Posisi Gianni Infantino di pucuk pimpinan FIFA kini mendapatkan napas baru setelah sempat berada di ujung tanduk. Berdasarkan data terbaru dari bursa prediksi Kalshi per 10 Agustus, peluang Infantino untuk lengser dari kursi presiden FIFA merosot tajam ke angka 21 persen. Angka ini merupakan penurunan drastis dari proyeksi sebelumnya yang sempat menyentuh angka 50 persen, menyusul serangkaian tekanan politik dan internal yang menghantam otoritasnya.
Ketegangan ini bermula dari kontroversi rencana penjualan saham Piala Dunia yang digagas Infantino. Meskipun ia sempat menjanjikan keuntungan finansial besar bagi para anggota, langkah tersebut memicu penolakan keras dari UEFA. Organisasi sepak bola Eropa itu memimpin barisan oposisi yang diikuti oleh konfederasi besar lainnya seperti AFC dan Concacaf. Akibat tekanan masif ini, Infantino terpaksa membatalkan rencana tersebut, namun kepercayaan publik dan anggota terhadap kepemimpinannya terlanjur terguncang.
Kini, upaya untuk mendongkel Infantino semakin intensif menjelang pemilihan presiden FIFA pada Maret 2027. UEFA bahkan mengambil sikap ekstrem dengan ancaman boikot terhadap seluruh ajang yang diselenggarakan FIFA, termasuk Piala Dunia Wanita 2027, jika Infantino tetap bertahan. Pertarungan ini bukan sekadar urusan administratif, melainkan benturan kepentingan antara visi komersialisasi sepak bola global dengan tata kelola olahraga tradisional yang diusung Eropa.
Di tengah gejolak tersebut, dukungan datang dari tokoh tak terduga, Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Trump secara terbuka memperingatkan bahwa mengganti Infantino pasca keberhasilan Piala Dunia 2026 di Amerika Utara adalah sebuah kesalahan fatal. Narasi ini memberikan legitimasi politik yang kuat bagi Infantino, terutama karena kesuksesan turnamen di AS, Kanada, dan Meksiko menjadi prestasi utama yang ia gunakan sebagai tameng terhadap kritik.
Dukungan dari Amerika Selatan melalui Asosiasi Sepak Bola Argentina (AFA) serta soliditas konfederasi seperti Conmebol, CAF (Afrika), dan OFC (Oseania) menjadi penyeimbang kekuatan melawan blok Eropa. Meski Asosiasi Sepak Bola AS (US Soccer) secara internal condong mendukung gerakan UEFA, keberpihakan Trump dan Meksiko di tingkat kebijakan nasional memberikan narasi berbeda yang menguntungkan posisi sang petahana.
Bagi publik sepak bola di Indonesia, dinamika di markas besar FIFA ini memiliki implikasi yang cukup signifikan. Indonesia, sebagai anggota aktif FIFA, tentu memantau ketat stabilitas organisasi ini karena setiap perubahan kepemimpinan akan berimbas pada kebijakan pengembangan sepak bola nasional, terutama dalam hal pendanaan, bantuan infrastruktur, dan kalender kompetisi internasional.
Situasi ini juga menjadi cermin bagi tata kelola organisasi olahraga di tanah air. Konflik antara kepentingan komersial dengan regulasi federasi merupakan tantangan klasik yang sering terjadi di level lokal maupun global. Jika FIFA sebagai otoritas tertinggi saja mengalami guncangan akibat isu privatisasi, maka federasi nasional harus lebih berhati-hati dalam mengambil kebijakan yang melibatkan aspek finansial jangka panjang.
Analisis menunjukkan bahwa Infantino cukup lihai dalam menggalang kekuatan di wilayah Amerika dan negara berkembang untuk menahan gempuran dari Eropa. Ia memahami bahwa kekuatan suara di FIFA tidak hanya terletak pada tradisi sepak bola, melainkan pada kemampuan mengakomodasi kepentingan negara-negara anggota yang mendambakan pertumbuhan ekonomi melalui sepak bola.
Donald Trump melalui pernyataannya menegaskan bahwa stabilitas organisasi internasional seperti FIFA sangat bergantung pada kontinuitas kepemimpinan. Pandangan ini tentu memicu perdebatan mengenai sejauh mana politik nasional dapat mengintervensi urusan olahraga global. Bagi para kritikus, dukungan Trump justru dipandang sebagai bentuk politisasi yang berbahaya bagi independensi FIFA di masa depan.
Sementara itu, UEFA kini harus memutar otak mencari strategi baru untuk menggoyahkan basis dukungan Infantino. Ancaman boikot merupakan langkah terakhir yang sangat berisiko, karena dapat memecah belah sepak bola dunia dan merugikan pihak-pihak yang tidak terlibat langsung dalam perselisihan administratif tersebut. Industri sepak bola global kini berada dalam fase penantian, menunggu apakah diplomasi di balik layar akan membuahkan kompromi atau justru memicu perpecahan permanen di tubuh FIFA.