Sepak Bola

Deja Vu 2022: Maroko Kembali Tumbang di Tangan Prancis di Perempat Final Piala Dunia 2026

Deja Vu 2022: Maroko Kembali Tumbang di Tangan Prancis di Perempat Final Piala Dunia 2026

Ringkasan

  • Maroko kalah 0-2 dari Prancis di perempat final Piala Dunia 2026, mengulang skor identik di semifinal 2022.
  • Mbappe dan Dembele mencetak gol, Bono selamatkan penalti tapi tak bisa mencegah kekalahan.

BOSTON — Sejarah berulang di Stadion Boston pada Jumat (10/7) dini hari WIB. Maroko yang menjadi kuda hitam Piala Dunia 2026 harus menyerah dengan skor 0-2 di tangan Prancis di babak perempat final, mengulang tragedi yang sama persis empat tahun silam di Qatar. Kylian Mbappe dan Ousmane Dembele menjadi penulis akhir mimpi Singa Atlas, sementara Yassine Bono meski tampil heroik di bawah mistar tidak mampu mencegah kekalahan kedua kalinya berturut-turut melawan Les Bleus di panggung dunia.

Pertandingan dimulai dengan Maroko mencoba mengulang strategi yang berhasil membawa mereka menyingkirkan Belanda di babak 16 besar: bermain kompak di zona defensif dan mengandalkan serangan balik cepat melalui Achraf Hakimi dan Soufiane Rahimi. Namun Prancis yang diperkuat pengalaman final 2022 tampil jauh lebih matang secara taktis. Didier Deschamps mengatur timnya mendominasi possesi bola 65 persen di babak pertama, memaksa blok bawah Maroko terus mundur dan kesulitan membangun serangan. Statistik menunjukkan Maroko gagal mencatat satu pun tendangan ke gawang (on target) sepanjang 45 menit pertama — पहली kali mereka tidak mengancam gawang lawan di babak pembuka sepanjang turnamen ini.

Momen krusial terjadi pada menit ke-38 ketika Hakim Ziyech melakukan pelanggaran di kotak penalti terhadap Theo Hernandez. Wasit Anthony Taylor mengarah ke titik putih setelah review VAR. Mbappe melangkah dengan percaya diri, namun Bono — yang sudah menjadi pahlawan di adu penalti melawan Spanyol di 2022 — sekali lagi menebak arah yang tepat dan menyelamatkan tendangan penalti kapten Prancis. Penyelamatan itu memberikan semangat sesaat bagi Maroko, namun juga membangkitkan amarah Mbappe yang terlihat semakin agresif di babak kedua.

Gawang Maroko akhirnya pecah pada menit ke-52 melalui aksi brilian Mbappe. Pemain Real Madrid itu menerima umpan silang dari Dembele di sayap kanan, menarik ke dalam dengan satu sentuhan, lalu melepaskan tembakan melengkung ke sudut jauh gawang Bono. Gol ke-8 Mbappe di turnamen ini tidak hanya memecahkan rekor paling banyak gol dalam satu edisi Piala Dunia bagi pemain Prancis, melainkan juga menggeser Lionel Messi kembali di puncak daftar pencetak gol turnamen. Maroko yang tertekan pun terpaksa membuka pertahanan, menciptakan ruang yang dimanfaatkan Dembele untuk mengunci kemenangan pada menit ke-78 dengan tendangan keras dari luar kotak penalti yang tak terjangkau Bono.

Kekalahan ini menutup perjalanan luar biasa Maroko yang sempat menghebohkan dunia. Setelah lolos dari grup maut bersama Brasil, Portugal, dan Iran, mereka menyingkirkan Belanda lewat adu penalti — membalas kekalahan di babak yang sama empat tahun lalu. Walid Regragui, pelatih Maroko, telah membangun tim yang tidak hanya bergantung pada semangat juang, tapi juga disiplin taktis dan kedalaman skuad yang mengagumkan. Pemain-pemain seperti Azzedine Ounahi, Bilal El Khannouss, dan Eliesse Ben Seghir menunjukkan generasi baru Maroko siap bersaing di level tertinggi. Namun keterbatasan variasi serangan dan ketergantungan pada brilian individu Bono terbaca jelas saat menghadapi tim berkualitas Prancis.

Bagi Prancis, kemenangan ini menguatkan status mereka sebagai favorit utama merebut gelar juara dunia ketiga. Deschamps telah menciptakan mesin yang efisien: pertahanan yang dipimpin William Saliba dan Dayot Upamecano baru kebobolan sekali di fase grup, tengah padang dikendalikan Aurelien Tchouameni dan Eduardo Camavinga, sementara trio serangan Mbappe-Dembele-Randal Kolo Muani menakutkan. Mbappe khususnya tampil di level lain: delapan gol dan tiga assist menjadikannya kandidat utama Golden Boot dan Golden Ball. Prancis akan menghadapi winner dari Argentina vs Portugal di semifinal — uji coba yang jauh lebih berat.

Deja vu ini juga menegaskan kesenjangan kelas antara negara-negara Eropa elite dan tim-tim Afrika meski Maroko telah mendekati ambang final. Infrastruktur, pengembangan pemain muda, dan pengalaman bermain di liga-liga top Eropa tetap menjadi pembeda fundamental. Maroko punya 14 pemain yang bermula di akademi Eropa, tapi Prancis punya 23 pemain yang saat ini bermain di Premier League, La Liga, Bundesliga, Serie A, dan Ligue 1. Kedalaman bangkku cadangan Prancis — Bradley Barcola, Marcus Thuram, Warren Zaire-Emery — memungkinkan rotasi tanpa penurunan kualitas, sesuatu yang Maroko belum miliki.

Masa depan Maroko tetap cerah. Regragui telah membangun fondasi kuat dan federasi Maroko (FRMF) terus berinvestasi pada akademi Mohammed VI yang sudah menghasilkan bintang-bintang seperti El Khannouss dan Ben Seghir. Kualifikasi ke Piala Dunia 2030 yang akan dihelat bersama Spanyol dan Portugal (serta tiga laga di Uruguay, Argentina, Paraguay) memberikan target baru: menjadi tuan rumah yang berprestasi. Bagi Indonesia dan Asia, perjalanan Maroko jadi bukti bahwa tim dari konfederasi lain bisa bersaing setara di panggung dunia dengan manajemen yang tepat, visi jangka panjang, dan pemanfaatan diaspora yang cerdas — pelajaran berharga untuk pengembangan sepak bola nasional kita.

Mengapa Ini Penting

Kekalahan Maroko menegaskan kesenjangan struktural antara sepak bola Afrika dan Eropa elite meski tim Arab-Afrika pertama di semifinal telah mengejar ketinggalan dengan cepat. Bagi penggemar Indonesia, perjalanan Maroko jadi studi kasus nyata: investasi akademi jangka panjang, pemanfaatan diaspora, dan manajemen federasi profesional bisa menciptakan tim yang bersaing global dalam satu dekade. Dominasi Mbappe yang pecah rekor sekaligus menggeser Messi memperkuat narasi transisi kekuasaan bintang global, relevan bagi industri media dan sponsor lokal yang mengikuti dinamika pasar pemain dunia. Prancis yang konsisten jadi finalis tiga dari empat Piala Dunia terakhir menunjukkan model keberlanjutan tim nasional yang patut ditiru PSSI dalam merancang roadmap timnas Indonesia menuju Piala Dunia 2034.

Sumber Asli
CNN Indonesia
Tanggal
9 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit
T

Tim Redaksi

SportKuratif

Artikel ini telah melalui proses kurasi dan penyuntingan oleh tim editor SportKuratif untuk memastikan akurasi, keterbacaan, dan relevansi konteks olahraga. Pelajari proses editorial kami →