Piala Dunia 1998 menjadi panggung pertama David Batty mengeksekusi penalti profesional, sekaligus ajang yang mengukir namanya dalam memori publik Inggris. Pada babak 16 besar kontra Argentina, pertandingan berakhir imbang dan harus ditentukan lewat adu penalti. Batty maju sebagai eksekutor kelima, namun tendangannya ditepis kiper Carlos Roa. Inggris tersingkir.
Yang menarik, pemain kelahiran Yorkshire itu tidak larut dalam kesedihan. Ia justru meninggalkan lapangan dengan kepala tegak. Malam itu, saat keluar ruang ganti, Batty malah bertanya kepada agen sekaligus sahabatnya, Hayden Evans, yang turun dari tribun untuk menengoknya, mengapa harus repot-repot datang. Sikap tenang itu berlanjut ketika sebuah perusahaan makanan cepat saji ingin memakainya dalam iklan yang mengejek kegagalan penaltinya. Batty menolak karena tidak ingin meraup untung dari kekecewaan pendukung yang sudah jauh-jauh menyaksikan Piala Dunia.
Kepribadian itu membuatnya dikagumi suporter. Namun, kisah sesungguhnya baru terlihat ketika ia gantung sepatu pada 2004. Batty memutuskan benar-benar menjauh dari industri sepak bola. Evans, yang mengenalnya sejak lama, menegaskan kliennya tidak akan pernah melatih atau mencari jalan kembali ke dunia bola. "David menepati janjinya. Sehari setelah pensiun, dia bilang tak akan sangkut-paut dengan sepak bola lagi," ujar Evans.
Janji itu bukan isapan jempol. Pada Desember lalu, grup WhatsApp mantan pemain Leeds United yang berisi Rio Ferdinand, Mark Viduka, Jason Wilcox, hingga mantan manajer David O'Leary, berdering ramai-ramai. Mereka mengirim ucapan selamat ulang tahun ke-57 untuk Batty. Masalahnya, ia tidak ada dalam grup tersebut. Viduka menyebut tak seorang pun rekan satu kamar ganti yang tahu di mana pria tersebut berada.
Beragam rumor lucu bermunculan seiring hilangnya jejak Batty. Ada yang bilang ia juara balap motor super di bawah nama samaran, ada pula yang menyebutnya menjadi tukang daging ahli atau pilih tinggal di karavan tanpa terhubung dunia luar. Kenyataannya mungkin tak seekstrem itu, tetapi jelas ia bukan tipe yang ingin tetap eksis di sorotan.
Di Indonesia, kemunculan mantan pemain pasca-karier hampir selalu beririsan dengan dunia hiburan atau bisnis. Banyak legenda sepak bola lokal yang beralih profesi menjadi pelatih, komentator televisi, atau influencer media sosial. Batty menunjukkan jalan lain: pensiun total dan fokus pada keluarga di Yorkshire. Bagi pembaca teknologi, ironi terlihat saat aplikasi pesan instan seperti WhatsApp justru gagal menjembatani komunikasi antarmantan bintang karena subjek memang sengaja memutus koneksi.
Fenomena ini mengundang refleksi tentang batas privasi di era digital. Atlet masa kini, termasuk di Tanah Air, kerap membagi setiap detail sarapan hingga liburan melalui platform daring. Batty, yang menurut mantan fisioterapis Dave Hancock tak pernah berlibur ke luar negeri dan hidup dengan kesenangan sederhana, membuktikan bahwa multimiliuner sepak bola tak harus selalu tampil di linimasa.
Dampaknya bagi penggemar Indonesia mungkin terasa jauh, namun menyentuh aspek budaya olahraga. Ketika klub-klub lokal mulai meniru gaya promosi Eropa, kisah Batty mengingatkan bahwa nilai seorang pemain tidak diukur dari seberapa sering ia muncul di layar atau berapa banyak konten sponsor yang dibagikan.
Rekan-rekannya mengenang Batty sebagai sosok pelindung di lapangan. Eirik Bakke, mantan rekan di Leeds, menyebutnya sebagai pahlawan yang selalu membela rekan jika dilanggar lawan. "Pemain seperti dia jarang ada. Kau selalu bisa mengandalkannya," kata Bakke. John Sheridan, mentor awal Batty di Leeds, memuji ketangguhannya meski penampilan luarnya tampak polos.
Hancock, yang menangani rehabilitasi cedera achilles Batty, menuturkan karakter unik tersebut. "Sepanjang karier saya, belum pernah bertemu tipe seperti Batts. Dia talisman sejati, pria Yorkshire yang keras namun hidupnya sederhana." Di Blackburn, saat juara 1995, Batty malah tidak mengambil medali karena merasa rekan Mark Atkins layak mendapatnya setelah menggantikan posisinya yang cedera kaki.
Atkins membenarkan sikap rendah hati itu. Ia mengaku tak bisa menghubungi Batty untuk reuni mantan pemain. "Dia pribadi yang sangat privat. Meski tinggal dekat, mungkin dia tak akan datang," ucap Atkins. Satu-satunya penampilan publik Batty belakangan adalah meletakkan karangan bunga di Elland Road untuk mengenang Gary Speed pada 2011.
Menjelang bentrokan kembali Inggris dan Argentina di fase gugur Piala Dunia, nama Batty kembali diusik. Tidak untuk menyalahkan, melainkan menengok figur yang memilih sunyi. Tren atlet yang memegang teguh privasi mungkin akan tetap langka, namun keputusannya membuka wacana bahwa akhir karier tak harus berujung pada panggung baru.