European Broadcasting Union (EBU) meluncurkan panduan baru bagi stasiun penyiaran untuk menggunakan sudut kamera yang lebih menghargai kehormatan atlet perempuan dalam siaran langsung atletik. Panduan tersebut disusun bersama sejumlah atlet putri dan mulai berlaku menjelang Kejuaraan Atletik Eropa di Birmingham pada 10 Agustus mendatang.
Aturan tersebut berisi daftar tindakan yang boleh dan tidak boleh dilakukan saat merekam kompetisi wanita. Salah satu larangan utamanya adalah memposisikan kamera rendah dari bawah tubuh atlet, misalnya pada nomor lompat tinggi atau lompat tiang, yang berisiko menghasilkan gambar tidak pantas. EBU menekankan bahwa pengambilan gambar harus bermakna secara teknis atau penceritaan, bukan sekadar mengekspos tubuh.
Langkah ini muncul setelah bertahun-tahun keluhan mengenai pelecehan visual dalam siaran olahraga perempuan. Banyak atlet merasa terekam dalam posisi memalukan melalui slow-motion berlebihan dan zoom mendekat yang tidak perlu. Penyiaran yang menjangkau lebih dari satu miliar penonton di 57 negara membuat masalah ini menjadi perhatian global.
Holly Bradshaw, peraih perunggu Olimpiade asal Britania dari nomor lompat tiang, menjadi salah satu atlet yang memberi masukan langsung ke EBU. Ia mengungkapkan telah menerima cercaan di media sosial serta menemukan video tak layak dirinya akibat sudut kamera saat bertanding. Bradshaw menyebut siaran langsung sangat berpengaruh, namun kerap merugikan atlet dan penonton perempuan remaja.
Ivana Spanovic, atlet lompat jauh Olimpiade dari Serbia, juga terlibat dalam penyusunan panduan. Menurutnya, kamera tertentu bukan cuma membuat tidak nyaman saat lomba, tapi berdampak serius pada kesehatan mental atlet dalam jangka panjang. Pengalaman kedua atlet ini mendorong EBU merumuskan standar etis yang jelas bagi kru produksi televisi.
Di Indonesia, isu sudut kamera yang melecehkan atlet perempuan belum mendapat regulasi khusus dari penyiar. Siaran olahraga lokal seperti Liga 1 putri atau pertandingan bulu tangkis kerap menyorot penampilan fisik而非 performa. Masyarakat penggemar olahraga Tanah Air mulai kritis, namun kesadaran redaksi televisi terhadap etika visual masih tertinggal.
Ketiadaan panduan serupa di Indonesia membuka risiko bagi atlet putri nasional, terutama saat event internasional disiarkan ulang tanpa penyuntingan sopan. Federasi olahraga dan KPI perlu belajar dari inisiatif EBU agar penyiaran tidak merusak fokus prestasi. Teknologi kamera canggih memang tersedia, tapi tanpa batasan etis, alat itu justru jadi senjata pelecehan.
Glen Killane, Direktur Eksekutif EBU Sport, menegaskan bahwa seksualisasi atlet wanita lewat sudut kamera dan editing tetap jadi masalah besar. Ia mencatat shot yang berlama-lama di tubuh, kamera sudut rendah, dan slow-motion berlebihan tak memberi nilai teknis apa pun. BBC sebagai anggota EBU akan menerapkan aturan ini di Birmingham, kendati liga seperti Diamond League berada di luar wewenang EBU.
Bradshaw menuturkan dirinya pernah lebih fokus ke kamera ketimbang pertandingan karena khawatir pose tak senonoh terekam. Replay lambat yang menampilkan posisi tidak terhormat sudah terlalu sering terjadi dan harus dihentikan. Spanovic menambahkan bahwa kenyamanan psikologis atlet harus setara dengan kualitas gambar siaran.
Ke depan, panduan EBU berpotensi jadi rujukan federasi penyiaran di luar Eropa, termasuk Asia. Kejuaraan Atletik Eropa akan jadi uji coba nyata apakah stasiun TV sanggup mengubah kebiasaan lama. Jika berhasil, standar ini bisa masuk ke event multinasional seperti Olimpiade atau Kejuaraan Dunia.
Industri penyiaran Indonesia sebaiknya mulai menyiapkan protokol serupa sebelum menjadi tuan rumah event besar. Tanpa langkah proaktif, atlet putri kita terus berada dalam risiko pelecehan visual yang tak kasat mata. Perubahan sudut kamera bukan sekadar estetika, melainkan bentuk perlindungan hak atlet.