Argentina harus puas jadi runner-up Piala Dunia 2026 setelah dikalahkan Spanyol 0-1 di Stadion New Jersey, Senin (20/7) dini hari WIB. Kemenangan La Furia Roja ditorehkan gol tunggal Ferran Torres pada menit ke-106, memanfaatkan kelebihan numerik usai Enzo Fernandez dikartu merah wasit Slavko Vincic.
Kartu merah itu menjadi titik balik dramatis. Pada menit injury time babak kedua, Enzo melakukan tekel keras ke Pau Cubarsi saat berebut bola di tengah lapangan. Wasit Slovenia tidak ragu mengeluarkan kuning kedua yang berarti merah, memaksa Argentina bermain 10 orang di babak tambahan.
Sepanyol memang mendominasi sejak kickoff. Luis de la Fuente mengandalkan kekuatan kolektif dengan Lamine Yamal, Pedri, dan Nico Williams yang terus mengancam gawang Emiliano Martinez. Kiper Aston Villa itu jadi pahlawan tak tersungkan Argentina, menepis sejumlah peluang berbahaya termasuk tembakan dekat Yamal dan sundulan Oyarzabal.
Ketangguhan Martinez berhasil menahan imbang 0-0 hingga babak tambahan. Namun kelelahan dan kelebihan pemain membuat pertahanan Argentina retak. Di menit ke-106, Nico Williams lolos di sayap kiri lalu mengumpan sundul ke tengah area. Ferran Torres, baru masuk menggantikan Mikel Oyarzabal, menembak pertama kali tanpa memberi kesempatan Martinez bereaksi.
Gol itu menghancurkan mimpi Argentina mempertahankan gelar juara dunia 2022. Lionel Messi, yang dibidik ketat oleh Pau Cubarsi dan Robin Le Normand sepanjang laga, tak sempat memberikan kontribusi berarti. Kapten Albiceleste terlihat frustrasi saat final whistle berbunyi, genut di bangku cadangan sambil menatap trofi diangkat tim lawan.
Bagi Spanyol, kemenangan ini menandai gelar Piala Dunia pertama dalam sejarah. Generasi emas baru — Yamal (19 tahun), Cubarsi (19), Pedri (23), dan Nico Williams (22) — membuktikan transisi pasca-era Xavi-Iniesta-Busquets berjalan mulus. De la Fuente, yang dipromosikan dari U-21, kini jadi pelatih paling sukses dalam sejarah sepak bola Spanyol.
Kehilangan Enzo justru mengungkap ketergantungan Argentina pada struktur tengah. Tanpa gelandang Chelsea itu, tata kelola bola Albiceleste kacau. Alexis Mac Allister dan Rodrigo De Paul kesulitan menutupi ruang yang ditinggal, sementara Julián Alvarez terisolasi di depan. Lionel Scaloni tak punya opsi pengganti berkualitas setara di bangku cadangan.
Dari perspektif Indonesia, final ini menawarkan pelajaran taktis penting. Spanyol menang bukan dengan bintang tunggal, tapi sistem yang memaksimalkan pemain muda berbasis La Masia dan Athletic Bilbao. Model pengembangan pemain akademi yang terstruktur — yang juga digalakkan PSSI melalui Liga 1 dan timnas U-23 — terbukti bisa menghasilkan tim berdaya saing global.
Kinerja Martinez pun jadi sorotan. Kiper 31 tahun itu menunjukkan reflex dan penempatan posisi kelas dunia, mirip performa Andritany Ardhiyasa di Piala AFF 2024. Bagi kiper muda Indonesia seperti Ernando Ari atau Cahya Supriadi, tape pertandingan ini jadi materi belajar bagaimana bertahan di bawah tekanan berkelanjutan tanpa kehilangan konsentrasi.
Messi kemungkinan besar telah tampil terakhir di Piala Dunia. Usia 39 tahun di edisi 2026 membuat pensiun internasional jadi skenario paling realistis. Era pasca-Messi Argentina akan bergantung pada generasi baru seperti Alejandro Garnacho, Valentin Barco, dan Claudio Echeverri — tantangan besar bagi Scaloni yang harus membangun identitas baru tanpa talisman rosarino.
Spanyol kini memasuki siklus emas potensial. Dengan rata-rata usia tim inti di bawah 24 tahun, La Furia Roja jadi favorit utama Euro 2028 dan Piala Dunia 2030 yang akan digelar di Spanyol, Maroko, dan Portugal. Kemenangan ini juga menguatkan posisi Liga Spanyol sebagai liga pengembang bakat terbaik dunia, menggeser Premier League yang cenderung membeli jadi bintang jadi.
Final 2026 akan diingat sebagai pertemuan dua filsafat: Argentina yang bergantung pada individualitas Messi dan keajaiban Martinez, versus Spanyol yang dibangun pada sistem, kedalaman skuad, dan keberanian memainkan pemain muda. Sejarah mencatat sistem yang menang.