Kembalinya Roberto Mancini ke kursi kepelatihan tim nasional Italia tidak berjalan mulus seperti yang diharapkan para pendukung Gli Azzurri. Dalam laga pembuka UEFA Nations League Grup A yang digelar di Stadio Olimpico, Sabtu waktu setempat, Italia harus menelan kekalahan mengecewakan 0-2 di tangan Belgia. Hasil ini memaksa Italia terpuruk di posisi dasar klasemen grup, sementara Belgia sukses mencuri tiga poin penuh di markas lawan.
Pertandingan berjalan sengit sejak peluit awal dibunyikan. Kedua tim saling jual beli serangan, dengan kiper Gianluigi Donnarumma dan Senne Lammens dipaksa bekerja keras mengamankan gawang masing-masing dari upaya Moise Kean serta Charles De Ketelaere. Namun, ketenangan Belgia dalam mengeksekusi peluang terbukti lebih unggul dalam laga ini.
Kebuntuan pecah pada menit ke-20 ketika Godts berhasil menembus lini pertahanan Italia. Ia mengecoh Gianluca Mancini dan Diego Coppola sebelum melepaskan tembakan mendatar yang tak mampu dijangkau Donnarumma. Gol tersebut menjadi titik balik dominasi Belgia yang terus menekan pertahanan tuan rumah sepanjang sisa babak pertama.
Italia sempat mencoba bangkit melalui aksi individu Donnarumma yang melakukan serangkaian penyelamatan krusial. Kapten Italia itu menggagalkan peluang emas dari De Ketelaere dan Nicolas Raskin, menjaga asa timnya untuk tidak tertinggal lebih jauh sebelum turun minum. Meski demikian, lini serang Italia tampak kesulitan menembus organisasi pertahanan Belgia yang dikawal dengan disiplin di bawah arahan Mark van Bommel.
Memasuki babak kedua, perubahan taktik dilakukan kubu Italia dengan bermain lebih agresif. Moise Kean hampir menyamakan kedudukan, namun penyelamatan gemilang menggunakan kaki dari Lammens menggagalkan upaya tersebut. Francesco Pio Esposito juga mendapatkan peluang emas melalui sundulan dan tembakan langsung, namun lagi-lagi ketangguhan kiper Belgia menjadi tembok besar yang sulit diruntuhkan.
Petaka bagi Italia datang pada menit ke-69. Dodi Lukebakio menunjukkan kelasnya dengan melakukan aksi solo run dari garis tengah. Ia melewati Sandro Tonali dan Daniel Maldini sebelum melepaskan tembakan melengkung indah dari luar kotak penalti yang bersarang di sudut kiri bawah gawang Italia. Gol kedua ini seolah mengunci kemenangan bagi tim tamu.
Upaya Italia untuk memperkecil ketertinggalan di menit-menit akhir tidak membuahkan hasil. Peluang dari Riccardo Calafiori dan Giorgio Scalvini yang berada dalam posisi ideal gagal dikonversi menjadi gol. Skor 0-2 bertahan hingga laga usai, memberikan awal yang pahit bagi periode kedua Mancini di timnas Italia.
Kekalahan ini memberikan sinyal bahaya bagi Mancini yang memikul ekspektasi besar untuk membangkitkan kembali kejayaan Gli Azzurri. Di sisi lain, kemenangan ini menjadi debut manis bagi Mark van Bommel yang berhasil membawa Belgia memuncaki klasemen Grup A, mengungguli Prancis yang pada laga lain menang tipis atas Turki.
Bagi publik sepak bola Indonesia, dinamika pergantian pelatih dan kegagalan meraih hasil instan di level elit Eropa menjadi pelajaran berharga. Seringkali, pergantian nakhoda tim tidak serta merta memberikan perubahan instan jika fondasi taktik belum sepenuhnya menyatu dengan pemain di lapangan. Hal ini mencerminkan betapa kompetitifnya turnamen antarnegara Eropa yang menuntut konsistensi tinggi di setiap lini.
Analisis mendalam menunjukkan bahwa Italia sedang berada dalam fase transisi yang cukup berat. Ketidakmampuan mengonversi peluang menjadi gol, meski mendominasi penguasaan bola pada babak kedua, menjadi pekerjaan rumah utama yang harus segera diselesaikan oleh staf pelatih sebelum laga berikutnya melawan Turki.
Ke depan, Belgia akan menatap laga krusial melawan Prancis dengan kepercayaan diri tinggi. Sementara bagi Mancini, perjalanan masih panjang. Ia dituntut untuk segera menemukan formula terbaik agar Italia tidak semakin terpuruk di dasar klasemen dan mampu bersaing memperebutkan tiket ke babak selanjutnya.
Secara keseluruhan, laga ini menjadi bukti bahwa taktik defensif yang solid dan transisi serangan yang mematikan tetap menjadi kunci utama dalam sepak bola modern. Italia perlu merefleksikan kembali strategi mereka jika ingin kembali ke jajaran elit sepak bola dunia di bawah komando Mancini.