Kabar kurang sedap menghampiri skuad Garuda jelang perhelatan FIFA ASEAN Cup 2026. Kapten Timnas Indonesia, Jay Idzes, dipastikan absen membela tanah air setelah mengalami cedera paha saat memperkuat Sassuolo dalam laga kontra Juventus di Serie A pekan lalu. Idzes, yang tampil sebagai starter, terpaksa ditarik keluar pada menit ke-81 setelah merasakan nyeri di bagian paha, yang kemudian dikonfirmasi melalui pemeriksaan medis lanjutan.
Absennya Idzes menjadi pukulan telak bagi arsitek timnas. Pemain berusia 26 tahun tersebut telah menjadi pilar utama di jantung pertahanan dengan kemampuan distribusi bola serta ketenangan yang jarang dimiliki bek lokal lainnya. Melalui unggahan di media sosial pribadinya, Idzes mengungkapkan rasa kecewanya karena harus melewatkan momentum penting ini, terutama setelah ia juga sempat absen pada jeda internasional sebelumnya akibat masalah serupa.
Krisis lini belakang Indonesia kian terasa karena Mees Hilgers, yang diproyeksikan menjadi rekan tandem ideal bagi Idzes, juga masih menjalani proses pemulihan cedera. Kondisi ini memaksa jajaran pelatih untuk memutar otak dalam menentukan komposisi bek tengah yang mampu menjaga stabilitas pertahanan Garuda saat menghadapi lawan-lawan di tingkat Asia Tenggara.
Kehilangan dua bek utama dari liga top Eropa tentu memberikan tantangan besar bagi kedalaman skuad. Namun, Indonesia beruntung memiliki kedalaman pemain yang cukup kompetitif di posisi bek tengah. Beberapa nama kini mulai mencuat sebagai kandidat kuat untuk mengambil alih komando lini belakang yang ditinggalkan oleh Idzes.
Elkan Baggott menjadi opsi pertama yang paling masuk akal. Bek Millwall FC ini memiliki keunggulan fisik yang dominan, terutama dalam duel udara. Kemampuannya memenangi bola-bola atas akan sangat krusial untuk meredam serangan balik lawan yang sering mengandalkan umpan silang. Baggott diharapkan mampu menjadi tembok kokoh sekaligus mentor bagi bek-bek muda lainnya.
Di sisi lain, Justin Hubner menawarkan profil bek dengan gaya permainan yang lebih agresif dan disiplin tinggi. Hubner dikenal memiliki kemampuan membaca arah bola yang tajam, sebuah atribut yang sangat dibutuhkan untuk memutus alur serangan lawan sebelum memasuki kotak penalti. Karakter permainannya yang keras bisa memberikan proteksi ekstra bagi kiper Indonesia.
Jordi Amat, meski kini berkarier di Liga 1 bersama Persija Jakarta, tetap menjadi figur sentral yang tidak bisa dikesampingkan. Pengalaman segudang di kompetisi Eropa dan laga internasional menjadi modal utama bagi Jordi untuk memimpin barisan pertahanan. Kepemimpinannya di lapangan akan sangat dibutuhkan untuk menjaga konsentrasi tim selama 90 menit pertandingan.
Kevin Diks juga muncul sebagai alternatif multifungsi yang menarik. Meski posisi aslinya lebih sering di sisi kanan, Diks memiliki fleksibilitas taktis untuk bermain di jantung pertahanan. Pengalamannya bertanding di level Eropa memberikan ketenangan tersendiri saat tim berada di bawah tekanan lawan, menjadikannya sosok yang bisa diandalkan sebagai dirijen pertahanan.
Tidak ketinggalan, Rizky Ridho tetap menjadi kandidat paling konsisten. Sebagai kapten Persija Jakarta dan wakil kapten timnas, Ridho memiliki chemistry yang sudah teruji saat berduet dengan Idzes. Kualitasnya sebagai bek modern yang mampu membangun serangan dari bawah menjadikannya pilihan yang sangat taktis bagi strategi pelatih.
Absennya Idzes dan Hilgers sebenarnya menjadi ujian bagi kemandirian sistem pertahanan Indonesia. Selama ini, ketergantungan pada pemain diaspora memang memberikan dampak instan pada kualitas permainan, namun situasi ini menjadi momentum untuk melihat sejauh mana kedalaman skuad lokal berkembang dalam menambal celah tersebut.
Strategi yang akan diterapkan oleh pelatih kemungkinan besar akan berfokus pada transisi pertahanan yang lebih rapat. Tanpa Idzes, tim tidak bisa hanya mengandalkan satu pemain sebagai tembok terakhir, melainkan harus menerapkan sistem pertahanan kolektif yang lebih terorganisir untuk meminimalisir kesalahan individu.
Menatap masa depan, ketersediaan pemain di lini belakang menjadi pekerjaan rumah besar bagi PSSI. Regenerasi dan pemantauan pemain yang konsisten di berbagai liga menjadi keharusan agar ketika pemain kunci seperti Idzes absen, performa tim tidak mengalami penurunan drastis. FIFA ASEAN Cup 2026 akan menjadi panggung pembuktian bagi para kandidat pengganti untuk menunjukkan kapasitas mereka di hadapan publik.