European Broadcasting Union (EBU) menerbitkan panduan baru bagi stasiun penyiaran untuk menggunakan sudut pengambilan gambar yang lebih menjaga martabat atlet putri dalam siaran langsung atletik. Langkah ini digodok bersama sejumlah atlet perempuan menyusul banyaknya keluhan soal angle kamera yang justru mementingkan bagian tubuh tertentu dan berujung pada pelecehan di media sosial.
Panduan berbentuk daftar 'lakukan dan jangan lakukan' itu melarang penggunaan kamera rendah dari bawah atlet, misalnya dalam lompat tinggi atau lompat galah, karena berisiko menghasilkan citra yang merendahkan. EBU mencatat praktik seperti slow-motion berlebihan dan bidikan yang hanya fokus ke tubuh telah menjadi masalah lintas cabang olahraga, bukan sekadar di atletik.
Britis Holly Bradshaw, peraih perunggu Olimpiade yang turut memberi masukan, mengungkapkan pengalaman pribadinya menerima cercaan di media sosial dan menemukan video tak pantas dirinya saat bertanding. Pelompat galah itu menekankan siaran langsung punya pengaruh besar, namun bisa merugikan atlet serta anak perempuan yang menonton.
Ivana Spanovic, atlet lompat jauh asal Serbia, memperingatkan kamera tertentu tidak hanya membuat tidak nyaman saat perlombaan, tetapi berdampak serius pada kesehatan mental atlet dalam jangka panjang. Keduanya mewakili suara atlet yang selama ini merasa performa terganggu karena harus memikirkan posisi kamera alih-alih konsentrasi ke nomor yang diikuti.
Glen Killane, Direktur Eksekutif EBU Sport, menyatakan sexualisasi atlet perempuan lewat pemilihan angle dan editing masih menjadi keprihatinan besar. Menurutnya, bidikan rendah yang memperlihatkan bagian tubuh terbuka serta replay lambat tak berkepentingan teknis kerap muncul di liputan atletik wanita saat ini.
Di Indonesia, isu serupa belum banyak dibahas secara terbuka meski penyiaran olahraga perempuan terus meningkat melalui platform streaming dan televisi free-to-air. Siaran liga voli dan bulu tangkis putri kerap menyorot penonton atau detail fisik, namun belum ada panduan redaksi khusus soal etika visual seperti yang dirilis EBU.
Industri penyiaran lokal biasanya mengandalkan standar umum KPI dan pedoman internal editor, yang belum menyentuh secara spesifik sudut kamera pelanggaran privasi atlet. Kehadiran referensi EBU bisa jadi bahan evaluasi bagi broadcaster Tanah Air yang mulai menggarap konten olahraga wanita secara masif.
Dampaknya bagi penonton Indonesia cukup relevan karena algoritma media sosial kerap mengangkat cuplikan kontroversial ketimbang performa olahraga. Tanpa batasan etis, potongan video berangle problematik mudah viral dan memperkuat stereotip negatif terhadap atlet perempuan.
"Bagaimana olahraga kami ditampilkan saat siaran langsung bisa sangat berpengaruh, namun kadang merugikan perempuan yang bertanding dan penonton perempuan," ucap Bradshaw. Ia menambahkan cuplikan slow-motion dirinya dan rekan sudah disalahgunakan menjadi konten tidak layak di linimasa.
Spanovic menekankan perlunya kesadaran bahwa kenyamanan atlet di arena berkaitan langsung dengan kesehatan jiwa mereka. Panduan EBU menjadi jawaban atas permintaan agar siaran fokus ke prestasi, bukan objektifikasi.
Penerapan panduan akan mulai terlihat pada Kejuaraan Atletik Eropa yang berlangsung 10 Agustus di Birmingham dan disiarkan BBC Sport sebagai mitra EBU. Namun Diamond League yang juga tayang di BBC tidak wajib mengikuti karena tidak lewat jaringan EBU.
Ke depan, tekanan publik dan atlet diharapkan mendorong federasi penyiaran lain mengadopsi standar serupa. Transformasi budaya liputan olahraga perempuan dari objek pandang ke subjek prestasi tampaknya akan menjadi tren penyiaran global termasuk di Asia Tenggara.
EBU menjangkau 57 negara dengan audiens lebih dari satu miliar orang, sehingga pengaruh panduan ini sangat luas. Jika broadcaster Indonesia bergabung dalam diskursus ini, perlindungan atlet putri di layar dapat membaik seiring kesadaran industri.