Olahraga

Evolusi Messi: Berjalan 47% Jarak, Tetap Dominan di Piala Dunia

Ringkasan

  • Lionel Messi (39) mencetak 8 gol dan 3 assist di Piala Dunia 2024, berjalan 47% jarak tempuh, serta bawa Argentina ke semifinal lawan Inggris di Atlanta.

Argentina berada di ambang sejarah sebagai negara pertama yang mempertahankan gelar Piala Dunia sejak 1962, dan Lionel Messi menjadi poros utama ambisi tersebut. Pemain berusia 39 tahun itu tampil cemerlang pada Piala Dunia keenamnya, menyamai rekor Cristiano Ronaldo dan Guillermo Ochoa, dengan koleksi delapan gol serta tiga assist. Meski memimpin daftar pencetak gol bersama Kylian Mbappe, penampilan Messi sangat berbeda dari versi remaja yang memulai karier di Barcelona pada 2003.

Data teknis memperlihatkan transformasi radikal. Sepanjang turnamen ini, Messi melepaskan 33 tembakan dan menciptakan 21 peluang, total 54 kans yang menjadi rekor tertinggi sejak Diego Maradona pada 1986. Yang mengejutkan, ia berjalan pada 47 persen dari total jarak yang ditempuh, persentase terbesar di antara pemain outfield manapun. Rata-rata pergerakannya hanya 8,2 kilometer per 90 menit, terpendek di skuad Argentina, sementara sprint turun menjadi 2,7 per laga dari 5,3 empat tahun lalu.

Laga semifinal melawan Inggris pada Rabu (20:00 BST) di Stadion Atlanta akan kembali menyorotnya. Inggris harus melakukan apa yang hanya mampu dilakukan Polandia dalam 15 penampilan terakhir Messi di Piala Dunia: menghentikan gol atau assistnya. Dalam rentang tersebut, kapten Argentina itu mengemas 16 gol dan tujuh assist.

Penurunan fisik adalah takdir mayoritas atlet, namun elite menemukan cara beradaptasi. Ronaldo menjelma menjadi predator kotak penalti ketika kecepatan hilang. Messi tidak sekadar beradaptasi dengan kemunduran; ia menyusun ulang cara mendominasi permainan yang sejak awal terus mengejarnya.

Jejak evolusi itu panjang. Sejak debut bersama Barcelona dalam laga persahabatan kontra Porto pada usia 16 tahun, Messi beroperasi di sayap kanan dengan dribel dan cut inside. Ronaldinho, bintang terbesar saat itu, langsung memprediksi "ia akan menjadi yang terbaik" saat pertama kali melihatnya berlatih. Dua tahun berselang, pertunjukan di Joan Gamper Trophy melawan Juventus membuat Fabio Capello dilaporkan berupaya merekrutnya. Frank Rijkaard lantas menempatkannya "tepat di pusat segalanya" ketika usianya 21 tahun.

Puncak reinvensi taktis terjadi saat Pep Guardiola memindahkannya dari sayap ke ujung formasi depan tanpa tugas striker tradisional pada Mei 2009 di Santiago Bernabeu. Eto'o dan Henry melebar, Messi diperintahkan turun, menerima, lalu memutuskan. Kemenangan 6-2 melahirkan kembali konsep false nine yang sebelumnya dipraktikkan Hidegkuti bersama Hungaria 1953 dan Johan Cruyff dalam Total Football.

Bagi penggemar dan ekosistem sepak bola Indonesia, metode adaptasi Messi menyajikan cermin nilai strategi. Liga 1 kerap menuntut pemain senior berlari tanpa henti, padahal teknologi pelacakan GPS dan analitik performa yang menghasilkan metrik seperti jarak tempuh dan sprint sudah mulai masuk ke klub-klub Tanah Air. Pemanfaatan data untuk merancang peran pemain yang lebih cerdas masih minim, sehingga banyak veteran kehilangan tempat padahal bisa dioptimalkan sebagai pengatur ritme.

Portal teknologi olahraga mencatat bahwa startup lokal mulai menawarkan sistem wearable, namun integrasi ke skema latihan belum sematang di Eropa. Keberhasilan Messi membuktikan bahwa investasi pada pemahaman ruang dan retensi bola melalui bimbingan data dapat memperpanjang usia kompetitif. Pelatih di Indonesia perlu belajar bahwa mengurangi beban lari bukan berarti menurunkan kontribusi, asalkan penempatan posisi presisi.

Messi sendiri mengakui perubahan cara pandangnya. Dalam wawancara dengan jurnalis Juan Pablo Varsky pada 2024, ia menuturkan dulu tidak terlalu memedulikan taktik, namun bersama Guardiola mempelajari banyak hal tentang ruang, penguasaan bola, dan cara kerja permainan yang sesungguhnya. Rijkaard pernah menegaskan, "Semakin banyak ia menyentuh bola, semakin baik bagi tim."

Rekam jejak statistik mendukung narasi tersebut. Antara 2011 dan 2013, Messi mengoleksi 96 gol dari 69 laga La Liga. Trofi Ballon d'Or melekat padanya delapan kali, yang pertama di usia 22 dan terakhir saat 36 tahun. Ketika Xavi dan Iniesta meninggalkan Barcelona, ia berevolusi lagi menjadi enganche—gelandang pengatur sekaligus penuntas—dengan 22 assist dan 25 gol pada 2019-2020.

Proyeksi ke depan menunjukkan Argentina akan terus membangun skema di sekitar Messi selama ia mampu menjaga efisiensi. Jika mereka mengangkat trofi, ia mempertegas status sebagai pemain paling berkelanjutan dalam sejarah turnamen. Di sisi lain, tren false nine dan deep playmaker akan semakin diadopsi akademi muda global, termasuk Indonesia.

Transformasi pemain asal Rosario itu juga berdampak pada bisnis sports tech. Klub-klub di negara berkembang dituntut menyediakan perangkat analitik demi mengidentifikasi peran optimal bagi talenta menua. Messi di Inter Miami mungkin tidak lagi berlari kencang, tetapi ia tetap menjadi pusat permainan—pelajaran berharga bahwa kecerdasan taktik adalah teknologi tertinggi dalam sepak bola.

Mengapa Ini Penting

Keberhasilan Messi beradaptasi melalui analisis data dan penempatan posisi memberikan pelajaran bagi klub Indonesia yang masih mengandalkan kebugaran fisik muda. Teknologi pelacakan GPS dan pemodelan ruang yang digunakan tim elite Eropa belum merata di Liga 1, padahal bisa memperpanjang karier pemain senior. Penggemar di Tanah Air juga mendapat perspektif baru bahwa performa bukan sekadar lari cepat, melainkan kecerdasan taktis yang bisa diukur. Ke depan, industri sports tech lokal berpotensi tumbuh jika mengadopsi metrik serupa untuk pembinaan usia dini.

Sumber Asli
Bbc
Tanggal
14 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit