David Howard bukan nama besar di dunia golf profesional. Namun kehadirannya di Royal Birkdale pekan ini menjadi salah satu kisah paling menginspirasi dalam The Open ke-154 yang berlangsung pada 16–19 Juli 2025. Pria 27 tahun asal County Cork, Irlandia, ini merupakan mekanik terlatih yang berhasil meloloskan diri ke turnamen mayor bergengsi tersebut.
Howard menyusul 156 pegolf yang berlaga di kejuaraan tertua golf tersebut. Perjalanannya menuju lapangan utama bukan sekadar prestasi olahraga biasa. Sejak usia tujuh tahun, ia didiagnosis menderita cystic fibrosis, kelainan genetik yang memicu penumpukan lendir kental di paru-paru dan sistem pencernaan. Kondisi itu membuatnya rutin dirawat di rumah sakit beberapa kali setiap tahun.
Latar belakang medis Howard memperlihatkan betapa tipisnya harapan yang ia miliki di masa kecil. Ketika pertama kali mendapat akses telepon pintar pada usia 12 atau 13 tahun, ia mencari informasi mengenai ekspektasi hidup penderita cystic fibrosis. Mesin pencari saat itu menunjukkan angka pertengahan 20-an tahun. Howard sendiri mengaku tidak menyangka bisa hidup sampai usia sekarang.
Titik balik datang pada 2018 ketika ia memperoleh akses terhadap terapi obat baru. Menurut Howard, pengobatan tersebut benar-benar mengubah hidupnya. Namun periode pandemi Covid-19 membawa episode kelam. Kekhawatiran akan infeksi memaksanya mengisolasi diri secara ketat. Situasi itu berujung pada krisis psikologis; ia mengalami psikosis dan episode manik hingga harus dirawat beberapa pekan.
Setelah terbaring lemah berbulan-bulan, Howard bangkit dengan menyelesaikan magang sebagai mekanik dan kembali memegang stik golf. Olahraga itu ia tekuni serius sejak akhir masa remajanya. Penyakit yang dideritanya tidak lantas menghentikan langkah. Ia kini harus mengonsumsi 25 hingga 30 tablet setiap hari untuk menjaga tubuhnya tetap berfungsi.
Dari sudut pandang teknologi kesehatan, kasus Howard menunjukkan bagaimana kemajuan bioteknologi berbasis modulator CFTR telah merevolusi prognosis penyakit langka. Obat-obatan generasi terbaru memungkinkan penderita cystic fibrosis hidup lebih panjang dan aktif. Sayangnya, akses terhadap terapi semacam ini di Indonesia masih sangat terbatas. Harga yang tinggi dan belum meratanya skema jaminan kesehatan membuat banyak pasien dalam negeri kesulitan mendapatkan obat serupa.
Di Indonesia, komunitas golf amatir terus tumbuh, namun atlet dengan kondisi penyakit kronis jarang muncul ke permukaan. Dukungan sistemik berupa integrasi teknologi pemantauan kesehatan dan program olahraga inklusif masih minim. Keberhasilan Howard seharusnya memicu refleksi bagi ekosistem olahraga tanah air: teknologi medis dan semangat advokasi dapat membuka jalan bagi penyandang disabilitas untuk berprestasi di level elite.
Lebih jauh, portal teknologi kerap menyoroti peran inovasi dalam memperluas batas kemampuan manusia. Howard merupakan contoh nyata di mana bioteknologi bertemu dengan motivasi individu. Jika Indonesia bisa mengadopsi kebijakan subsidi obat langka serta memanfaatkan telemedicine untuk edukasi penderita, bukan tidak mungkin lahir atlet-atlet inspiratif dari latar belakang serupa.
“Saat usia 12 atau 13, saya tidak menyangka akan hidup sampai usia ini. Berada di sini, sehat seperti biasa dan bermain bersama pemain top, rasanya tidak masuk akal,” ujar Howard kepada BBC Sport NI. Ia juga menegaskan niatnya bukan sekadar melengkapi kuota peserta. “Saya tidak datang untuk menjadi pelengkap. Saya ingin memberikan performa terbaik dan melihat sejauh mana saya bisa melangkah.”
Howard meraih gelar East of Ireland 2025 sebelum menjejakkan kaki di kualifikasi akhir Dundonald Links. Bersama ayahnya, John, sebagai kaddie, ia mencatatkan 69 dan 71 pukulan sehingga finis berbagi peringkat kedua pada empat di bawah par. Tiket ke Birkdale pun di tangan. Pekan lalu, ia bahkan berlatih bersama legenda golf Irlandia Padraig Harrington dan Shane Lowry.
Ke depan, Howard akan memulai putaran pertama pada Kamis pukul 10.42 BST bersama Kazuma Kobori dari Selandia Baru dan Tom Sloman dari Inggris. Peringkat amatir dunianya memang berada di posisi 1.441, namun ia membawa misi lebih besar. Setiap pukulan yang ia lakukan menjadi simbol bahwa batasan medis tidak harus menjadi penghalang ambisi.
Tren positif dalam dunia olahraga global menunjukkan makin banyak atlet dengan kondisi khusus yang mendapat panggung utama berkat dukungan ilmu pengetahuan dan teknologi. Perjalanan Howard di The Open 2025 mungkin hanya satu babak, tetapi dampak advokasinya diprediksi berumur panjang. Ia berharap keluarga penderita cystic fibrosis di mana pun, termasuk Indonesia, terus berjuang dan mengejar mimpi.