Olahraga

Cristian Volpato Ditangkap Polisi Sydney, Uji Narkoba Positif Kokain

Ringkasan

  • Pesepakbola Australia Cristian Volpato ditangkap dua kali dalam satu malam oleh Polisi New South Wales atas kecepatan berlebih dan diduga positif kokain berdasarkan tes di pinggir jalan.

Pesepakbola Australia Cristian Volpato menjadi sorotan media internasional setelah terlibat serangkaian insiden dengan kepolisian Sydney pada malam Kamis hingga dini hari Jumat (23-24/7). Pemain berusia 22 tahun itu pertama kali dihentikan petugas di sekitar pukul 23.00 waktu setempat setelah diduga mengemudi melebihi batas kecepatan yang diizinkan. Dalam pemeriksaan awal, Volpato menjalani tes alkohol dan hasilnya dinyatakan negatif. Polisi kemudian memberinya surat tilang dan mengizinkannya melanjutkan perjalanan.

Kendati sudah diberi peringatan, Volpato kembali kehilangan kendali kecepatan kurang dari dua jam kemudian. Pada pukul 01.00 dini hari, kendaraannya terdeteksi melaju 109 kilometer per jam saat melintas Jembatan Anzac — angka yang melampaui batas 60 kilometer per jam hingga 50 kilometer per jam. Pelanggaran berat ini memaksa petugas melakukan pemeriksaan lebih lanjut, termasuk tes narkoba di pinggir jalan yang menunjukkan indikasi positif kokain.

Volpato bukan nama asing bagi penggemar sepak bola dunia. Pemain sayap yang lahir di Camperdown, Sydney, 20 November 2003, pernah memperkuat tim muda AS Roma sebelum pindah ke Sassuolo pada 2023. Ia juga mewakili Australia di Piala Dunia 2022 di Qatar, meskipun hanya mendapat kesempatan bermain terbatas. Karir internasionalnya dimulai dari pilihan mewakili Australia daripada Italia, negara asal orang tuanya, keputusan yang sempat memicu perdebatan di media Eropa.

Insiden ini mengungkap sisi gelap tekanan yang dihadapi atlet muda di level elit. Transisi dari akademi ke tim senior, scrutini media, dan ekspektasi performa konstan sering menciptakan beban psikologis yang tidak terlihat dari tribun. Beberapa kasus serupa di liga Eropa — seperti Paul Pogba yang tersanksi doping atau Adrien Rabiot yang pernah terlibat kontak narkoba — menunjukkan pola kerentanan pemain usia produktif terhadap godaan di luar lapangan.

Kebijakan narkoba di olahraga Australia dikenal ketat. Football Australia (FA) mengadopsi kode Anti-Doping yang selaras dengan World Anti-Doping Agency (WADA). Jika hasil laboratorium mengonfirmasi positif kokain, Volpato berisiko dihukum larangan bermain hingga empat tahun untuk pelanggaran pertama, tergantung klasifikasi zat dan konteks penggunaan. Kokain termasuk zat terlarang kategori S6 (Stimulan) yang dilarang hanya saat kompetisi, namun hukum pidana Australia memperlakukannya sebagai kejahatan terpisah dari sanksi olahraga.

Kepolisian New South Wales telah menangguhkan surat izin mengemudi (SIM) Volpato selama enam bulan secara administratif. Langkah ini terpisah dari proses pidana yang akan mengikuti hasil analisis sampel kedua di laboratorium. Menurut keterangan resmi polisi, penyidikan berlanjut sesuai kerangka hukum yang berlaku, dan status hukum Volpato tetap sebagai tersangka hingga sidang pengadilan.

Sassuolo, klub tempat Volpato bermain sejak musim 2023/2024, belum mengeluarkan pernyataan resmi hingga artikel ini ditulis. Klub Serie A biasanya menunggu kejelasan hukum sebelum mengambil tindakan disiplin internal, yang bisa berupa denda, penjaringan dari tim utama, hingga pemutusan kontrak sepihak jika melanggar klausul moralitas. Nilai transfer Volpato yang diperkirakan sekitar 5-7 juta euro kini terancam anjlok drastis.

Di konteks Indonesia, kasus ini mengingatkan pada serangkaian kasus narkoba yang melibatkan atlet nasional, termasuk sepak bola. Komisi Disipolin PSSI dan Badan Anti Doping Indonesia (BADI) menerapkan toleransi nol, namun tantangan utama tetap pada edukasi preventif dan sistem pendampingan kesehatan mental pemain. Liga 1 baru-baru ini memperketat tes narkoba acak, namun cakupan masih terbatas pada hari pertandingan.

Perbandingan dengan kasus internasional menunjukkan pentingnya pendekatan rehabilitatif di sisi represif. Liga Premier Inggris melalui Professional Footballers' Association (PFA) menyediakan program dukungan konfidensial untuk pemain yang berjuang dengan adiksi. Model serupa mulai diadopsi Liga Jepang dan Korea Selatan, dengan hasil menurunkan angka keterlibatan narkoba hingga 40% dalam lima tahun.

Langkah selanjutnya bergantung pada hasil laboratorium yang diperkirakan keluar dalam 4-6 minggu. Jika positif, Volpato akan menghadapi dua jalur hukum: pidana di pengadilan New South Wales dan disiplin di Football Australia serta FIFA. Nasib karirnya di usia 22 tahun — seharusnya masa emas fisik dan teknis — kini bergantung pada keputusan yang diambil di luar lapangan hijau.

Mengapa Ini Penting

Kasus Volpato menyoroti kerentanan pemain muda level elit terhadap tekanan performa dan gaya hidup hedonistik di luar lapangan. Bagi sepak bola Indonesia, ini jadi pelajaran krusial: sistem pendampingan kesehatan mental dan edukasi anti-narkoba harus ditanam sejak usia akademi, bukan hanya tes reaktif saat kompetisi. Sanksi ganda — hukum pidana dan disiplin olahraga — menciptakan efek jera yang lebih kuat, namun rehabilitasi tetap kunci agar karir tidak berakhir tragis. Klub Indonesia perlu mengadopsi program dukungan konfidensial mirip PFA Inggris untuk melindungi aset pemain mereka.

Sumber Asli
CNN Indonesia Olahraga
Tanggal
25 Juli 2026
Waktu Baca
5 menit