Langkah ganda putra Indonesia, Devin Artha Wahyudi dan Ali Faathir Rayhan, harus terhenti lebih cepat pada turnamen Denmark Open 2026. Dalam debut yang dinantikan oleh para penggemar bulu tangkis Tanah Air, pasangan muda ini belum mampu menunjukkan performa terbaik mereka di SJF Bank Arena, Odense, Denmark, pada Selasa (waktu setempat).
Menghadapi pasangan China, Hu Ke Yuan dan Lin Xiang Yi di babak pertama, Devin/Faathir dipaksa mengakui keunggulan lawan dua gim langsung. Skor akhir 14-21, 20-22 menjadi bukti nyata betapa beratnya tekanan yang dihadapi pasangan debutan ini di panggung internasional level tinggi.
Sejak gim pertama dimulai, pola permainan Devin/Faathir tampak kurang berkembang. Mereka kesulitan keluar dari tekanan yang dilancarkan oleh pasangan China tersebut. Dominasi lawan yang sangat ketat membuat Devin dan Faathir kehilangan kontrol atas jalannya pertandingan, sehingga lawan dengan mudah mendikte arah bola.
Devin Artha Wahyudi secara terbuka mengakui bahwa mereka gagal mengantisipasi kecepatan permainan lawan. Menurutnya, kegagalan dalam menguasai bola-bola depan menjadi titik lemah yang terus dimanfaatkan oleh Hu Ke Yuan dan Lin Xiang Yi sepanjang pertandingan.
Masalah utama yang dirasakan adalah ketidakmampuan mereka untuk mengambil inisiatif serangan. Sepanjang laga, mereka lebih banyak berada dalam posisi tertekan, yang memaksa mereka untuk terus bermain bertahan dan merespons serangan lawan alih-alih membangun pola permainan sendiri.
Memasuki gim kedua, sempat ada harapan bagi pasangan Indonesia untuk memperpanjang napas. Mereka mencoba mengubah taktik dengan lebih berani beradu di area depan net. Namun, usaha tersebut belum konsisten dan kerap berakhir dengan kesalahan sendiri.
Ali Faathir Rayhan menambahkan bahwa faktor ketenangan menjadi catatan evaluasi yang sangat krusial bagi mereka. Permainan yang terburu-buru sering kali membuahkan poin gratis bagi lawan, sebuah kesalahan fatal dalam level turnamen yang setara dengan Denmark Open.
Kekalahan ini memberikan pelajaran berharga bagi regenerasi ganda putra Indonesia. Persaingan di level senior menuntut kematangan mental yang tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga kecerdasan dalam membaca situasi saat berada di bawah tekanan besar.
Evaluasi mendalam tentu akan dilakukan oleh tim pelatih PBSI sekembalinya mereka ke Tanah Air. Pola permainan yang cenderung mengangkat bola saat ditekan harus segera dihilangkan agar mereka tidak terus-menerus menjadi target serangan lawan.
Lebih jauh, kekalahan ini juga menyoroti pentingnya jam terbang bagi pasangan muda. Denmark Open merupakan panggung besar dengan standar kompetisi yang sangat ketat, di mana setiap kesalahan kecil akan langsung dihukum oleh lawan yang sudah lebih berpengalaman.
Ke depan, Devin dan Faathir perlu memperkuat koordinasi di lapangan. Komunikasi antarpemain saat menghadapi situasi kritis sangat menentukan keberhasilan mereka dalam membalikkan keadaan ketika pola permainan utama tidak berjalan sesuai rencana.
Tren bulu tangkis dunia saat ini memang semakin menuntut kecepatan dan efisiensi. Jika Devin dan Faathir ingin menembus jajaran elit dunia, perbaikan pada aspek kontrol bola depan dan ketenangan saat tertinggal menjadi prioritas utama yang harus diselesaikan dalam sesi latihan mendatang.