Como secara mengejutkan berhasil menduduki puncak klasemen sementara Liga Italia setelah menundukkan Genoa dengan skor telak 4-1 di Stadion Luigi Ferraris, Sabtu (5/9). Kemenangan impresif ini membawa skuad asuhan Cesc Fabregas mengoleksi tujuh poin dari tiga pertandingan awal, menempatkan mereka tepat di atas deretan raksasa Serie A seperti AS Roma, Inter Milan, dan Juventus.
Pertandingan berjalan sengit sejak peluit awal dibunyikan. Como yang tampil sebagai tim tamu langsung mengambil inisiatif serangan melalui pergerakan Yan Couto, Lucas Da Cunha, dan Nico Paz. Namun, justru Genoa yang terlebih dahulu memecah kebuntuan pada menit ke-19. Milutin Osmajic sukses mengonversi umpan matang dari Lorenzo Colombo untuk membawa tuan rumah unggul sementara.
Keunggulan Genoa hanya bertahan singkat. Enam menit kemudian, Martin Baturina melepaskan tembakan jarak jauh spektakuler yang gagal diantisipasi kiper Justin Bijlow. Gol penyama kedudukan ini menjadi momentum kebangkitan bagi Como. Pada menit ke-30, Assane Diao membawa tim tamu berbalik memimpin setelah memanfaatkan bola liar di depan gawang Genoa.
Dominasi Como berlanjut hingga akhir babak pertama. Nico Paz memperlebar jarak menjadi 3-1 pada menit ke-40 melalui skema serangan terorganisir yang diawali assist dari Yan Couto. Memasuki babak kedua, I Lariani tetap tampil disiplin dan menjaga intensitas permainan meski sudah unggul dua gol.
Gol penutup kemenangan Como hadir pada menit ke-78. Assane Diao mencatatkan gol keduanya dalam laga ini setelah memaksimalkan umpan silang dari Moise Kean. Skor 4-1 bertahan hingga laga usai, sekaligus memastikan Genoa terbenam di dasar klasemen dengan catatan selalu kalah dalam tiga laga pembuka musim ini.
Bagi Como, pencapaian ini merupakan sinyal bahaya bagi tim-tim besar Italia. Keberhasilan Fabregas dalam meramu taktik yang agresif terbukti efektif dalam memanaskan persaingan papan atas. Kolektivitas lini depan yang dipimpin oleh pemain seperti Paz dan Diao menjadi kunci sukses Como dalam menembus pertahanan lawan.
Di sisi lain, keterpurukan Genoa menyoroti masalah serius pada lini pertahanan mereka yang telah kebobolan cukup banyak dalam tiga laga awal. Analisis statistik menunjukkan bahwa koordinasi antar pemain belakang Genoa belum padu, sehingga memudahkan lawan untuk melakukan transisi cepat ke area penalti.
Fenomena Como di awal musim ini sangat menarik bagi audiens Indonesia, terutama mengingat kepemilikan klub tersebut yang memiliki keterikatan dengan investor asal Indonesia. Keberhasilan mereka memuncaki klasemen Serie A tentu memberikan kebanggaan tersendiri bagi penggemar sepak bola tanah air yang mengikuti perkembangan klub tersebut.
Kondisi ini juga mencerminkan dinamika sepak bola modern di mana klub dengan manajemen yang tepat dapat bersaing dengan tim-tim mapan. Pendekatan Fabregas dalam membangun skuad yang memadukan pemain muda berbakat dan pengalaman terbukti mampu memberikan hasil instan di kompetisi seketat Liga Italia.
Ke depannya, tantangan bagi Como adalah konsistensi. Menempati posisi puncak di awal musim memang prestisius, namun mempertahankan performa tersebut hingga paruh kedua liga akan menjadi ujian sebenarnya bagi kedalaman skuad yang dimiliki Fabregas.
Tren positif ini diharapkan dapat berlanjut saat mereka menghadapi lawan-lawan yang lebih berat di pekan-pekan mendatang. Jika mampu menjaga ritme permainan serupa, bukan tidak mungkin Como akan terus menjadi kuda hitam yang merusak dominasi klub-klub papan atas Italia musim ini.
Secara keseluruhan, kemenangan atas Genoa bukan sekadar tiga poin tambahan. Ini adalah pernyataan bahwa Como siap bersaing di level tertinggi dan tidak sekadar menjadi pelengkap dalam peta persaingan Scudetto musim 2026/2027.