Arsenal membuka musim 2026/2027 dengan trofi pertama setelah mengalahkan Manchester City 3-0 di final Community Shield 2026 di Stadion Wembley, London, Minggu (16/8) malam WIB. Kemenangan itu diperoleh berkat performa luar biasa dari rekrutan baru Christos Tzolis yang langsung dijadikan starter di sayap kiri menggantikan Gabriel Martinelli yang absen.
Pemain asal Yunani itu membalas kepercayaan pelatih Mikel Arteta dengan dua assist yang langsung mengubah arah pertandingan. Di menit ke-28, Tzolis mengarahkan bola lewat tendangan sudut ke kepala Kai Havertz yang mengepakan gawang Stefan Ortega untuk gol kedua The Gunners. Tzolis tidak berhenti di situ. Di babak kedua, aksi solo-nya melewati Abdulkodir Khusanov diakhiri umpan presisi ke Martin Odegaard di kotak penalti. Kapten Arsenal itu mengecoh dua penunggu sebelum menyelesaikan aksi dengan tenang.
Penampilan Tzolis bukanlah kebetulan semata. Selama pramusim, bekas pemain Club Brugge sudah menunjukkan konsistensi dengan mencatat lima assist dan satu gol. Musim lalu di Belgia, ia bahkan mencetak rekor 29 assist di seluruh kompetisi — angka yang menempatkannya sebagai salah satu playmaker paling produktif di Eropa. Arteta sendiri mengakui kerja keras Tzolis selama masa persiapan menjadi alasan ia dipilih starter di laga bergengsi ini.
Statistik pertandingan memperkuat narasi dominasi Tzolis. Ia menciptakan tiga peluang, paling banyak di antara 22 pemain di lapangan, dua di antaranya dikategorikan peluang emas (big chances). Intensitasnya juga terlihat dari enam sentuhan bola di kotak penalti lawan, empat kali recovery, dan tiga tekel sukses. Angka-angka ini menunjukkan Tzolis bukan sekadar pencipta peluang, tapi juga berkontribusi di fase defensif.
Debut manis ini menempatkan Tzolis di samping nama legendaris. Ia menjadi pemain debutan pertama yang mencatat dua assist di Community Shield sejak David Beckham melakukannya untuk Manchester United pada 1996. Perbandingan dengan ikon Inggris itu tentu memicu ekspektasi tinggi, tapi Tzolis sendiri tetap tenang. "Saya hanya fokus membantu tim menang," ujarnya usai pertandingan.
Bagi Arsenal, kemenangan ini berarti lebih dari sekadar trofi pra-musim. The Gunners membuktikan kedalaman skuad mereka setelah kehilangan beberapa pemain kunci musim lalu. Kehadiran Tzolis memberikan variasi serangan di sayap kiri yang sebelumnya terlalu bergantung pada Martinelli. Fleksibilitas taktis Arteta kini semakin luas dengan opsi pemain yang bisa bermain di kedua sayap maupun posisi playmaker.
Di sisi lawan, Manchester City terlihat belum menemukan ritme. Pep Guardiola memainkan susunan yang banyak diperkuat pemain muda seperti Khusanov dan Nico O'Reilly. Ketiadaan Kevin De Bruyne dan Bernardo Silva terasa jelas di fase pembangunan serangan. City hanya menciptakan satu peluang berbahaya sepanjang 90 menit, sebuah tendangan Phil Foden yang diselamatkan David Raya.
Kemenangan 3-0 ini juga menjadi balasan bagi Arsenal yang kalah di final Community Shield tahun lalu di tangan City lewat adu penalti. Arteta dan anak asuhnya kini memulai musim dengan momentum positif sebelum laga pembukaan Premier League melawan Fulham pekan depan. Tzolis diharapkan bisa mempertahankan form ini saat liga bergulir.
Untuk penggemar sepak bola Indonesia, kisah Tzolis menarik karena mirip jalannya pemain-pemain Asia Tenggara yang berbakat tapi butuh patah belahan untuk tembus liga besar. Meskipun Tzolis berusia 24 tahun — tidak terlalu muda — perjalanannya dari PAOK ke Norwich, lalu dipinjamkan ke Fortuna Düsseldorf dan Club Brugge sebelum akhirnya mendarat di Emirates, menunjukkan ketekunan. Profil pemain tipe "late bloomer" ini sering jadi inspirasi bagi akademi muda di Nusantara.
Secara komersial, kedatangan Tzolis juga membuka peluang ekspansi pasar Arsenal di Eropa Timur dan Yunani. Klub utara London itu sadar potensi pasar baru di wilayah tersebut, apalagi dengan popularitas Premier League yang melonjak di Indonesia lewat siaran streaming. Jersey berekor nama Tzolis diprediksi akan laris di wilayah Yunani dan negara-negara Balkans.
Masuknya Tzolis ke skuad Arsenal juga memicu perdebatan soal masa depan Gabriel Martinelli. Brasilian itu telah menjadi andalan Arteta bertahun-tahun, tapi cedera berulang dan fluktuasi performa membuat posisinya terancam. Kompetisi sehat dengan Tzolis, ditambah kehadiran Raheem Sterling dan Leandro Trossard, memaksa Martinelli untuk meningkatkan konsistensi jika ingin mempertahankan tempat dasar.
Ke depan, tantangan nyata bagi Tzolis bukan di Community Shield, tapi di Premier League dan Liga Champions di mana intensitas dan fisikitas jauh lebih tinggi. Arteta akan mengelola menit mainnya dengan hati-hati, mengingat jadwal padat musim ini. Namun, debut sempurna di Wembley sudah jadi modal psikologis kuat. Jika Tzolis bisa mentransfer form pramusim ke liga, Arsenal punya senjata baru yang berbahaya di sayap kiri — dan gelar juara Liga Champions yang ditunggu 19 tahun mungkin tak lagi sekadar mimpi.