CONCACAF mengambil sikap tegas menolak rencana FIFA menjual saham Piala Dunia kepada pihak swasta. Keputusan bulat itu diambil setelah 41 negara anggota menggelar rapat pada Kamis, 30 Juli 2025 waktu setempat.
Dalam rilis resminya, CONCACAF menegaskan penolakan terhadap proposal penjualan saham kompetisi FIFA, termasuk Piala Dunia, ke tangan investor. Ini bukan sekadar gestur simbolis. CONCACAF memperkuat posisi mereka dengan menugaskan anggota dewan FIFA dari kawasan tersebut untuk mendesak pemberian dana bagi pengembangan sepak bola di wilayah mereka.
Lebih jauh, CONCACAF meminta perwakilan mereka di dewan FIFA mengingatkan Presiden FIFA Gianni Infantino agar senantiasa berpedoman pada statuta organisasi. Perintah itu mencakup satu poin krusial: memastikan setiap keputusan melalui proses tata kelola yang benar melalui staf dan dewan FIFA.
Rencana Infantino memang menuai kontroversi sejak pertama kali mencuat. FIFA berencana menjual sebagian saham kompetisi-kompetisi unggulan mereka, termasuk Piala Dunia, kepada investor swasta. Gagasan ini mengejutkan banyak pihak karena Piala Dunia selama ini dianggap sebagai aset suci milik federasi dan komunitas sepak bola global.
Yang makin memperkeruh suasana adalah tekanan yang diterapkan Infantino. Presiden FIFA asal Swiss itu memberikan deadline kepada setiap negara anggota untuk segera menentukan sikap. Tak hanya itu, Infantino juga mengingatkan bahwa negara yang menolak proposal ini tidak akan menerima dana senilai US$40 juta jika rencana tersebut akhirnya terwujud.
Tekanan semacam ini menuai kritik tajam. Banyak pengamat menyebutnya sebagai bentuk koersi terhadap negara-negara kecil yang sangat bergantung pada pendanaan FIFA untuk mengembangkan infrastruktur sepak bola mereka. Sinyal yang dikirim Infantino jelas: setuju atau kehilangan pendapatan.
Bagi industri sepak bola global, penolakan CONCACAF membuka front perlawanan yang signifikan. Konfederasi ini bukan pemain kecil. Mereka mencakup negara-negara dengan pasar sepak bola terbesar di dunia, termasuk Amerika Serikat yang akan menjadi tuan rumah Piala Dunia 2026 bersama Kanada dan Meksiko. Tanpa dukungan CONCACAF, rencana Infantino jelas terhambat.
Situasi ini juga relevan bagi Indonesia. Sepak bola Tanah Air masih sangat bergantung pada pendanaan dari FIFA melalui program FIFA Forward. Jika proposal penjualan saham ini lolos dan sistem pendanaan berubah, PSSI bisa kehilangan akses terhadap dana pengembangan yang selama ini menjadi penopang utama pembinaan talenta muda dan perbaikan infrastruktur.
Indonesia, sebagai negara dengan populasi besar dan potensi pasar sepak bola yang menggiurkan, berada dalam posisi unik. Di satu sisi, masuknya investor swasta ke Piala Dunia berpotensi meningkatkan nilai komersial dan distribusi pendapatan. Di sisi lain, ada kekhawatiran bahwa keputusan strategis akan lebih menguntungkan negara-negara besar dengan pasar televisi dan sponsorship yang lebih besar.
Kutipan resmi CONCACAF dalam rilis mereka berbunyi tegas: "Menolak proposal." Tidak ada ruang untuk interpretasi lain. Lebih lanjut, mereka menulis bahwa anggota dewan FIFA dari kawasan itu diinstruksikan untuk berdialog dengan FIFA guna menentukan bagaimana cadangan dana bisa digunakan meningkatkan pendanaan FIFA Forward.
Konflik ini mencerminkan ketegangan yang lebih besar dalam tata kelola sepak bola global. Infantino sejak awal kepemimpinannya memang dikenal ambisius dalam mengkomersialisasi kompetisi FIFA. Proposal penjualan saham ini hanyalah salah satu dari serangkaian langkah yang menuai perlawanan dari berbagai konfederasi.
Ke depannya, pertarungan ini belum berakhir. CONCACAF secara eksplisit menugaskan anggota dewan mereka untuk terus berdialog dengan FIFA. Ini sinyal bahwa mereka siap berjuang dalam jangka panjang. Konfederasi lain seperti UEFA juga sebelumnya menyuarakan keberatan terhadap gagasan serupa, meski dengan nuansa yang berbeda.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, ini adalah напоминание bahwa kekuasaan dalam sepak bola global tidak hanya bergantung pada prestasi di lapangan. Keputusan siapa yang menguasai aset komersial Piala Dunia akan menentukan bagaimana pendapatan didistribusikan, bagaimana hak siar ditawarkan, dan pada akhirnya, seberapa besar kontribusi yang kembali ke negara-negara anggota FIFA.
Jika Infantino gagal mengumpulkan mayoritas suara, rencana ini bisa tertunda atau bahkan dibatalkan. Namun jika tekanannya berhasil, dampaknya akan melampaui ranah olahraga. Piala Dunia bisa berubah dari ajang olahraga yang dimiliki bersama menjadi komoditas investasi, dan itu akan mengubah wajah sepak bola global selamanya.