Rodrigo De Paul tak menyembunyikan kekecewaan saat Inter Miami tumbang 1-4 di tangan Nashville SC di Geodis Park, Minggu (16/8) dini hari WIB. Di menit ke-68, gelandang Argentina itu mendekati wasit Drew Fischer sambil menunjuk bintang di dada jerseynya — simbol gelar MLS yang diraih Inter Miami musim lalu. "Apa yang sudah kau menangi? Apakah kau punya ini?" ucap De Paul sambil menepuk badge tersebut, seperti dilansir Tribuna.
Peristiwa itu terjadi setelah serangkaian keputusan Fischer yang dinilai memihak oleh pemain Inter Miami. De Paul, yang baru pulih dari cedera, tampak emosional saat timnya tertinggal jauh. Wasit Fischer hanya memberikan peringatan lisan tanpa mengeluarkan kartu kuning, meski aturan FIFA melarang pemain menantang otoritas wasit dengan gestur provokatif.
Kontroversi ini mengundang perdebatan hangat di media sosial. Sebagian penggemar memuji kepercayaan diri De Paul sebagai juara dunia dan juara MLS. "Dia berbicara dengan fakta," tulis satu akun di X. Namun kritikus menilai tindakan itu tidak sportif. "Wasit punya kewenangan penuh di lapangan. Menunjuk trofi bukan alasan untuk tidak dihukum," komentar analis sepak bola Argentina, Gaston Edul.
De Paul memang memiliki resume yang mengesankan. Bersama Argentina, ia mengoleksi Piala Dunia 2022, Copa America 2021 dan 2024, serta Finalissima 2022. Di tingkat klub, ia membawa Atletico Madrid ke gelar La Liga 2020-21 sebelum bergabung ke Inter Miami musim lalu dan meraih MLS Cup serta Supporters' Shield. Total trofi senior yang diraihnya sudah melebihi 15 gelar.
Namun, statistik personal tidak pernah menjadi kekebalan dari disiplin lapangan. Sejarah mencatat Lionel Messi pernah kena kartu kuning untuk mendesah ke wasit di final Copa America 2021. Cristiano Ronaldo pun pernah dikartu merah untuk mendorong wasit di Supercopa Spanyol 2017. Keduanya adalah ikona dengan trofi jauh lebih banyak, namun tetap tunduk pada aturan.
Kasus De Paul juga menyoroti tekanan mental pemain bintang di liga AS. Inter Miami saat ini menduduki puncak Konferensi Timur, namun kalah telak dari Nashville memperlihatkan kerapuhan tanpa Lionel Messi yang cedera. De Paul harus memikul beban kreatifitas tengah lapangan sekaligus jadi pemimpin emosional — peran yang tidak selalu mudah bagi pemain yang terbiasa bermain di sistem taktis ketat di Eropa.
Dari perspektif wasit, keputusan Fischer tidak mengeluarkan kartu bisa jadi langkah bijak untuk menenangkan suasana. Mengeluarkan kartu kuning justru bisa memicu keributan lebih besar dari pemain Nashville. Manajemen pertandingan modern memang menganjurkan pendekatan dialogis sebelum sanksi disiplin, asalkan batas-batas hormat tetap dijaga.
Di Indonesia, fenomena serupa pernah terjadi saat Egy Maulana Vikri bertengkar dengan wasit di liga Belanda, atau ketika Hansamu Yama menentang keputusan wasit di Liga 1. Bedanya, konteks budaya sepak bola Indonesia lebih toleran terhadap emosi pemain, selama tidak melampaui batas fisik. Namun, era VAR dan media sosial membuat setiap gestur terekspos global dalam hitungan detik.
Pelatih Inter Miami, Javier Mascherano, belum memberi komentar resmi soal perilaku De Paul pasca laga. Mantan kapten Argentina itu sendiri dikenal sebagai pemain emosional saat masih aktif, namun kini harus mengelola emosi pemain bintang lain dari bangku cadangan. Mascherano perlu memastikan De Paul tetap fokus pada target gelar berganda musim ini, bukan terjebak drama sideline.
Liga MLS telah menetapkan kode etik ketat soal interaksi pemain-wasit. Pelanggaran "dissent by word or action" bisa dihukum denda hingga suspensi jika terulang. De Paul, yang kontraknya berjalan hingga 2027, harus berhati-hati. Reputasinya sebagai profesional senior diuji tidak hanya di lapangan, tapi juga di momen tekanan seperti ini.
Ke depan, Insiden ini jadi pelajaran bagi seluruh ekosistem sepak bola: trofi adalah bukti kemampuan, bukan alat tekanan. Wasit Drew Fischer mungkin tidak punya bintang di dadanya, tapi ia memegang penguasaan penuh atas 90 menit pertandingan. Hormat itu dua arah — dan itulah esensi sportivitas yang sesungguhnya.