Zinedine Zidane resmi mengawali kiprahnya sebagai nakhoda Timnas Prancis dengan hasil positif. Dalam laga UEFA Nations League Grup A yang berlangsung di Turki pada Sabtu (26/9) dini hari WIB, skuad asuhan Zidane sukses mencuri kemenangan tipis 1-0 atas tuan rumah.
Gol tunggal kemenangan Les Bleus lahir dari kaki Kylian Mbappe pada menit ke-54. Meski mendominasi, laga berjalan cukup alot bagi kedua kesebelasan yang sama-sama mencatatkan lima tembakan tepat sasaran sepanjang pertandingan.
Kemenangan ini menjadi catatan penting bagi Zidane yang baru menangani tim selama tiga setengah sesi latihan. Sang pelatih mengaku puas dengan adaptasi cepat para pemainnya dalam menyerap taktik baru yang ia terapkan di lapangan.
Zidane menyebut progres tim sangat menjanjikan. Baginya, hasil ini adalah buah dari kerja keras pemain dalam waktu singkat, meskipun ia mengakui masih banyak ruang untuk perbaikan ke depannya.
Di balik kemenangan tersebut, Zidane memberikan apresiasi tinggi kepada tim tuan rumah. Ia menepis anggapan bahwa kondisi fisik pemain Turki akan menurun, sebaliknya, Arda Guler dan rekan-rekannya justru mampu menjaga intensitas permainan hingga peluit panjang dibunyikan.
Bagi Zidane, kunci utama dalam membangun tim nasional yang tangguh terletak pada keseimbangan. Ia menegaskan bahwa memiliki pemain berbakat saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan organisasi kolektif yang solid.
Strategi ini menjadi fokus utama Zidane agar tim tidak mudah dieksploitasi oleh lawan. Ia ingin memastikan bahwa saat Prancis menyerang, pertahanan tetap terjaga dengan disiplin tinggi.
Di Indonesia, pendekatan Zidane ini sering menjadi perdebatan menarik terkait filosofi kepelatihan. Banyak pengamat menilai bahwa transisi cepat dari individu ke kolektivitas adalah tantangan terbesar bagi setiap pelatih yang baru mengambil alih tim nasional.
Kondisi ini serupa dengan dinamika yang kerap dialami Timnas Indonesia saat menghadapi lawan dengan intensitas tinggi. Kedisiplinan organisasi tim menjadi pembeda, terutama saat menghadapi lawan yang secara fisik mampu mengimbangi permainan selama 90 menit.
Zidane pun menekankan bahwa ia tidak ingin timnya bergantung pada satu atau dua pemain saja. Meski memiliki deretan bintang kelas dunia, organisasi permainan tetap menjadi fondasi mutlak yang tidak bisa ditawar.
Menatap laga berikutnya, Prancis sudah ditunggu jadwal padat. Mereka akan bersua Belgia pada 29 September, disusul duel bergengsi kontra Italia pada 3 Oktober, dan kembali meladeni Belgia di kandang pada 6 Oktober mendatang.
Jadwal ini menjadi ujian sesungguhnya bagi Zidane untuk membuktikan bahwa kemenangan atas Turki bukanlah kebetulan. Konsistensi dalam menjaga keseimbangan tim akan menjadi penentu apakah Prancis dapat mendominasi Grup A hingga akhir kompetisi.