Kegagalan tim nasional rugby league Inggris untuk melangkah jauh di Piala Dunia baru-baru ini telah memicu alarm besar di markas Rugby Football League (RFL). Baik tim putra maupun putri terhenti di fase grup, sebuah kenyataan pahit yang memaksa otoritas rugby Inggris untuk segera melakukan perombakan total terhadap sistem pengembangan pemain dan struktur kompetisi domestik mereka.
Chief Executive RFL, Ian Nolan, menegaskan bahwa waktu untuk mencari pembenaran atas kegagalan tersebut telah berakhir. Meski terdapat kendala eksternal seperti jadwal perjalanan yang padat, format kompetisi yang tidak menguntungkan, hingga cedera pemain kunci, RFL menolak menjadikannya alasan. Fokus utama saat ini adalah memetakan masa depan untuk memastikan timnas mampu bersaing di level tertinggi dunia.
Langkah nyata telah diambil dengan pembentukan panel ahli yang melibatkan sosok-sosok berpengaruh dalam sejarah rugby Inggris. Mantan kapten tim putra Paul Sculthorpe, legenda internasional Adrian Morley, serta kapten tim putri yang baru saja pensiun, Jodie Cunningham, ditunjuk untuk memimpin transformasi ini. Inisiatif bertajuk 'One Game, One England' menjadi payung besar dalam upaya menyelaraskan sistem pembinaan dari level akar rumput hingga akademi.
Kesenjangan kualitas antara liga domestik Inggris dan NRL (National Rugby League) di Australia menjadi masalah kronis yang belum terpecahkan selama lebih dari lima dekade. Dominasi finansial NRL, yang baru saja menandatangani kontrak hak siar fantastis senilai 2,78 miliar poundsterling, membuat tim-tim Australia memiliki sumber daya tak terbatas untuk mencetak pemain bintang. Sementara itu, pemain Inggris seringkali kekurangan waktu persiapan karena jadwal internasional yang sangat terbatas.
Pelatih tim putra, Brian McDermott, secara terbuka mengakui bahwa struktur kompetisi domestik Inggris perlu diperkuat agar pemain lokal memiliki daya saing yang setara. Tanpa kompetisi yang menuntut intensitas tinggi setiap minggunya, sulit bagi pemain untuk beradaptasi dengan ritme permainan cepat yang diterapkan oleh tim-tim elit dari belahan bumi selatan.
Bagi tim putri, tantangan yang dihadapi bahkan lebih besar. Mereka harus berkompetisi di Piala Dunia dengan status pemain yang sebagian besar masih amatir, berhadapan langsung dengan pemain profesional dari NRL Women's Premiership. Meski program pengembangan pemain muda seperti Diploma in Sporting Excellence (DiSE) mulai membuahkan hasil, keterlambatan investasi di sektor putri selama bertahun-tahun membuat mereka harus bekerja ekstra keras untuk mengejar ketertinggalan.
Situasi ini menjadi cerminan penting bagi industri olahraga di Indonesia, khususnya dalam pengembangan cabang olahraga yang belum memiliki ekosistem profesional yang mapan. Ketergantungan pada bakat alami tanpa dibarengi dengan struktur akademi yang terukur seringkali menjadi penghambat utama bagi tim nasional Indonesia saat berlaga di kancah internasional.
Dalam konteks Indonesia, tantangan serupa sering muncul pada cabang olahraga yang mencoba beralih dari status amatir ke profesional. Pentingnya sinergi antara federasi, pemilik hak siar, dan klub untuk menciptakan ekosistem yang berkelanjutan menjadi kunci. Tanpa manajemen hak siar yang mampu menyeimbangkan jangkauan penonton dan pendapatan, sebuah liga akan sulit untuk berkembang secara finansial dan kualitas teknis.
Ian Nolan menambahkan bahwa RFL tidak akan menutup mata terhadap kritik mengenai hak siar televisi yang sempat berada di balik paywall. Televisi tetap menjadi instrumen vital dalam menarik minat generasi muda untuk mengenal rugby. Ke depannya, RFL berkomitmen untuk mengkaji ulang bagaimana mereka dapat menarik audiens baru tanpa mengorbankan kualitas kompetisi.
Proyeksi ke depan bagi rugby Inggris adalah membangun fondasi yang kokoh untuk Piala Dunia 2030. Dengan rata-rata usia skuad putri yang masih muda, yakni 21 tahun, RFL percaya bahwa investasi pada pemain muda melalui program DiSE akan mulai membuahkan hasil dalam beberapa tahun mendatang. Ini adalah maraton, bukan sprint.
McDermott sendiri menyatakan keinginannya untuk tetap memimpin tim hingga turnamen besar berikutnya. Dengan waktu persiapan yang lebih panjang dan struktur domestik yang mulai dibenahi, ada optimisme bahwa Inggris dapat kembali menjadi kekuatan yang disegani di pentas dunia, asalkan mereka mampu menjembatani celah kualitas dengan standar NRL yang menjadi tolok ukur dunia saat ini.
Transformasi ini akan menjadi ujian bagi RFL. Mampukah mereka merombak sistem yang sudah mengakar selama puluhan tahun? Jawabannya tidak hanya terletak pada kebijakan di atas kertas, melainkan pada keberanian untuk berinvestasi pada masa depan, meskipun hasilnya tidak akan terlihat secara instan dalam waktu dekat.