Pasangan ganda campuran baru, Rahmat Hidayat dan Priskila Venus Elsadai, sukses mengawali langkah mereka di ajang Polytron Surabaya International Challenge 2026 dengan kemenangan dramatis. Berlaga di babak kualifikasi 16 besar pada Selasa (22/9/2026), pasangan dadakan ini berhasil menaklukkan duet Abdul Sabqi Azib dan Fiersha Aulia Aqilla Shafa melalui pertarungan tiga gim, 21-18, 18-21, 21-16.
Kemenangan ini menjadi sorotan karena kedua pemain tersebut sejatinya bukan merupakan pasangan tetap di pelatnas. Keputusan untuk memasangkan Rahmat yang selama ini dikenal sebagai spesialis ganda putra dengan Elsa di sektor ganda campuran merupakan langkah eksperimental yang cukup berani di tengah ketatnya jadwal turnamen internasional.
Bagi Rahmat, transisi bermain di sektor ganda campuran memberikan tantangan tersendiri. Ia mengaku masih harus beradaptasi dengan pola permainan yang sangat berbeda dibandingkan saat ia turun di ganda putra. Menurutnya, koordinasi di lapangan masih menjadi catatan utama, terutama dalam pembagian area depan dan belakang net yang sering kali tumpang tindih.
Elsa, di sisi lain, memberikan apresiasi tinggi terhadap komunikasi yang mereka bangun di tengah lapangan. Meski tanpa persiapan latihan bersama, keduanya mampu menjaga ketenangan saat ditekan oleh pasangan lawan yang tampil tanpa beban. Keberhasilan mereka memenangkan gim penentuan menunjukkan kualitas individu yang mumpuni meski belum memiliki chemistry yang matang.
Fenomena bongkar pasang pemain di turnamen level International Challenge merupakan strategi lumrah yang dilakukan PBSI untuk mencari komposisi terbaik. Langkah ini sering kali menjadi laboratorium bagi pemain untuk mengasah kemampuan adaptasi sebelum mereka diproyeksikan ke turnamen yang lebih bergengsi di level World Tour.
Dalam industri bulu tangkis Indonesia, fleksibilitas pemain untuk bermain di dua sektor menjadi aset berharga. Pelatih kerap mencari pemain yang memiliki kemampuan teknis fleksibel agar bisa menambal kekosongan saat terjadi cedera atau perubahan strategi tim nasional di masa depan.
Analisis teknis menunjukkan bahwa Rahmat masih harus banyak belajar mengenai distribusi bola di depan net. Di beberapa momen, ia terlalu sering berada di area depan, yang justru memaksa Elsa untuk mengambil posisi di belakang. Perubahan rotasi yang tidak ideal ini menjadi bahan evaluasi krusial bagi mereka sebelum melangkah ke babak berikutnya.
Di sisi lain, lawan yang mereka hadapi yakni Abdul dan Fiersha, menunjukkan perlawanan sengit. Sebagai pasangan junior yang bermain nothing to lose, mereka mampu menekan dan memaksa Rahmat/Elsa kehilangan gim kedua. Hal ini membuktikan bahwa peta kekuatan di turnamen level bawah tetap kompetitif dan menuntut fokus penuh dari pemain senior.
Menanggapi hasil pertandingan, Rahmat menyatakan rasa syukurnya karena bisa melewati laga perdana tanpa cedera. Ia sadar bahwa kemenangan hari ini merupakan hasil dari bantuan besar Elsa yang mampu menutupi kekurangannya dalam pola rotasi ganda campuran.
Elsa menegaskan bahwa kunci kemenangan mereka terletak pada saling menenangkan di saat-saat krusial. "Kami belum tahu karakter pasangan masing-masing secara mendalam, jadi kuncinya adalah saling mendukung saat poin lawan mengejar," ungkapnya usai pertandingan.
Menatap laga selanjutnya, pasangan ini dituntut untuk memperbaiki start permainan. Elsa menekankan pentingnya menjaga hawa permainan agar tidak kalah dominan dari lawan sejak poin pertama. Konsistensi menjadi harga mati jika mereka ingin melangkah lebih jauh di Surabaya.
Eksperimen ini diharapkan menjadi awal bagi Rahmat untuk memperluas jangkauan kemampuannya di lapangan. Meskipun belum ada pernyataan resmi apakah mereka akan dipasangkan secara permanen, penampilan perdana yang positif ini setidaknya memberikan opsi baru bagi sektor ganda campuran Indonesia yang tengah dalam proses regenerasi.