malaysia yang ingin mengadopsi standar profesionalisme Jepang.
Beberapa laporan menyebutkan bahwa Moriyasu diprediksi akan menyelesaikan masa tugasnya bersama Jepang setelah gelaran Piala Asia 2027. Momen berakhirnya kontrak tersebut menjadi celah bagi FAM untuk melakukan pendekatan resmi, meskipun hingga saat ini belum ada langkah konkret yang diambil oleh pihak asosiasi.
Presiden FAM, Datuk Ab Ghani Hassan, memilih untuk tetap tenang merespons rumor yang beredar di publik. Ia menegaskan bahwa pihak federasi belum melakukan tindakan formal apa pun terkait perekrutan pelatih asing, termasuk Moriyasu, namun mengakui bahwa isu tersebut akan dibahas lebih mendalam dalam rapat internal.
Perombakan di tubuh timnas Malaysia ini tidak terlepas dari rencana pembentukan komite eksekutif baru yang akan menentukan arah masa depan sepak bola negara tersebut. Keputusan mengenai siapa yang akan memimpin tim nasional ke depan sepenuhnya berada di tangan komite ini, bukan keputusan tunggal dari presiden federasi.
Bagi publik sepak bola Indonesia, manuver Malaysia ini tentu menjadi sinyal persaingan yang semakin ketat di kawasan Asia Tenggara. Jika Malaysia berhasil mendatangkan pelatih sekaliber Moriyasu, peta kekuatan sepak bola regional diprediksi akan mengalami pergeseran signifikan yang menuntut Indonesia untuk terus meningkatkan kualitas kompetisi dan tim nasionalnya.
Indonesia sendiri saat ini telah menempuh jalur pengembangan dengan pelatih asing yang memiliki reputasi global. Perbandingan antara strategi Malaysia dan Indonesia dalam mencari nakhoda timnas menunjukkan bahwa negara-negara ASEAN mulai meninggalkan pendekatan tradisional dan beralih ke manajemen sepak bola berbasis data serta pengalaman internasional.
Datuk Ab Ghani Hassan menekankan bahwa meskipun FAM tertarik pada pelatih asing dengan rekam jejak mentereng, mereka tetap tidak menutup pintu bagi pelatih lokal. Prioritas utamanya tetap pada hasil akhir dan kemampuan pelatih tersebut dalam menerjemahkan target jangka panjang federasi ke dalam performa di atas lapangan.
Proyeksi ke depan menunjukkan bahwa FAM tengah berada di persimpangan jalan krusial. Mereka membutuhkan sosok yang tidak hanya ahli dalam taktik, tetapi juga memahami dinamika sepak bola Asia yang sangat kompetitif. Keberhasilan atau kegagalan dalam perekrutan ini akan menentukan nasib Malaysia dalam upaya mereka mengejar tiket Piala Dunia 2030.
Industri sepak bola Asia kini sedang bergerak menuju profesionalisasi yang lebih ketat, di mana pelatih dengan jam terbang tinggi seperti Moriyasu menjadi komoditas berharga. Malaysia sedang mencoba peruntungan mereka untuk menarik figur tersebut, sebuah langkah berani yang akan terus dipantau oleh pengamat sepak bola di seluruh penjuru Asia.