Dejan Ferdinansyah dan Felisha Alberta Nathaniel Pasaribu hadir di Pelatnas PBSI Cipayung, Rabu (16/9), bukan sebagai peserta Asian Games, melainkan sebagai pendukung. Keduanya dengan tulus mengucapkan semoga sukses bagi dua pasangan ganda campuran yang dikirimkan ke Aichi-Nagoya: Amri Syahnawi/Nita Violina Marwah serta Nikolaus Joaquin/Siti Fadia Silva Ramadhanti. Sikap itu mencerminkan kematangan mental pasangan yang justru belum mendapat tiket ke multievent Asia tersebut.
PBSI memang mengambil keputusan strategis dengan mengirim dua pasangan berekonomi berbeda. Amri dan Nita dibangun sebagai pasangan ganda campuran murni sejak lama. Sementara Joaquin dan Fadia merupakan "pasangan cabutan" — Joaquin berasal dari sektor ganda putra, Fadia dari ganda putri. Kombinasi ini diharapkan mampu menutupi kelemahan satu sama lain dalam waktu singkat. Dejan menilai komposisi tersebut wajar karena pada akhirnya tujuannya sama: meraih medali untuk Indonesia.
Latar belakang pengangkatan Joaquin/Fadia tidak terlepas dari dinamika internal PBSI. Fadia, yang pernah berpasangan dengan Dejan di awal 2024, memilih kembali ke sektor ganda campuran setelah sempat bermain di ganda putri bersama Ribka Sugiarto. Keputusan itu membuka peluang bagi Joaquin, yang sebelumnya berpasangan dengan Rehan Naufal Kusharjanto. PBSI memang dikenal sering melakukan rotasi pasangan menjelang multievent besar untuk mencari kimia terbaik.
Dejan sendiri justru menjadi korban kebijakan rotasi tersebut. Ia dan Felisha telah menunjukkan performa konsisten di turnamen internasional, termasuk gelar juara Thailand Masters dan finalis Malaysia Masters 2024. Namun, sistem kualifikasi Olympic Race yang ketat serta kebijakan PBSI yang memprioritaskan pasangan tertentu membuat mereka harus menunggu giliran. Dejan tidak memprotes, malah menerima dengan lapang dada: "Belum rezekinya saja," ucapnya singkat.
Dari sudut pandang industri bulu tangkis Indonesia, sikap Dejan ini layak dijadikan teladan. Seringkali persaingan internal memicu ego dan ketidakharmonisan. Dejan justru menunjukkan bahwa keberhasilan timnas di atas kepentingan pribadi. Hal ini juga menguatkan narasi bahwa kedalaman bakat ganda campuran Indonesia kini sangat dalam — setidaknya ada empat pasangan berkelas dunia: Dejan/Felisha, Rehan/Lisa, Amri/Nita, dan Joaquin/Fadia.
Kedalaman itu menjadi modal besar bagi PBSI menghadapi siklus Olimpiade 2024-2028. Dengan aturan hanya dua pasangan per negara di Olimpiade, persaingan internal justru memaksa setiap pasangan untuk terus meningkatkan ranking. Dejan/Felisha saat ini menempati posisi 11 dunia, masih di bawah Rehan/Lisa (peringkat 6) namun di atas Amri/Nita dan Joaquin/Fadia. Jarak poin yang tidak terlalu jauh membuat perlombaan kuota Paris 2024 — dan nanti Los Angeles 2028 — sangat terbuka.
"Ada harapan lah. Ini juga buat Indonesia kok. Kalau mix double bagus, mau Amri/Nita, Joaquin/Fadia juga kan untuk Indonesia juga. Jadi kita doakan lah buat mereka," ujar Dejan saat ditemui wartawan. Kalimat singkat itu menyimpan bobot besar: ia tidak hanya mendukung rekan sejawat, tapi juga mengakui bahwa kekuatan Indonesia terletak pada kolektifitas, bukan individualitas.
Soal ambisi pribadi, Dejan tidak menutupi keinginan tampil di Asian Games. "Pengen lah. Semua pasti ingin main Asian Games, cuma kan belum waktunya," tuturnya. Namun, ia segera mengalihkan fokus ke target yang lebih besar. "Olimpiade? Amin. Yang penting itu saja, dan juara Olimpiade. Amin," tegasnya dengan nada keyakinan yang tidak ragu.
Pernyataan "juara Olimpiade" bukan sekadar omong kosong. Dejan/Felisha memiliki gaya permainan agresif, servis tajam, dan ketahanan fisik yang cocok untuk format best-of-three di panggung Olimpiade. Jika mereka berhasil lolos kualifikasi Los Angeles 2028 — dengan catatan PBSI tidak melakukan rotasi drastis lagi — pasangan ini punya peluang nyata meraih medali emas pertama Indonesia di sektor ganda campuran sejak Tontowi/Liliyana 2016.
Langkah selanjutnya bagi Dejan/Felisha adalah memastikan konsistensi di tour BWF 2025. Mereka butuh poin besar dari Super 750 dan Super 1000 untuk menggeser posisi ranking. Sementara itu, Amri/Nita dan Joaquin/Fadia akan diuji di Asian Games sebagai bekal pengalaman. Hasil di Aichi-Nagoya nanti akan jadi pertimbangan PBSI dalam menentukan komposisi timnas untuk siklus ke depan. Satu hal pasti: persaingan internal ini, jika dikelola dengan matang seperti yang ditunjukkan Dejan, justru akan memperkuat, bukan memecah, bulu tangkis Indonesia.