Ketua Umum PSSI Erick Thohir secara terbuka menyatakan dukungan penuh terhadap rencana Presiden FIFA Gianni Infantino menjual saham hak komersial Piala Dunia. Kebijakan kontroversial itu dirancang melalui entitas baru bernama FIFAForward Enterprise (FFE), yang dikendalikan penuh oleh FIFA namun melibatkan investor swasta dipimpin oleh perusahaan Amerika Serikat, Thrive Eternal. Thohir menyampaikan dukungan tersebut saat berbicara dengan media internasional Sky, menegaskan bahwa aliran dana dari FIFA selama ini sangat vital bagi kelangsungan roda organisasi sepak bola nasional.
Di balik dukungan itu, Thohir mengungkapkan logika pragmatis: transformasi sepak bola Indonesia dalam tiga tahun terakhir sudah menunjukkan hasil nyata, namun memerlukan modal besar agar tidak stagnan. Ia mengklaim tata kelola PSSI kini "sudah bersih" dan menunjuk bukti berupa kenaikan ranking FIFA timnas dari posisi 174 ke 118. Lonjakan 56 peringkat itu bukan angka kosong, melainkan cerminan perbaikan sistem kompetisi, pengembangan pemain muda, hingga profesionalisasi manajemen klub yang digagas sejak ia menjabat Februari 2023.
Rencana penjualan saham Piala Dunia ini sebenarnya sudah digulirkan Infantino sejak awal 2024 sebagai bagian dari diversifikasi pendapatan FIFA yang selama ini terlalu bergantung pada hak siar dan sponsor turnamen besar. FFE nantinya akan mengelola aset komersial Piala Dunia — mulai dari hak siar, lisensi merchandise, hingga data digital — dengan struktur kepemilikan terbagi antara FIFA, asosiasi anggota, dan investor strategis. Thrive Eternal, perusahaan private equity berbasis New York yang dipimpin mantan eksekutif media Michael Eisner Jr., ditunjuk memimpin konsorsium investor pertama.
Kebijakan ini memicu pro dan kontra di panggung internasional. Para kritikus, termasuk sejumlah mantu pemain legenda dan akademisi manajemen olahraga, menilai komersialisasi berlebihan akan merusak nilai-nilai luhur sepak bola sebagai milik bersama umat manusia. Mereka khawatir keputusan ke depan akan lebih condong pada keuntungan investor daripada kelestarian olahraga. Di sisi lain, pendukung berargumen bahwa modernisasi keuangan FIFA justru diperlukan untuk mendanai pengembangan sepak bola di negara-negara berkembang yang selama ini bergantung pada bantuan FIFA Forward Programme.
Bagi Indonesia, dukungan Thohir bukan sekadar retorik diplomatik. PSSI merupakan salah satu penerima manfaat terbesar program FIFA Forward di Asia Tenggara, dengan total alokasi mencapai puluhan juta dolar AS untuk periode 2023-2026. Dana itu mengalir ke pembangunan pusat latihan nasional di Ragunan, revitalisasi stadion daerah, hingga program pengembangan sepak bola wanita dan futsal. Jika skema saham Piala Dunia berhasil mengumpulkan modal besar — target internal FIFA dikabarkan menembang US$ 4-5 miliar — potongan bagi asosiasi anggota seperti PSSI bisa melonjak signifikan.
Namun, tantangan implementasi tidak ringan. Struktur governance FFE harus transparan agar terhindar dari tuduhan conflict of interest, mengingat FIFA sekaligus menjadi regulator dan pengendali entitas komersial tersebut. Thrive Eternal sebagai pemimpin investor juga harus membuktikan komitmen jangka panjang, bukan sekadar mencari exit strategy melalui IPO atau penjualan kembali saham. Sejumlah pakar hukum olahraga menilai perlindungan kepentingan asosiasi kecil butuh dijamin dalam kontrak, agar tidak tertindas keputusan mayoritas investor besar.
Di konteks domestik, dukungan Thohir juga membuka ruang perdebatan soal ketergantungan PSSI pada dana eksternal. Meskipun pendapatan komersial Liga 1 dan sponsor nasional tumbuh, proporsi anggaran PSSI yang bersumber dari FIFA dan AFC masih dominan. Beberapa ekonom olahraga menilai langkah strategis selanjutnya harus berupa diversifikasi pendapatan mandiri — seperti optimalisasi hak siar liga, pengelolaan data penggemar, hingga monetisasi aset digital timnas — agar keseimbangan keuangan tidak rapuh saat kebijakan FIFA berubah.
Thohir sendiri tidak menutupi realita itu. Dalam wawancara terpisah minggu lalu, ia menegaskan target PSSI mencapai kemandirian finansial dalam lima tahun ke depan. "Kita tidak bisa selamanya jadi penerima bantuan. Harus jadi mitra bisnis yang setara," ujarnya. Kenaikan ranking ke 118 memang membuka peluang komersial baru — lawan uji coba berkualitas lebih mudah didapat, sponsor global mulai memperhatikan pasar Indonesia, dan nilai hak siar timnas naik. Momentum ini harus ditangkap sebelum window of opportunity tertutup.
Langkah konkret berikutnya akan terlihat di Kongres FIFA bulan depan, di mana proposal FFE dijadwalkan mendapat persetujuan formal dari Congress. Jika lolos, tahap pertama penjualan saham diperkirakan dimulai kuartal IV 2025. PSSI sudah menyiapkan tim hukum dan keuangan untuk mengevaluasi skema partisipasi optimal, termasuk opsi membeli saham langsung atau menunggu mekanisme distribusi dividen. Keputusan ini akan menentukan apakah Indonesia hanya jadi penumpang, atau turut menentukan arah bisnis sepak bola global.
Pada akhirnya, dukungan Thohir mencerminkan pragmatisme seorang pengusaha yang memahami bahasa modal. Sepak bola Indonesia memang butuh uang besar untuk melompat dari ranking 118 ke top 100 Asia, lalu menembus zona World Cup secara rutin. Tapi uang itu harus dikelola dengan governance yang ia sebut "sudah bersih" tadi. Bukti nyata akan terlihat bukan dari ranking FIFA, tapi dari kualitas pemain yang keluar ke liga Eropa, stabilitas kompetisi domestik, dan kesehatan keuangan klub-kita sendiri. Itulah ujian nyata transformasi yang ia gagas.