Pelatih Prancis Didier Deschamps melontarkan kritik tajam terkait keputusan FIFA menunjuk wasit El Salvador Ivan Barton sebagai pengadil di semifinal Piala Dunia 2026. Les Bleus tersingkir 0-2 dari Spanyol pada pertandingan yang berlangsung dini hari WIB, Rabu (15/7). Dua gol Spanyol dicetak Mikel Oyarzabal melalui tendangan penalti pada menit ke-22 dan Pedro Porro di menit ke-58.
Kontroversi muncul saat wasit Barton menghadiahkan penalti untuk Spanyol setelah Lucas Digne dianggap menjatuhkan Lamine Yamal saat berusaha menyapu bola di area terlarang. Keputusan ini memicu kemarahan di kubu Prancis. Meski mengakui kualitas teknik timnya di bawah Spanyol, Deschamps tetap menyoroti kepemimpinan Barton yang dinilainya tidak pantas untuk laga semifinal Piala Dunia.
"Tentu saja ada kekecewaan besar. Para pemain sangat terpukul karena kami memiliki ambisi tinggi," kata Deschamps, seperti dikutip Metro. "Namun, kami harus realistis dan mengakui bahwa hari ini kualitas teknik kami berada satu level di bawah tim yang sangat tahu apa yang harus mereka lakukan di lapangan. Ini murni kesalahan kami," ujarnya.
Deschamps kemudian melemparkan pertanyaan retoris, "Apakah wasit tersebut cukup bagus untuk memimpin laga semifinal Piala Dunia?" Ia menambahkan, "Kami mengalami beberapa situasi seperti itu, dan saya tidak akan menjawabnya. Saya tidak mengatakan ini karena kami kalah hari ini, tetapi memang ada situasi-situasi tertentu... yang sering kali tidak menguntungkan kami."
Dalam wawancara terpisah, pelatih yang membawa Prancis juara dunia 2018 itu menegaskan dirinya enggan mencari kambing hitam, namun ia mendesak agar kualitas pengadil lapangan hijau menjadi evaluasi serius. "Saya tidak ingin terus membahasnya karena jika tidak, saya akan terdengar seperti seorang bocah cengeng. Apakah wasit tersebut sudah memenuhi standar untuk memimpin semifinal Piala Dunia? Biarlah kalian [media dan publik] yang menilainya," katanya.
Deschamps juga menyoroti kehadiran wasit cadangan keempat dan kelima yang menurutnya memiliki kualitas serupa. "Ini bukan hanya soal penalti tersebut, melainkan kombinasi dari banyak faktor. Kami telah menghadapi situasi yang kurang lebih rumit di pertandingan-pertandingan lain. Saya tidak memiliki dendam pribadi dengan wasit malam ini, tetapi silakan Anda tanyakan hal itu pada diri Anda sendiri," pungkasnya.
Dari perspektif Indonesia, kontroversi ini mengingatkan pada perdebatan tentang standar wasit di tingkat domestik. Indonesia pernah memiliki wasit seperti Yudi Saputra dan Thoriq Alkatiri yang tampil di turnamen internasional, namun kualitas konsisten masih menjadi tantangan. Pengamat sepak bola lokal, Andi Rahman, menilai, "Kritik Deschamps bisa menjadi momentum bagi PSSI untuk mengevaluasi sistem pelatihan wasit dan memastikan hanya wasit berkualitas tinggi yang ditunjuk untuk pertandingan besar."
Di tengah euforia penggemar sepak bola Indonesia, insiden ini juga memicu diskusi tentang pentingnya transparansi dalam pemilihan wasit. Banyak suporter yang berharap agar proses penunjukan lebih terbuka dan berdasarkan performa, bukan sekadar rotasi geografis. "Jika fans di Indonesia melihat wasit lokal ditunjuk untuk pertandingan besar karena memang layak, kepercayaan terhadap wasit akan meningkat," tambah Andi.
Secara lebih luas, kejadian ini mencerminkan isu global tentang konsistensi wasit di Piala Dunia. Federasi sepak bola dunia sering kali mendapat sorotan ketika wasit dari negara dengan pengalaman terbatas mendapat tanggung jawab besar. Hal ini mendorong pembicaraan tentang perluasan kriteria penilaian, mungkin dengan melibatkan video asisten wasit (VAR) lebih intensif.
Ke depannya, diharapkan FIFA akan melakukan evaluasi ketat terhadap standar kualifikasi wasit, terutama untuk pertandingan babak knockout. Deschamps sendiri tidak meminta sanksi, tetapi ia ingin ada peninjauan serius agar tidak ada lagi keputusan yang merugikan tim di babak krusial.
Bagi Prancis, kekalahan ini menjadi momen refleksi menjelang turnamen berikutnya. Tim besutan Deschamps harus memperbaiki kelemahan teknis dan mempersiapkan diri untuk menghadapi lawan yang lebih siap secara taktis. Sementara itu, Spanyol akan melanjutkan perjalanan mereka setelah mengalahkan Prancis, siap menghadapi pemenang laga Inggris vs Argentina di partai final.
Kontroversi wasit ini akan terus menjadi bahan pembicaraan dan mungkin memicu reformasi di tingkat internasional, demi keadilan dan sportivitas di setiap pertandingan Piala Dunia mendatang.