Novak Djokovic digulingkan oleh Thiago Agustin Tirante di babak kedua Cincinnati Open, Sabtu pukul 15 Agustus. Skor akhir: 2-6, 6-4, 6-4. Ini pertandingan pertama bagi mantan juara Wimbledon sejak dikalahkan Jannik Sinner di babak setengah final. Kekalahan ini menjadi bumbu yang tidak nyaman bagi persiapan Djokovic menghadapi US Open dalam waktu dekat.
Pertarungan berlangsung di Stadion Lindner di Mason, Ohio, tempat suhu siang mencapai 32 derajat Celsius dan kelembaban tinggi mencapai 70 persen. Kondisi iklim ekstrem ini memaksa petenis asal Serbia itu menggunakan jeda medis untuk menstabilkan suhu tubuhnya.
Djokovic sempat mendominasi set pertama dengan servis kuat dan tekanan defensif tak tergoyahkan. Namun, ketika suhu tubuhnya mulai meningkat di awal set kedua, ia kehilangan koordinasi dan akurasi tembakannya. Sejumlah error asli membuatnya kesulitan mempertahankan inisiatif.
Tirante, yang peringkat 50 dunia, tampil tabuh dan konsisten. Servisnya menjadi senjata utama, sementara baseline-nya kokoh melawan serangan Djokovic. Pada tiebreak tidak ada, tetapi momentumnya terus memicu tekanan pada lawannya.
Setelah jeda minum dan pergantian pakaian, Djokovic kembali tampil lebih segar di set ketiga. Namun, pada situasi kritis 4-4, ia membuat kesalahan beruntun — termasuk voli yang terjebak di jaring — yang memberi kesempatan bagi Tirante untuk memutus kembangungan.
Kemenangan ini sekaligus terbesar dalam karier Tirante, yang selama ini dikenal sebagai pemain yang konsisten namun belum pernah mencapai putaran ini di turnamen ATP level Premier 5 seperti Cincinnati.
"Saya sedang memikirkan keluarga dan teman-teman di Argentina," kata Tirante usai pertandingan. "Mereka ada di sana, tapi hati saya bersama mereka juga."
Bagi penggemar tenis Indonesia, kekalahan ini memicu refleksi tentang betapa pentingnya adaptasi kondisi fisik dan iklim dalam kompetisi elite. Banyak petenis lokal yang juga kesulitan beradaptasi dengan perubahan iklim saat bertanding di luar negeri.
Di sisi lain, Djokovic tetap menjadi sorotan utama sebelum US Open. Rekam jejaknya di pasar gelanggang hijau belum sempurna, dan ia butuh waktu untuk pulih sepenuhnya agar bisa bersaing dengan Sinner, Carlos Alcaraz, dan pemuda-pemuda berbakat lainnya.
Analis tenis internasional menilai bahwa usia 39 tahun mulai menjadi faktor dalam ketahanan fisik Djokovic, terutama di turnamen bergenggaman panjang seperti Grand Slam.
Namun, tim manajemennya menegaskan bahwa tim medis sedang memantau kondisinya secara ketat dan tidak ada tanda-tanda serius. Fokus selanjutnya adalah pemulihan aktif sebelum US Open dimulai.
Tirante selanjutnya akan bertemu dengan Martin Landaluce dari Spanyol di babak ketiga. Pertandingan ini dijadwalkan Sabtu malam waktu Amerika Serikat.
Sementara itu, Djokovic akan meluangkan waktu untuk istirahat dan rehabilitasi. Ia dijadwalkan tidak ikut kompetisi selama satu minggu ke depar, guna mempersiapkan diri secara penuh untuk Grand Slam berikutnya.
Laga ini juga menegaskan bahwa dominasi Djokovic tidak lagi tak tergoyahkan. Pemuda-pemuda baru seperti Sinner dan Alcaraz semakin mendesak, sementara veteran sekalibernya mulai menunjukkan sinyal usia.
Untuk Indonesia, sorotan kini beralih pada kesiapan petenis lokal yang akan bertanding di turnamen ATP 250 atau 500 di Asia Tenggara. Mereka pun perlu belajar dari pengalaman Djokovic terkait manajemen panas dan keseimbangan fisik.
Kami akan terus memantau perkembangan terkini sebelum US Open, termasuk kesiapan fisik para bintang tenis dunia yang akan bertarung di New York.
Sumber: Channel NewsAsia