Kiper andalan tim nasional Belgia, Thibaut Courtois, memberikan apresiasi tinggi terhadap mentalitas dan keyakinan rekan-rekan setimnya setelah berhasil melakukan comeback dramatis saat menumbangkan Senegal dengan skor 3-2. Pertandingan babak 32 besar Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Stadion Lumen Field, Seattle, tersebut menjadi bukti ketangguhan mental skuad asuhan pelatih Belgia di bawah tekanan yang luar biasa.
Dalam laga yang berlangsung dengan intensitas tinggi, Belgia sempat berada dalam posisi sulit setelah tertinggal dua gol lebih awal dari Senegal. Courtois mengakui bahwa Senegal tampil sangat impresif sejak menit pertama, memberikan tekanan konstan yang sempat membuat lini pertahanan Belgia kewalahan dalam mengembangkan pola permainan mereka yang biasanya lebih tenang.
"Ini adalah pertandingan yang sangat gila dan sulit. Kami menghadapi lawan yang memiliki kualitas fisik, kecepatan, dan teknik yang sangat mumpuni. Pada babak pertama, kami terlalu sering membuang bola melalui umpan-umpan panjang yang justru memudahkan lawan mengantisipasi pergerakan kami," ungkap kiper berusia 34 tahun tersebut usai laga berakhir.
Namun, titik balik terjadi setelah Belgia berhasil mencetak gol pertama. Courtois menuturkan bahwa momentum tersebut menjadi katalisator kepercayaan diri tim. Para pemain mulai menyadari bahwa dengan beralih ke permainan kombinasi umpan pendek dan pergerakan antar lini yang lebih cair, mereka mampu membongkar pertahanan rapat Senegal yang sebelumnya terlihat sangat kokoh.
Courtois juga menyoroti peran krusial para pemain pengganti yang masuk dari bangku cadangan. Menurutnya, kemenangan ini merupakan hasil kerja keras kolektif, bukan sekadar sebelas pemain yang turun sejak menit pertama. Kontribusi pemain pelapis terbukti menjadi pembeda signifikan ketika tim membutuhkan energi baru dan kreativitas di tengah ketatnya ruang gerak yang diberikan oleh lawan.
Meski suasana ruang ganti dipenuhi dengan kegembiraan atas kemenangan dramatis ini, Courtois menegaskan bahwa skuad Belgia tidak boleh jemawa. Pelatih telah memberikan instruksi tegas agar para pemain segera mengalihkan fokus ke pertandingan berikutnya. Perjalanan di turnamen masih panjang, dan setiap laga di fase gugur menuntut standar konsentrasi serta disiplin yang jauh lebih tinggi daripada sebelumnya.