Pelatih tim nasional Malaysia, Tan Cheng Hoe, secara terbuka mengakui bahwa keberadaan sembilan pemain dari Johor Darul Ta'zim (JDT) dalam skuadnya menjadi kunci performa impresif Harimau Malaya di ajang FIFA ASEAN Cup 2026. Kolektivitas yang terbangun di level klub dinilai memberikan keuntungan taktis yang signifikan di atas lapangan hijau.
Kekompakan yang ditunjukkan oleh para pemain JDT, seperti Syihan Hazmi, Brad Tapp, hingga Arif Aiman, menciptakan pemahaman antarpemain yang sudah terbentuk sejak di liga domestik. Hal ini memudahkan Tan Cheng Hoe dalam mengimplementasikan filosofi permainannya tanpa harus membuang waktu terlalu banyak untuk menyelaraskan chemistry antarindividu.
Namun, Tan Cheng Hoe menegaskan bahwa kesuksesan tim tidak hanya bergantung pada satu klub saja. Ia tetap menekankan pentingnya peran kolektif seluruh anggota skuad untuk menjaga keseimbangan permainan, terutama saat menghadapi tekanan tinggi di turnamen regional yang sangat kompetitif ini.
Fenomena dominasi satu klub dalam tim nasional bukanlah hal baru, namun ketergantungan Malaysia pada JDT terlihat sangat menonjol. Dengan sembilan pemain yang dipanggil, JDT menjadi penyumbang pemain terbanyak di skuad Harimau Malaya, sebuah angka yang menunjukkan betapa sentralnya pengaruh klub tersebut dalam ekosistem sepak bola Malaysia saat ini.
Sebagai perbandingan, Singapura tercatat sebagai tim dengan ketergantungan klub yang lebih tinggi, yakni 11 pemain dari Lion City Sailors FC. Di sisi lain, Indonesia tampil lebih variatif dengan batasan maksimal lima pemain dari klub yang sama, seperti Persija Jakarta, yang mencerminkan pendekatan berbeda dalam membangun kedalaman skuad nasional.
Situasi ini memberikan keuntungan psikologis dan teknis bagi Malaysia. Pemain yang terbiasa berlatih dan bertanding setiap hari di bawah sistem kepelatihan yang sama di JDT cenderung lebih cepat beradaptasi dengan instruksi pelatih di timnas. Ini menjadi keunggulan komparatif saat waktu persiapan turnamen tergolong singkat.
Bagi publik sepak bola Indonesia, fenomena ini menjadi bahan refleksi mengenai efektivitas integrasi pemain di level klub dengan kebutuhan tim nasional. Apakah ketergantungan pada blok pemain dari satu klub lebih efektif daripada mengandalkan pemain yang tersebar di berbagai klub dengan gaya bermain yang beragam? Pertanyaan ini terus menjadi perdebatan hangat di kalangan pengamat olahraga tanah air.
Dominasi JDT di Malaysia juga menunjukkan keberhasilan manajemen klub dalam membangun infrastruktur dan standar kualitas yang di atas rata-rata liga regional. Dampaknya, tim nasional mendapatkan pemain yang sudah 'jadi' secara taktis, sehingga pelatih hanya perlu melakukan penyesuaian minor.
"Keuntungan dari pemain JDT yang bermain bersama karena kekompakan dan pemahaman mereka benar-benar memberi kami keunggulan. Tapi tentu saja, sepak bola harus dimainkan sebagai tim, bukan hanya pemain JDT saja," ujar Tan Cheng Hoe seusai laga melawan Indonesia pada Senin (28/9).
Saat ini, Malaysia berada di posisi krusial dalam klasemen Grup A. Dengan raihan empat poin, mereka memimpin berkat keunggulan selisih gol, +3, dibandingkan dengan Indonesia yang mengoleksi +2. Laga pamungkas melawan Singapura di Stadion Si Jalak Harupat, Bandung, pada Kamis (1/10) akan menjadi penentu nasib mereka.
Menghadapi Singapura di Bandung menuntut Malaysia untuk melakukan perjalanan yang cukup menguras stamina. Tan Cheng Hoe mengakui bahwa aspek pemulihan fisik akan menjadi penentu utama, namun ia menegaskan bahwa skuadnya sudah dalam kondisi mental yang siap untuk memenangkan laga tersebut demi tiket ke babak final.
Ke depan, tren penggunaan blok pemain dari satu klub di tim nasional akan terus menjadi strategi yang dipertimbangkan oleh banyak pelatih di ASEAN. Namun, tantangan terbesarnya adalah bagaimana menjaga agar ketergantungan tersebut tidak menjadi kelemahan saat pemain kunci dari klub tersebut mengalami penurunan performa atau cedera.