Didier Deschamps menutup 14 tahun kariernya sebagai pelatih Timnas Prancis dengan kekalahan menyakitkan. Di perebutan posisi ketiga Piala Dunia 2026, Les Bleus takluk 4-6 dari Inggris di Miami Stadium, Florida, Minggu (19/7/2026) dini hari WIB.
Laga bertajuk derby Eropa itu berlangsung dramatis dengan total 10 gol tercipta. Inggris langsung menghancurkan pertahanan Prancis di babak pertama dan unggul 4-0 sebelum jeda. Deschamps mencoba bangkit di paruh kedua, namun timnya hanya mampu memperkecil ketertinggalan tanpa bisa menyamakan kedudukan.
Kekalahan tersebut sekaligus menjadi laga terakhir pria 57 tahun itu di bangku pelatih tim nasional. Deschamps memutuskan meninggalkan posisi yang diembannya sejak 2012. Keputusan itu diambil sebelum turnamen dimulai sebagai bagian dari regenerasi skuad pasca-Piala Dunia 2022.
Selama membesut Prancis, Deschamps mencatatkan 187 pertandingan. Ia membawa negara tersebut meraih gelar juara dunia 2018 dan trofi UEFA Nations League 2021. Pencapaian lainnya adalah status runner-up Euro 2016 serta Piala Dunia 2022 di Qatar.
Secara statistik, pelatih berjuluk Le Petit Caporal itu mengoleksi 121 kemenangan, 35 hasil imbang, dan 31 kekalahan. Dua kekalahan terakhir justru hadir beruntun di Piala Dunia 2026, termasuk laga perpisahannya melawan Inggris. Catatan tersebut tetap menempatkannya sebagai pelatih tersukses dalam sejarah Federasi Sepakbola Prancis (FFF).
Bagi pecinta sepak bola di Indonesia, akhir era Deschamps menjadi pengingat tentang pentingnya manajemen suksesi pelatih tim nasional. PSSI kerap mengalami ketidakstabilan kursi pelatih dengan rata-rata masa jabatan di bawah dua tahun. Konsistensi Prancis selama lebih dari satu dekade menjadi kontras dengan situasi di Tanah Air.
Industri siaran olahraga lokal juga terdampak oleh peristiwa ini. Turnamen Piala Dunia 2026 diprediksi masih mendominasi rating televisi dan platform streaming di Indonesia. Kepergian figur sekaliber Deschamps mengalihkan narasi ke calon pengganti, yang berpotensi menarik minat penonton baru.
Di sisi lain, Federasi Sepakbola Prancis telah merilis pernyataan perpisahan resmi melalui akun media sosial mereka. FFF menyebut Deschamps menutup seperempat abad pengabdian, termasuk masa sebagai pemain dan pelatih. Zinedine Zidane digadang-gadang mengisi kekosongan kursi pelatih tersebut dalam beberapa hari ke depan.
Deschamps sendiri mengakui kesalahan taktik di babak pertama sebagai penyebab kekalahan. "Ini kekalahan. Kami tertinggal 4-0; kami bermain buruk di babak pertama," ujarnya dalam laman resmi FIFA. Ia menambahkan bahwa timnya sempat punya peluang menyamakan skor 4-4, namun agresivitas datang terlambat.
"Ini kesalahan saya; saya pasti tidak melakukan apa yang dibutuhkan di babak pertama. Meskipun kekalahan ini menyakitkan, akan lebih baik jika kami finis di posisi ketiga," kata Deschamps. Pengakuan tersebut menunjukkan tanggung jawab penuh seorang pelatih senior di akhir kariernya.
Proyeksi ke depan, Prancis akan memasuki era baru dengan Zidane sebagai arsitek utama. Transisi ini dinanti karena Zidane memiliki reputasi internasional meski minim pengalaman menangani tim nasional. Tren pelatih legenda yang kembali ke timnas diprediksi makin marak di Eropa.
Di Indonesia, momen tersebut bisa menjadi pelajaran soal pentingnya visi jangka panjang federasi. Tanpa stabilitas kepelatihan, sulit membangun skuad berprestasi di level Asia maupun dunia. Era Deschamps resmi berakhir, namun warisannya akan terus dibandingkan dengan langkah Zidane ke depan.
Kiper utama Prancis diperkirakan tetap dipertahankan Zidane untuk menjaga keberlanjutan. Sementara itu, para pemain muda yang sempat dipanggil Deschamps berpeluang besar mendapat tempat di skuad baru. Piala Dunia 2026 mungkin jadi akhir pahit, tapi bukan akhir dari kekuatan sepak bola Prancis.