Kudus, Jawa Tengah – Langkah Tigers Football Academy (FA) dalam ajang Hydroplus Soccer League (HSL) All-Stars 2025/2026 resmi terhenti di fase grup. Meski menelan kekalahan dalam laga pamungkas Grup B melawan Goal Aksis di Supersoccer Arena, Jumat, pelatih kepala Tigers FA, Patar Samuel Parningotan, tetap memberikan apresiasi tinggi terhadap performa anak asuhnya yang dinilai mampu bermain lepas dan menunjukkan determinasi tinggi hingga peluit panjang dibunyikan.
Dalam pertandingan tersebut, Tigers FA memang belum mampu mencuri poin dari Goal Aksis. Hasil ini menempatkan Tigers FA di posisi juru kunci klasemen Grup B tanpa raihan poin. Namun, bagi Patar, statistik hanyalah cerminan angka, sementara perkembangan mentalitas pemain di lapangan adalah aspek yang jauh lebih krusial untuk jangka panjang. Ia menegaskan bahwa kekalahan ini akan menjadi bahan evaluasi mendalam bagi tim pelatih untuk memperbaiki struktur permainan di kompetisi mendatang.
"Kami secara konsisten mendorong para pemain untuk bermain lepas dan menuntaskan 50 menit durasi pertandingan dengan semangat pantang menyerah. Kontribusi positif dalam setiap pergerakan di lapangan adalah fokus utama kami saat ini," ujar Patar dalam sesi konferensi pers pascapertandingan. Baginya, keberanian pemain untuk tetap menekan lawan meski dalam posisi tertinggal merupakan indikator bahwa proses pembinaan di Tigers FA berada di jalur yang benar.
Patar secara jujur mengakui bahwa persiapan tim menuju turnamen bergengsi ini belum mencapai titik maksimal. Dengan waktu pemusatan latihan yang terbatas, yakni sekitar dua bulan, tantangan utama yang dihadapi adalah memadukan kekompakan antarpemain serta mematangkan skema taktis yang diinginkan. Waktu yang singkat tersebut membuat Tigers FA masih membutuhkan proses adaptasi lebih lanjut untuk mencapai level permainan yang lebih kompetitif dan stabil.
Optimisme pun tetap terpancar dari sang pelatih. Ia meyakini bahwa dengan program latihan yang lebih terstruktur dan durasi persiapan yang lebih panjang, Tigers FA akan mampu tampil jauh lebih impresif pada edisi HSL All-Stars berikutnya. Pengalaman di HSL All-Stars ini dipandang sebagai batu loncatan yang berharga bagi para pemain muda untuk merasakan atmosfer kompetisi sepak bola usia dini yang ketat dan profesional.
Senada dengan sang pelatih, pemain muda Tigers FA, Bellabee Hugo Mackenzie, mengungkapkan bahwa kekalahan ini justru memberikan perspektif baru. Baginya, setiap detik di lapangan adalah kesempatan emas untuk mematangkan pengambilan keputusan, membaca situasi permainan, dan membangun chemistry dengan rekan setim. Hugo, yang lahir di Surabaya pada 2012, menekankan pentingnya mengambil sisi positif dari setiap laga untuk pengembangan karier sepak bolanya.
"Saya selalu berusaha mencari celah untuk membantu rekan setim dan menciptakan peluang. Bagi saya, pengembangan diri adalah prioritas utama setiap kali turun ke lapangan. Kekalahan hari ini bukan akhir, melainkan pelajaran berharga untuk menjadi pemain yang lebih baik lagi di masa depan," tutur Hugo. Pola pikir seperti inilah yang diharapkan mampu membentuk karakter pemain sepak bola masa depan Indonesia.
Sementara itu, persaingan di Grup B HSL All-Stars 2025/2026 tetap berlangsung sengit. Goal Aksis, meski berhasil mengamankan tujuh poin, harus puas berada di posisi kedua karena kalah selisih gol dari Cipta Cendikia FA yang tampil dominan. Kedua tim tersebut kini bersiap menghadapi babak semifinal yang dijadwalkan berlangsung Sabtu (11/7) di Supersoccer Arena, tempat yang sama di mana talenta-talenta muda Indonesia ditempa dan dipantau oleh para pencari bakat nasional.