Dua tahun berlalu sejak Daniel Ricciardo menjalani balapan terakhirnya di Formula 1. Kini, mantan pembalap McLaren dan Red Bull tersebut mulai membuka pintu bagi kemungkinan untuk kembali berkompetisi, meskipun bukan dalam format satu musim penuh. Fokus utamanya bukan lagi mengejar ambisi kejayaan di ajang jet darat, melainkan mencari penutup karier yang lebih personal dan membahagiakan.
Dalam wawancara di podcast Beyond The Grid, pria asal Australia itu mengungkapkan bahwa pandangannya tentang pensiun telah bergeser. Jika setahun lalu ia bersumpah untuk tidak lagi mengenakan helm balap, kini ia mulai mempertimbangkan partisipasi di ajang ketahanan legendaris, 24 Hours of Le Mans. Baginya, balapan tersebut menawarkan atmosfer yang berbeda dari egoisme yang kental di Formula 1.
Ricciardo mengakui bahwa Formula 1 adalah dunia yang sangat mementingkan diri sendiri. Meskipun memiliki rekan setim, persaingan antar pembalap dalam satu garasi sering kali menjadi penghalang bagi kolaborasi yang tulus. Di ajang seperti Le Mans, berbagi mobil dan data dengan rekan setim menjadi keharusan, sebuah dinamika yang kini lebih menarik baginya dibandingkan dengan persaingan kejam di F1.
Keputusan untuk kembali ke balik kemudi tidak diambil dengan terburu-buru. Ricciardo sangat berhati-hati agar langkah ini tidak didasari oleh ego atau sekadar keinginan untuk menciptakan dongeng akhir karier yang manis. Ia menegaskan bahwa jika ia benar-benar kembali, motivasinya harus berasal dari keinginan internal yang tulus, bukan untuk menyenangkan penggemar atau pihak lain yang menyesalkan cara kariernya di F1 berakhir.
Faktor fisik juga menjadi pertimbangan serius. Ricciardo mengakui bahwa intensitas latihannya tidak lagi sama seperti saat ia masih aktif membalap secara penuh. Namun, tantangan teknis dan psikologis dari balap ketahanan tetap memikat. Ia bertanya pada dirinya sendiri, apakah ia mampu berkompetisi tanpa terjebak dalam ambisi untuk menang yang bisa saja memicu kembali api kompetisi yang sempat meredup.
Ide menarik muncul ketika ia ditanya mengenai rekan setim impian. Ricciardo secara terbuka menyebut nama Max Verstappen, mantan rekan setimnya di Red Bull, sebagai sosok yang ingin ia ajak berbagi kokpit. Bahkan, muncul spekulasi mengenai kemungkinan reuni trio Red Bull dengan melibatkan Sebastian Vettel, yang baru-baru ini telah menguji mobil Hypercar Porsche.
Bagi penggemar otomotif di Indonesia, wacana ini mencerminkan tren yang berkembang di dunia balap profesional. Banyak pembalap elit dunia mulai melirik WEC (World Endurance Championship) sebagai pelabuhan baru setelah meninggalkan F1. Fenomena ini menunjukkan bahwa balap ketahanan menawarkan fleksibilitas dan kepuasan emosional yang sering kali hilang dalam ketatnya jadwal F1.
Di Indonesia sendiri, popularitas ajang ketahanan memang belum setinggi F1 atau MotoGP. Namun, kehadiran sosok ikonik seperti Ricciardo di Le Mans berpotensi mendongkrak minat penggemar balap tanah air terhadap seri WEC. Hal ini bisa menjadi pintu masuk bagi promotor lokal untuk mulai melirik potensi kolaborasi atau penyiaran ajang ketahanan yang lebih luas di masa depan.
Ricciardo menyadari bahwa sekali helm terpasang, insting pembalapnya akan kembali bekerja. Ia tidak ingin sekadar hadir sebagai pelengkap atau penonton di lintasan. Jika ia memutuskan untuk turun di Le Mans, ia dipastikan akan melakukannya dengan profesionalisme penuh dan dedikasi untuk tampil kompetitif, meski ia sendiri masih meragukan apakah hatinya benar-benar siap untuk berkomitmen kembali.
Langkah selanjutnya bagi sang pembalap adalah refleksi mendalam. Ia tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan yang nantinya justru membuka kembali kotak Pandora yang sudah ia tutup dengan damai. Untuk saat ini, Ricciardo lebih memilih untuk menikmati masa tenangnya sambil membiarkan waktu menjawab apakah ia masih memiliki hasrat membara untuk kembali ke lintasan balap.
Tren ini juga memberikan pelajaran bagi para atlet di Indonesia mengenai pentingnya mencari penutup karier yang memberikan kepuasan batin. Sering kali, atlet merasa tertekan untuk terus tampil atau pensiun dengan cara yang spektakuler, padahal yang terpenting adalah kenyamanan diri sendiri. Keputusan Ricciardo untuk tidak memaksakan diri adalah sebuah bentuk kedewasaan dalam mengelola karier profesional.
Ke depannya, jika Ricciardo benar-benar merealisasikan rencana ini, kita mungkin akan melihat pergeseran besar dalam lanskap balap internasional. Kehadiran bintang besar di Le Mans akan semakin memperkuat posisi ajang tersebut sebagai destinasi utama bagi para pembalap yang mencari tantangan baru di luar hingar-bingar sirkus F1.