Tim nasional Inggris kembali gagal melangkah ke final Piala Dunia setelah takluk 1-2 dari Argentina di semifinal yang berlangsung di Atlanta pada Rabu waktu setempat. Kekalahan di menit-menit akhir itu mengulang cerita pahit delapan tahun lalu saat mereka disingkirkan Kroasia pada fase sama.
Anthony Gordon membawa Inggris unggul pada menit ke-55 lewat assist Morgan Rogers. Keunggulan itu sirna setelah Enzo Fernandez menyamakan kedudukan dan Lautaro Martinez mencuri gol kemenangan pada menit kedua injury time. Hasil ini memastikan The Three Lions absen dari final sejak 1966.
Dan Burn yang masuk sebagai pemain pengganti saat timnya unggul 1-0 menggambarkan suasana ruang ganti dengan satu kata: hancur. Bek Newcastle itu menilai Inggris terlalu pasif setelah mencetak gol dan memberi terlalu banyak ruang bagi Argentina untuk melepaskan umpan silang. Menurutnya, kesalahan kecil melawan tim sekelas juara bertahan langsung berbuah penalti historis.
Dua babak sebelumnya Inggris sebenarnya menunjukkan ketangguhan. Mereka menyingkirkan Meksiko 3-2 di 16 besar meski bermain dengan 10 pemain hampir sepanjang babak kedua. Di perempat final, Norwegia mereka kalahkan 2-1 lewat pertahanan yang disiplin. Namun melawan Argentina, pola itu tidak berlanjut.
Burn menyebut tekanan psikologis menjadi faktor besar. Berada 10 menit dari final pertama sejak 1966 membuat pemain gugup. Argentina membawa kepercayaan diri juara, sementara Inggris kehilangan keketatan di kotak penalti yang selama ini jadi senjata utama.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kegagalan Inggris menyajikan pelajaran soal mentalitas tim besar. Di Liga 1, banyak klub mulai memperhatikan aspek sports science dan psikologi pertandingan, namun belum setara fasilitas timnas Inggris. Kejatuhan tim berlabel elite karena kehilangan momentum juga kerap terjadi di turnamen lokal saat tim unggulan terlena setelah memimpin.
Dampaknya meluas ke industri siaran. Piala Dunia 2026 menjadi salah satu konten olahraga dengan rating tertinggi di platform streaming Indonesia. Kehadiran Inggris di final akan menjamin lonjakan iklan, namun tersisihnya mereka mengalihkan antisipasi ke laga Perancis vs Argentina yang berpotensi lebih besar secara komersial.
Harry Kane yang memimpin Inggris menyebut timnya terlalu mudah kehilangan kendali setelah menit 60. Kapten tersebut mencatat enam gol di turnamen ini dan masih berpeluang meraih Sepatu Emas, meski Messi dan Mbappe sudah mengoleksi delapan gol. Kane menolak spekulasi soal pensiun dari timnas meski usianya menyentuh 33 tahun akhir bulan ini.
Jude Bellingham memberikan enam gol pula untuk Inggris. Gelandang Real Madrid itu mengaku bangga dengan perjuangan rekan setim, namun kecewa harus mengulang narasi gagal yang sudah bertahun-tahun didengar suporter. Ia menyebut akhir yang menyakitkan sebagai bagian dari perjalanan indah sepak bola level tertinggi.
Pelatih Thomas Tuchel tetap mendapat dukungan FA meski gagal membawa tim ke final. Ia mengakui terkejut dengan hilangnya momentum usai gol Gordon. Menurutnya, Argentina bermain tanpa beban dan membanjiri lini depan, sementara fisik pemain Inggris tidak cukup untuk memenangi duel udara maupun bola mati.
Inggris akan menghadapi Perancis di perebutan tempat ketiga pada Sabtu mendatang. Tuchel dipastikan tetap menukangi tim hingga Euro 2028 yang akan mereka jadi tuan rumah bersama. Ia menegaskan kekalahan harus diproses dengan respek dan kebersamaan, bukan saling menyalahkan.
Proyeksi ke depan, Inggris memiliki fondasi usia dan talenta untuk kembali kompetitif. Namun empat kegagalan di semifinal atau final sejak 2021 menunjukkan masalah struktural pada penguasaan bola di fase krusial. Euro 2028 di kandang sendiri bisa jadi batas toleransi suporter sebelum evaluasi besar-besaran dilakukan.