Didier Deschamps menutup 14 tahun kariernya sebagai pelatih timnas Prancis dengan kekalahan 4-6 dari Inggris dalam perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026 di Miami, Minggu (19/7) pagi WIB. Kekalahan tersebut mengakhiri perjalanan Les Bleus di turnamen yang sebelumnya berhasil menembus semifinal sebelum tersingkir dari Spanyol.
Laga di Miami menjadi penutup yang pahit bagi Deschamps. Prancis sebenarnya datang dengan ambisi tinggi dan sempat menunjukkan performa positif di fase grup serta babak gugur. Namun kegagalan di semifinal dan kemudian di laga perebutan posisi ketiga membuat sang arsitek harus menerima tanggung jawab penuh atas hasil minor tersebut.
Deschamps merupakan sosok yang mengubah wajah sepak bola Prancis sejak dipercaya menangani timnas pada 2012. Ia membawa Les Bleus meraih gelar Piala Dunia 2018 di Rusia dan runner-up pada 2022 di Qatar. Konsistensi Prancis di bawah arahan Deschamps menjadi rujukan bagi banyak asosiasi sepak bola di Eropa maupun dunia.
Kekalahan dari Inggris di Miami sekaligus memupus harapan Prancis untuk kembali naik podium. Duel tersebut berlangsung terbuka dengan enam gol dari Inggris dan empat gol balasan Prancis. Performa rapuh di babak pertama menjadi penyebab utama Prancis tertinggal jauh sebelum mencoba mengejar ketertinggalan.
Deschamps secara terbuka mengakui kesalahan taktiknya di paruh pertama laga. Ia menilai skuad Prancis memiliki kualitas, termasuk pemain muda yang diprediksi terus berkembang. Namun kekalahan ini tetap meninggalkan rasa kecewa mengingat target awal tim adalah gelar juara, bukan sekadar finis keempat.
Bagi penggemar sepak bola di Indonesia, akhir era Deschamps menyajikan pelajaran tentang pentingnya stabilitas kepelatihan di level timnas. PSSI dan pelatih timnas Indonesia kerap menghadapi tekanan ganti strategi setiap kali hasil tidak memuaskan. Prancis justru membuktikan bahwa kesinambungan arahan teknik selama lebih dari satu dekade dapat membangun kekuatan tim yang solid.
Di sisi lain, transisi pelatih Prancis nanti akan menjadi sorotan mengingat banyak nama besar bersiap mengambil alih. Hal serupa terjadi di Indonesia ketika Shin Tae-yong meninggalkan skuad Garuda dan digantikan pelatih baru dengan tantangan berbeda. Perbedaannya, Prancis memiliki fondasi pemain muda berkualitas yang sudah teruji di Piala Dunia.
Dampak dari pergantian pelatih Prancis juga akan dirasakan di pasar transfer dan strategi klub-klub Ligue 1. Pemain muda yang menonjol di Piala Dunia 2026 dipastikan mendapat harga tinggi dan minat dari klub elite Eropa. Penggemar di Indonesia yang mengikuti Ligue 1 melalui siaran televisi dan streaming akan melihat kompetisi domestik Prancis semakin ketat.
"Kami datang ke sini dengan ambisi tinggi. Kami mampu melakukan sejumlah hal positif namun tidak cukup cakap dalam laga lawan Spanyol," ujar Deschamps merujuk pada kekalahan di semifinal. Ia menambahkan bahwa skuad saat ini punya pemain berkualitas yang terus mencatat hasil positif di level internasional.
Secara pribadi, Deschamps menyebut delapan pekan sejak masa persiapan hingga laga terakhir sebagai perjalanan indah. "Kekecewaan ada dalam aspek hasil, namun kami punya kesempatan membangkitkan sisi emosional dan jutaan orang Prancis juga merasakan gairah itu," tuturnya. Ia menegaskan tanggung jawab atas performa babak pertama yang rapuh adalah miliknya sepenuhnya.
Ke depan, Federasi Sepak Bola Prancis (FFF) diperkirakan segera menunjuk pelatih baru sebelum jeda internasional berikutnya. Nama-nama seperti Zinedine Zidane dan mantan asisten Deschamps masuk dalam bursa kandidat. Transisi ini akan menentukan apakah Prancis mampu mempertahankan dominasi di Piala Eropa 2028 dan Kualifikasi Piala Dunia 2030.
Tren kepelatihan jangka panjang di timnas besar tampaknya akan terus menurun seiring tuntutan hasil instan dari federasi dan suporter. Prancis menjadi contoh terakhir era stabilitas yang mungkin sulit diulang. Bagi Indonesia, membangun sistem serupa butuh komitmen jangka panjang yang belum terlihat konsisten hingga saat ini.